Tubuh Baru Arsip Propaganda

0
111
Foto: Maria Natasha

Membongkar arsip berarti membongkar lagi pola pikir yang sudah terbentuk selama ini. Mendengar lagi propaganda Jepang dari 76 tahun yang lalu dan menyelidiki lagi, rekonstruksi sejarah dari sudut pandang Teater Arsip.

Dalam rangkaian acara Teater Arsip, penyajian dokumentasi sejarah berupa fakta-fakta dan kejadian, bahkan garis waktu pada rentang antara 1942-1945 disajikan dengan bentuk instalasi, strategi yang berusaha mengejar pencapaian estetik dan mencari bentuk baru yang dekat dengan hal-hal yang jamak ditemui dalam lingkup kekinian, saat pameran dilangsungkan. Beberapa arsip sejarah yang merupakan jejak penjajahan Jepang diolah kembali, bahkan direproduksi agar bisa dilihat serta dipelajari dari sudut pandang berbeda.

Pernyataan mengenai sudut pandang baru dalam menanggapi sejarah muncul dalam instalasi berupa 10 bangku kayu yang permukaan tempat duduknya ditempeli tulisan yang menyebutkan garis waktu dan peristiwa-peristiwa yang menjadi catatan sejarah pendudukan Jepang. Namun daripada dibaca dengan cermat, banyak pengunjung yang justru memilih untuk menduduki bangku-bangku tersebut, atau bahkan menggeret dan memindahkannya. Ini memang sejalan dengan tujuan Antariksa yang memang menampilkan garis waktu ini sebagai objek yang bisa diintervensi langsung oleh pengunjung. Menurutnya, ini salah satu cara dalam memahami sejarah, yaitu mengabaikan kronologi, “Sepuluh bangku yang bisa diduduki dan dipindah-pindah ini adalah metafora untuk memahami sejarah sebagai sesuatu yang fungsional.”

Metafor muncul lagi pada instalasi Dokumen di Luar Cahaya. Periset dan kurator pameran, Antariksa, menyajikan dokumen berupa riwayat hidup singkat dari para seniman dan budayawan, yang oleh Jepang direkrut karena dianggap memiliki kekuatan untuk meneruskan pesan propaganda pada khalayak. Data para tokoh yang hadir dalam instalasi ini memang sesungguhnya memang pernah ‘digelapkan’ oleh pemerintah kolonial Jepang sebagai arsip militer. Maka, biodata para tokoh, di antaranya Raden Basoeki Abdullah, Affandi dan Soetan Takdir Alisjahbana, dicetak dengan tinta fluorescent atau black box dengan penerangan lampu UV pada kertas sebanyak 34.000 eksemplar yang bisa diambil oleh para pengunjung.

TEATER ARSIP 3 ½ Tahun Bekerja: Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang, 1942-1945 di teater kecil TIM yang berlangsung dari 07-10/05/2018. Program ini digagas oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia dengan kurator Antariksa.
(Foto : Eva Tobing)

Namun di luar black box, tulisan tentu tak terbaca dan para pengunjung seperti membawa pulang kertas kosong, tapi sebenarnya menyimpan biodata tokoh penting. Tetapi memang, sebuah objek tak hanya melulu bisa dipandang secara kasatmata, melainkan terkadang ia menyimpan makna lain yang bisa dilihat dengan cara yang tak biasa. Seperti kerja para periset, kata Antariksa, susah sekali mencari dokumen-dokumen itu.

Di seberang black box, masih di lobi Teater Kecil, berlangsung performance art “Purifikasi” oleh Haryo Hutomo. Salinan-salinan arsip iklan koran jaman pendudukan Jepang sedang diubah menjadi bioetanol melalui fermentasi dan destilasi. Prosesnya ditunjukkan lewat performance art durasional selama 3 ½ hari, yang dimulai 7 Mei 2018 jam 19.42 dan berakhir 10 Mei 2018 jam 19.45. Fotokopian koran diblender jadi bubur, lalu melewati proses fermentasi dalam toples-toples kaca untuk kemudian didestilasi.

“Idenya adalah bermain-main dengan spekulasi, bahwa sejarah bisa menjadi energi yang terbarukan. Salinan arsip sejarah ini, yaitu advertising di halaman belakang koran jaman penjajahan Jepang, sedang dikonstruksi ke bentuk baru, yaitu bahan bakar bioetanol meski oktannya rendah,” demikian paparan Haryo sebagai pernyataan pesan performance ini.

