Perspektif Seksualitas Perempuan dalam Panggung Teater

0
272
Photo: darahrouge.com

Hubungan laki-laki dan perempuan, termasuk pernikahan, dengan segala seluk-beluknya masih harus dibedah dan dirunut sebagai suatu ketegangan yang di dalamnya terkandung isu-isu lain yang menyentuh aspek lain dalam hubungan yang lebih luas. Dalam masyarakat, citra perempuan masih berkubang dalam posisi subordinat, sebagai objek dan tak memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri. Di dalam teater, isu ini menjadi perhatian Kerensa Dewantoro dan Imang Susu, hingga menghadirkannya dalam pertunjukan Blue is the Colour of Love.

Membuka pertunjukan dengan memasak sambel diiringi lagu dangdut “Sakitnya Tuh di Sini”, adalah usaha Kerensa untuk membawa semua penonton pada persepsi bahwa cerita yang muncul pada Blue is The Colour of Love, adalah juga cerita perempuan Indonesia dalam bingkai sebuah hubungan: pernikahan, pacaran, one night stand, serta kaitannya dengan stereotype yang terbentuk dan melekat pada perempuan ketika berada dalam sebuah hubungan. Meski wajahnya menampakkan rasa kesal dan tidak suka pada lagu dangdutnya padahal ia yang menyetel sendiri dari laptop Mac-nya, namun tetap saja ia menari pada lagu itu dan meneruskan memasak. Menonton adegan pembuka, menangkap bahwa adegan itu mewakili para perempuan yang terjebak pada satu hubungan, tidak lagi menikmatinya, tapi terus menerus menggoreng cabai dan bawang yang tadinya pedas dan segar hingga menjadi terlalu benyek dan gosong.

Gagasan mengenai suatu hubungan yang ditampilkan pada cerita sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari perempuan, jelas karena pertunjukan ini dimainkan oleh satu pemain perempuan, maka sudut pandangnya adalah sudut pandang perempuan dengan laki-laki sebagai sosok yang meski diletakkan pada posisi yang pasif namun tetap diceritakan dan akhirnya menimbulkan sikap dan citra tertentu pada si perempuan. Tetap saja karena setiap hubungan adalah resiprokal. Kerensa sempat menyindir tentang status pernikahan menjadi hal yang oleh beberapa kalangan perempuan menjadi suatu target tertentu sehingga mereka berani menetapkan target waktu untuk menikah padahal belum punya pacar. Sudut pandang cerita yang dikembangkan Kerensa bergulir pada sindiran juga mengenai kondisi sebuah hubungan pernikahan yang “baik-baik saja”, adalah pembenaran akan keadaan pernikahan yang membosankan karena terlalu normal dan menjadi stagnan. Tetapi memang, untuk menampakkan kesan bahwa sebuah pernikahan terlihat “baik-baik aja”, sosial media dipakai sebagai alat pencitraan, dan kemunculan foto-foto selfi pada setiap fasenya adalah cara untuk memberi tanda bahwa kehidupan berlangsung normal. Kerensa memang mencoba membaca perilaku “jaman sekarang” ini dengan menampilkannya sehingga semua penonton bisa berefleksi dari sana.

Bentuk yang dipilih Kerensa untuk menunjukkan kekuasaan perempuan atas seksualitasnya, memang jauh dari image akan perempuan yang anggun dan sensual, melainkan seorang perempuan yang dengan berbagai cara mencoba untuk memancing perhatian laki-laki sehingga akting serta gestur yang muncul malah memancing tawa, meski yang tersindir malah seharusnya kaum laki-laki juga, karena bukankah pada sebuah masyarakat yang memandang seks sebagai satu hal yang tabu tapi diam-diam mencari-carinya dan meletakkan arti tersendiri bahwa seks sebagai anekdot juga adalah suatu kenikmatan tersendiri. Ada simbol-simbol yang jelas dipakai seperti aksesoris cowgirl, dengan tiga topi, rompi beraksen fringes, dan cambuk yang menyambar ke berbagai arah. Sebagai cowgirl, Kerensa duduk di atas bola biru, bergerak naik-turun sambil mulutnya mengeluarkan bunyi binatang.

