Seni, Medium Aktualisasi Diri Penyandang Difabel Mental

0
22

Seni tak sekadar menjadi kegiatan untuk menyalurkan ekspresi, menurut American Art Therapy Associations, seni dapat dimanfaatkan sebagai metode terapi mental dan fisikal manusia. Hal ini pula yang diyakini, Timotius Suwarsito atau yang akrab disapa Kak Toto yang seorang pengajar seni murni di Hadiprana Art Center Jakarta.

Sejak tahun 2001, Ia telah mengajar seni, khususnya untuk anak-anak penyandang difabel mental. Bagi pria asal Jawa Tengah ini, dengan melakukan kegiatan seni, anak-anak yang mengalami difabel mental seperti autisme, skizofrenia, dan bipolar, dapat melatih kepekaan motorik serta psikologis, melalui medium menggambar atau mewarnai.

“Untuk anak-anak kebutuhan khusus ini, seni bisa meningkatkan basic drawingnya dan menjadi lebih fokus dan tenang. Skill artnya juga lebih terasah,” paparnya di sela mengajar.

Di sudut kelas, nampak Kezia, salah seorang murid Kak Toto terlihat begitu asyik memainkan pensil gambarnya. Menyandang autisme sejak 21 tahun lalu, dara asal Medan ini tak lantas berhenti untuk berkarya, Ia cukup intens menjadi pameris dalam beberapa pameran seni rupa. “Kezia paling suka gambar binatang, suka menggambar dari empat tahun lalu,” cerita gadis berkulit putih gading itu sembari membuat sketsa.

Pendekatan Afeksi sebagai Metode

Dalam mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, Kak Toto mengaku tak memiliki metode khusus. Kemampuan seni yang ia punya secara otodidak, kesabaran, dan pendekatan secara psikologis dan afeksi, menjadi bekal pria yang baru saja pulang dari negeri sakura tersebut, dalam mengajar murid-muridnya.

Gak ada metode khusus, saya kasih contoh sketsa lewat handphone, nanti mereka bisa langsung tiru. Gak ada benar salah dalam berkarya, mereka bebas berkreasi,” sambung pria berparas teduh tersebut.

“Saya sih cuma berharap ke depannya mereka bisa mandiri, punya prestasi, dan membanggakan kedua orang tuanya. Sekaligus juga jadi bukti bahwa penyandang mental disorder bisa tetap berkarya.” pungkas pengurus Yayasan Art Brut Indonesia itu, sembari merekahkan senyum simpul.

SHARE
Selira Dian
Jurnalis paruh waktu. Pembaca purna waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here