Sayang, proses destilasi tidak mengeluarkan hasil yang ditunggu. Tak ada zat bioetanol yang keluar dari pipa penyulingan. Mengenai ini, Haryo merunut, “Di ruangan seperti ini, api penyulingan sulit dikontrol stabil. Proses ini juga memang tidak menggunakan hitungan matematis yang detail. Jadi, meskipun hasil dalam bentuk apapun bisa terjadi, orientasi performance ini ada pada ide dan proses.”

Selama 3 ½ hari pameran, pengunjung tak secara langsung mendapat fakta mengenai kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan Jepang di Indonesia dan mungkin memicu trauma sejarah. Yang ditampilkan justru karya yang lahir dan menjadi gambaran mengenai keadaan kaum pekerja di jaman itu, serta alur propaganda yang dilancarkan Jepang melalui kegiatan seni dan budaya. Melihat dari arsip karya dalam pameran ini, propaganda yang dilakukan Jepang dalam kesenian memanfaatkan media massa, lukisan, sandiwara atau teater, musik, kesusasteraan dan film. Praktiknya dinaungi dalam organisasi kebudayaan bentukan Jepang, Keimin Bunka Shidoso. Arsipnya masih ada dan ditampilkan dalam bentuk reproduksi antara lain berupa poster-poster, berita, lukisan, sketsa, mural, film dramatic reading dan teater performatif. 

Film sebagai alat propaganda digunakan Jepang untuk menyasar kalangan masyarakat kelas pekerja, yang sebagian besar memang masih buta huruf. Pada film yang judulnya “Bekerdja”, yang dalam keseluruhan film ada tiga kaum pekerja yang sangat jelas disebut dan digelorakan semangat bekerjanya, yaitu kaum nelayan, tani, dan buruh pabrik. Ketiga kaum ini menyediakan pemenuhan kebutuhan dasar bagi orang Jepang, pertanian menghasilkan padi dan kapas untuk sandang dan pangan, nelayan menghasilkan ikan yang juga dibutuhkan Jepang, serta pembuatan kapal perang, buruh untuk menggenjot produksi alat berat.

Tanah Air kala itu punya sumber daya yang melimpah, namun kebanyakan pemuda terbawa pesona para tentara Pembela Tanah Air yang disegani orang sekampung, sehingga mereka juga berangan-angan untuk maju berperang. Film fiksi berjudul Djoeita di Desa mengerti betul keinginan para pemuda menjadi tentara, tapi tak semua pemuda bisa lolos seleksi dan persyaratan menjadi tentara PETA.

TEATER ARSIP 3 ½ Tahun Bekerja: Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang, 1942-1945 di teater kecil TIM yang berlangsung dari 07-10/05/2018. Program ini digagas oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia dengan kurator Antariksa.
(Foto : Eva Tobing)

Selain militer, tentu masih ada poros lain di desa yang musti tetap berputar, dan film ini mempropagandakan pentingnya kontribusi para petani di desa dalam membangun Asia Timur Raya. Menonton film-film jaman Jepang di masa sekarang, kita bisa menilai bahwa propaganda yang dilakukan Jepang adalah pendekatan pada unsur terkecil pada masyarakat, yaitu keluarga, dan disampaikan melalui aspek kehidupan sehari-hari, seperti pentingnya mandi dan mencuci tangan dan olahraga setiap hari. Pesan propaganda yang sebenarnya betul-betul berguna bagi hidup sehari-hari khalayak masa itu, namun disusupi pesan gamblang, “…gugur hancur kaum sekutu.”

Karya lukis dan sketsa yang ditampilkan pada pameran, yang menggambarkan suasana perang hanya muncul sekelumit, dalam empat drawing Saseo Ono. Karya Ono yang lebih seksi untuk dilihat adalah fase ketika ia mempelajari dan membuat sketsa tentang budaya rakyat di Jawa, pedagang di pasar, alat transportasinya dan perempuan-perempuan dari berbagai karakter. Ono membuat sketsa-sketsa seksi ini dari hasil pengamatannya tidak sebagai anggota militer, tapi sebagai seniman yang kagum akan pola kehidupan masyarakat di sekelilingnya, masyarakat Jawa kala itu. Seksinya karya ini adalah karena mereka merupakan rekaman keadaan jaman itu, yang sangat sehari-hari dan terasa akrab bahkan bisa dinikmati sekarang, puluhan tahun setelahnya, sebagai mesin imajinasi yang membawa penikmatnya ke masa itu dan membayangkan “Perempuan Berjenis-Jenis”, seliweran di jalan-jalan di Jawa pada masa perang, dengan gaya berbusana yang merupakan identitas kesukuan dan kebangsaan.  

