Kolaborasi Kopi, Buku, dan Diskusi

0
37

Aroma sisa asap rokok, kopi, kertas, dan kayu, tercium kuat saat baru memasuki ruangan. Pendingin ruangan yang tetap menyala membuat aroma itu tak mau keluar dari ruangan yang hampir semuanya tertutup.

Suara dangdut sayup keluar dari speakerkecil telepon genggam bercampur pariwara televisi yang terdengar jelas. Tak lama, kaset pita lawas diputar melalui mini compo yang tersedia di sudut ruangan. Semua aroma dan suara saling menabrak, namun tidak menggganggu satu sama lain.

Beberapa orang ada di ruangan itu. Saat seseorang lainnya baru masuk, si empunya kedai dengan sigap menawari pesanan.

Setelah si empunya kedai membuatkan pesanan pelanggan, suasana kembali tenang. Anak kecil menghabisi sisa makanannya berlauk satay, seorang tua dengan rambut sepenuhnya putih duduk tenang mendengar dangdut, seorang perempuan serius dengan telepon genggamnya, dan dua orang nampak akrab sambil menonton televisi. Sementara, si empunya ruangan kembali asyik merapikan dan memotret buku-buku yang berserak di mana-mana.

Tempat itu merupakan kedai kopi bernama Epikurian: Unbreakable Coffee. Terletak di pinggir Jalan Raya Lenteng Agung, di samping kampus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, neon boxberukuran sekira 50 cm x 50 cm, telah menandakan adanya kedai tersebut.

Dari luar, kedai kopi itu jelas meembus ke dalam. Hanya kaca yang membatasinya, sehingga orang-orang di luar bisa melihat ke dalam, begitu pula sebaliknya. Di bagian teras depan, tergantung sepeda ontel di dinding berbahan kayu. Di bawahnya, menu-menu kopi yang ada tertulis jelas dengan ornamen piringan hitam bekas.

Butuh menapaki beberapa anak tangga untuk memasuki ke dalamm kedai kopi. Namun itu bukanlah pekerjaan yang sulit. Pintunya dapat dibuka dengan cara digeser.

Setelah di dalam, barulah terasa aroma yang sebenarnya. Nuansa dekorasi serba kayu masih terasa kental. Berbagai alat elektronik bekas tertumpuk di sebuah meja. Ribuan buku terpajang di rak yang mengelilingi ruangan, lantai, dan meja. Semua tampak tak beraturan.

Hanya meja bar yang tampak rapi tersusun biji kopi arabika Blue Batak, Gayo, Bengkulu, dan Flores Golo Pau. Di belakang meja bar, susunan gelas beraneka bentuk pun siap menjadi wadah kopi yang akan digiling bila konsumen datang. Di dinding belakangnya, menu-menu yang tersedia tertulis berserta harganya.

Seperti umumnya kedai kopi kekinian, menu utama yang ditawarkan Epikurian: Unbreakable Coffee merupakan kopi-kopi Nusantara. Ragam kopi itulah yang nantinya disajikan dengan beragam metode. Tubruk, espresso, sanger, latte, hingga coffee cone. Sedangkan menu camilan pun tak ketinggalan. Mulai dari ketan, roti bakar, hingga nasi bakar tersedia di tempat ini.

Tak perlu khawatir mengenai isi dompet. Pasalnya, harga yang ditawaran Epikurian masih cenderung murah, berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 25 ribu untuk camila atau kopi. Tak heran, kedai yang ukurannya tak lebih besar dari lapangan badminton ini selalu terlihat penuh oleh pengunjung yang datang. Bukan karena ratusan pengunjung yang datang, melainkan lebih kepada suasana ruangan yang kecil sehingga terkesan dekat.

Di sudut ruangan juga tersedia piano bermerek Lowrey. Bukan hanya untuk pajangan, piano itu bebas dimainkan siapapun yang ingin mencobanya. Tanpa biaya tambahan, tentunya. Sementara di sudut lainnya, sebuah radio dengan pemutar kaset tersedia untuk memutar kaset pita maupun compact disc yang ada.