Tampak sekali usaha pada pertunjukan ini untuk mengedepankan perspektif bahwa perempuan juga bisa punya perilaku seksual yang dominan. Tapi, pada masyarakat yang masih melihat bahwa perempuan sebagai objek seksual yang didambakan, dominasi perempuan justru sering menjadi bumerang bagi si perempuan, dan menghasilkan citra negatif pada diri si perempuan sendiri. Ini adalah moralisme palsu yang terbentuk pada masyarakat yang patriarkis, bahwa perempuan tak seharusnya menjadi hedonistik dalam hal seksual. Dalam lingkungan patriarkis, laki-laki bisa dengan mudah merasa menjadi pusat segalanya. Maka perempuan yang dominan dalam seksualitasnya beresiko kehilangan respek dan dianggap sebagai perempuan gampangan. Tidak hanya dari laki-laki, tapi juga dari sesama perempuan. Kerensa menampilkannya dalam cerita dengan hubungan ibu dan anak perempuannya. Si ibu, yang dimunculkan Kerensa dengan berhasil mengubah gestur, tone suara dan ekspresi, mempersalahkan saat ia berani memilih untuk mengakhiri pernikahannya, lalu keluar dan mencari pemenuhan hasrat. Perempuan tak bisa diterima sebagai manusia biasa seutuhnya yang memiliki hasrat untuk dicintai, tapi sebagai sosok yang seharusnya menekan semua hasrat badaniah yang muncul.

Pada akhir pertunjukan, bola biru diangkat tinggi bersamaan dengan kalimat terakhir, “Tuhan tak bisa menolong dari kebodohan manusia saat satu-satunya kesalahan adalah pencarian akan cinta.”
Dalam diskusi setelah pertunjukan, Kerensa dan sutradara, Imang Susu, menekankan bahwa Blue is the Colour of Love menyajikan perspektif lain dari pencarian cinta seorang perempuan dalam lingkup patriarkis. Kesadaran perempuan akan hak tubuhnya harus dimiliki oleh si perempuan sendiri dan menjadi subjek. Tujuannya bukan untuk laki-laki lagi, melainkan untuk membentuk suatu kesetaraan yang resiprokal.

Bentuk teater yang ditampilkan hadir dengan kelengkapan elemen pertunjukan seperti set panggung, musik digital dan tata lampu. Beberapa tanggapan yang muncul dari penonton, mempertanyakan fungsi elemen-elemen pertunjukan untuk memperkuat jalan cerita, karena dari beberapa adegan, perpindahan lampu terasa kurang mulus, dan si pemain sendiri yang harus mengganti track lagu digital yang dimainkan. Sembilan puluh persen bahasa yang digunakan juga adalah bahasa Inggris, meninggalkan pekerjaan rumah bagi Kerensa dan Imang Susu untuk mengalihbahasakan teks pertunjukan ke bahasa Indonesia, termasuk jokes yang sangat kebarat-baratan, dengan jokes yang lebih mudah diterima oleh masyarakat Indonesia dan memiliki muatan lokal, jika memang ingin membawakan pertunjukan dengan berorientasi pada audiens di daerah.

Judul yang dipilih juga sangat metafor, warna biru memiliki banyak asosiasi psikologis dan gender, padahal aspek-aspek dalam teks sangat banal dan sehari-hari, bahkan cenderung remeh temeh, namun memiliki kekuatan untuk merepresentasikan posisi perempuan di masyarakat terutama pada tataran domestik. Biru dalam psikologis adalah warna yang membawa efek menenangkan. Tapi kontradiktif dalam pertunjukan ini, Kerensa membawa warna biru sebagai warna yang ternyata sangat kuat dan membutakan, membawa penontonnya kembali ke arah abu-abu dan meninggalkan pertanyaan yang menuntut kejujuran, bagaimana sebenarnya kita selama ini melihat posisi perempuan dalam suatu hubungan pernikahan?

Menonton Blue is the Colour of Love, adalah menonton perayaan akan seksualitas perempuan, sebagai suatu hal yang manusiawi dan selalu memiliki sisi hedonistik. Bukan sesuatu yang tabu karena standar ganda. Respek adalah mengenal sosok seseorang dengan utuh, bukan hanya tentang caranya mengekspresikan seksualitasnya.

Foto-foto oleh Andrea Fitrianto dan Raphael Dewantoro

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here