Selain kopi, buku menjadi produk utama yang ditawarkan Epikurian. Kedai kopi berkonsep perpustakaan ini memang menjadi favorit anak muda, khususnya mahasiswa, untuk nongkrong. Bagaimana tidak, segala keperluan mereka tersedia di sini. Koneksi internet, buku, dan tentunya kopi sebagai teman mengobrol.

Meski semua buku bisa dibaca gratis, namun buku-buku itu juga dijual bagi mereka yang ingin memilikinya. Karena itu, selain dari kopi, buku merupakan nyawa utama Epikurian untuk terus hidup dan berkembang. Karena melalui buku, kedai kopi ini bisa menjadi tempat yang ramai dikunjungi. Sebaliknya, membaca buku sambil menyuruput kopi merupakan satu kenikmatan tersendiri.

Tak selalu harus berurusan dengan kopi dan buku untuk datang ke Epikurian. Ada saja orang yang hanya datang untuk memesan camilan, sambil menikmati suasa di dalam ruangan dan asyik dengan dunianya sendiri sambil memainkan telepon genggam. Tak ada keharusan untuk menyeruput kopi atau membaca buku. Semua dapat melakukan aktivitasnya sendiri-sendiri tanpa perlu terganggu dengan konsumen lainnya.

Sosok di Balik Epikurian

Sosoknya tegap, meski tinggi badannya hanya sekitar 160 cm. Perawakan wajahnya sekilas nampak menyeramkan dengan kumis dan jenggot tebal yang menyambung hingga ke cambang. Namun, senyumnya yang lebar membuat kesan seram pria berkulit gelap itu luntur seketika.

Mirza Jaka Suryana (39) adalah sosok di balik Epikurian: Unbreakable Coffee, kedai kopi berkonsep perpustakaan. Sejak 2015, Jaka telah membuka kedai kopi di Jalan Raya Lenteng Agung. Namun, kedai pertamanya itu hanya bertahan sekitar satu tahun. Lokasi yang kurang strategis membuat dirinya terpaksa gulung tikar.

Saat masa pailit itu, Jaka tak kehilangan akal. Dari rumah kontrakan yang disewa bersama istri dan tiga anaknya, ia menjual buku-buku secara daring melalui media sosial. Sebagian besar buku yang dijual merupakan buku lawas dan bekas. Meski begitu, banyak orang yang berminat membelinya. Hingga akhirnya, Jaka beberapa kali membuka lelang untuk buku-buku miliknya.

Asyik menjual buku, tak membuat hasrat Jaka berjualan kopi menurun. Pada 2017, ia bahkan sempat membuat sepeda kopi keliling. Dengan sepeda listrik, berbagai tempat ramai ia kelilingi untuk menjajakan kopinya. Tentu, dalam sepeda beberapa buku ia bawa untuk dapat dibaca para pelanggannya.

Konsep sepeda kopi keliling hanya berjalan sekitar enam bulan, sebelum akhirnya tumbang juga. Selain membutuhkan tenaga ekstra, menjual kopi berkeliling menurutnya kurang begitu efektif untuk menyebarkan gagasannya. Pasalnya, keterbatasan ruang dan waktu di jalanan tak bisa disamakan dengan berada di dalam ruangan.

Akhirnya, pada November 2017 Jaka memutuskan untuk kembali menyewa sebuah ruko. Letaknya masih di Jalan Raya Lenteng Agung, tetapi posisinya berbeda dari kedai sebelumnya. Jika di kedai pertama jumlah buku yang ada masih terbatas, kini kedainya dipenuhi dengan buku. Setidaknya, lebih dari 10 buku.

Baginya, kopi merupakan medium. Tujuan utamanya adalah berbagi. “Kopi dan buku itu hanya alasan untuk membuat betah berkumpul. Dengan itu, mereka bisa berbagi, bicara, dan bertukar ide,” katanya awal bulan lalu.

Menurut dia, banyak warung kopi yang berkonsep modern. Namun, tidak banyak yang digunakan sebagai tempat bertukar gagasan. Dengan adanya buku tambahan referensi bagi orang yang datang untuk berdiskusi, gagasan yang dikeluarkan akan menjadi lebih relevan.

Tujuan Jaka sebenarnya sederhanya. Pria lulusan Ilmu Hubungan Internasional itu ingin mejadikan kedai kopi miliknya sebagai sarana orang-orang untuk berkumpul. “Orang bisa datang ke sini, berbagi gagasan, dan membuat aksi, aksi yang memiliki nilai kemanusiaan,” katanya.

Tentu demi mewujudkan idenya tersebut, Jaka tak bisa bertumpu hanya pada pemikiran-pemikiran revolusioner. Melainkan, terlebih dahulu ia harus memiliki modal ekonomi untuk setidaknya bisa menghidupi dirinya sendiri. Dengan berjualan kopi dan buku itulah, kebutuhan sehari-harinya dapat dipenuhi. Meski belum bisa dibilang mapan, setidaknya kebutuhan bulannya bisa terpenuhi.

Ia bisa saja bekerja pada perusahaan untuk menjamin kebutuhannya. Namun, ia mengaku tak mendapatkan kebebasan ketika bekerja di sebuah organisasi yang mapan. Sementara dengan berjualan, ia bisa mengbrol dengan banyak orang, yang merupakan kesenangannya.

Dengan kedai kopi yang bertujuan sebagai tempat interaksi, Jaka berharap bisa juga membangun kekuatan ekonomi bagi orang-orang yang datang ke tempatnya. Misalnya, ia juga mempersilakan orang yang ingin ikut menjual buku-bukunya, atau mereka yang ingin menitipkan barang untuk dijual.

Karena, menurut dia, sebuah aksi tidak akan dilakukan dengan maksimal jika kondisi ekonomi  masih belum terpenuhi. “Jadi interaksi yang terjadi tidak hanya ngobrol dan membuat aksi yang sifatnya di awang-awang, tapi lebih ke perbaikan ekonomi secara nyata,” kata pria yang memiliki tiga anak ini.

Dari situ, Jaka mendapatkan kepuasan tersendiri. Baginya, rasa puas itu datang ketika orang lain bisa maju secara ekonomi, pemikiran, dan pergerakan. Karena menurut Jaka, bisnis itu bukan sekadar bisa mengeruk keuntungan besar dengan modal sekecil-kecilnya. Ada sesuatu yang di balik bisnis itu yang harus diperjuangkan, ide untuk membangun kemampuan ekonomi dan literasi.

Selain itu, melalui Epikurian, Jaka juga menawarkan konsep kopi tanggungan, di mana setiap pelanggan bisa membayar dua gelas kopi untuk satu porsi yang nantinya segelas kopi yang sudah terbayar bisa dinikmati orang yang tak memiliki uang. Ia pun memiliki program barter buku untuk orang-orang yang ingin memiliki buku.

“Keuntungan itu penting, tapi kita dapat untung kecil tapi tetap berjalan itu sudah berhasil. Walaupun gue belum bisa dibilang berhasil. Cara gue memperlakukan konsumen dan teman kerja belum efektif, tapi setidaknya dari ngobrol kita tahu ada yang salah, ada yang harus diperbaiki,” katanya.

Menurut dia, permasalahan keuangan itu akan selalu ada. Apalagi dengan tiga anaknya yang masih kecil. Namun, Jaka menjelaskan, berjualan merupakan salah satu bentuk penghargaan dirinya kepada keluarga. Tentu saja, dengan berjualan ia juga tetap memegang gagasannya untuk memberikan kesenangan kepada orang lain.

“Prinsip Epicurus (filsuf Yunani yang menjadi inspirasi nama Epikurain) itu bukan elu mendapatkan kesenangan untuk dinikmati sendiri, tapi harus dibagi. Ke depan gue ingin gerakan semakin masif,” katanya.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here