Ketika Jepang kalah perang dan seluruh tentara Jepang diusir dari tanah air tanpa boleh membawa satu barang apa pun selain pakaian yang lekat di badan. Ono hanya berhasil membawa satu buku sketsa yang isinya ditampilkan salinannya di pameran ini. Saseo Ono adalah seniman penting karena, menurut tuturan Antariksa, Ono adalah sosok yang aktif di berbagai bidang, tak hanya sebagai seniman lukis, tapi juga aktif dalam produksi seni pertunjukan dengan membuat set panggung, kostum, naskah. Ono pada masa itu dikenal sebagai seniman yang dengan ramah dan memiliki cara yang bersahabat dalam memperkenalkan dan mengajarkan teknik-teknik sketsa, mural dan animasi pada seniman Tanah Air. Mural milik Ono, “Bersatoelah Bangsa Asia”, yang pada 1942 dibuat tiga hari setelah pendaratannya di Jawa lewat Serang direproduksi pada pembukaan pameran oleh Erwan Hersisusanto, dengan panjang sekitar empat meter dan dipajang di sebelah pintu masuk lobi.

Seniman visual kedua yang dipamerkan karyanya adalah Takashi Kono, seorang desainer grafis yang membuat desain poster-poster propaganda. Desain Kono juga dipakai pada media massa suratkabar pada masa itu, kala ia berkontribusi sebagai pengarah desain bagi para seniman Indonesia. Karya-karya Kono di Tanah Air juga menunjukkan perubahan gaya, dari tipografi dengan warna kontras antara latar dan huruf tebal yang tampak pada poster bergambar bibir merah di latar hitam dengan aksara Jepang yang terjemahannya adalah “Moeloet Ialah Pintoe Gerbang Bentjana” dan poster mata biru Kaukasian “Awas Mata-Mata Moesoeh” bergerak ke gaya dan teknik montase foto seperti pada poster “Kerdja! Oentoek Mentjapai Asia Raja” yang mengkomposisikan aktivitas masyarakat awam, dan poster “Keselamatan Terdjaga!” dengan profil tentara. Pergeseran gaya ini juga menandai perubahan tema propaganda Jepang, dari politik yang frontal, menuju hal kesehari-harian yang lebih akrab dengan rakyat banyak.

Dalam seni pertunjukan sandiwara, propaganda Jepang juga terkandung. Salah satunya pada naskah satu babak berjudul Bekerdja karya Ananta GS yang direproduksi dalam bentuk dramatic reading oleh Budi Sobar dan Rita Matumona. Dramatic reading awalnya ditampilkan pada malam pembukaan, dengan membuka prosenium dadakan di lobi Teater Kecil.

TEATER ARSIP 3 ½ Tahun Bekerja: Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang, 1942-1945 di teater kecil TIM yang berlangsung dari 07-10/05/2018. Program ini digagas oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia dengan kurator Antariksa.
(Foto : Eva Tobing)

Ceritanya adalah, pertengkaran suami-istri. Si istri menyuruh suami untuk berangkat bekerja, sementara suaminya malah cari alasan dengan pura-pura sakit. Suasana kampung dan karakter pekerja tani muncul dan mengalir di tengah keadaan riuh rendah. Lalu lalang pengunjung seperti hiruk pikuk penduduk di kampung. Suara bising blender dari performance Haryo yang sedang mencacah salinan arsip dan diperkuat pengeras suara, jadi gangguan yang efeknya malah mengubah atmosfir jadi semakin sibuk, seumpama kerja pabrik yang suaranya memekakkan. Bunyi-bunyian yang semakin tidak keruan ini menambah desakan dramatis pada pembacaan naskah.

Ketika pada hari terakhir perhelatan, dramatic reading dilakukan lagi pada panggung Teater Kecil, barulah ketahuan, ternyata naskah ini bergenre komedi dan ada lima persona. Masing-masing dramatic reader membawakan dua persona. Budi Sobar membawakan karakter Pak Gendoet dan Bang Djangkoeng, Rita Matumona membawakan karakter Mak Gendoet dan Gendoet, anak mereka. Dua karakter pria, dibacakan Budi Sobar dengan dua dialek yang berbeda, Sunda untuk Bang Djangkoeng dan Jawa untuk Pak Gendoet. Usaha ini jelas tampak, meski dialek terdengar kurang kental, serta perpindahan karakter yang kurang tajam. Mak Gendoet dan Gendoet, juga sayangnya dibacakan Rita Matumona dengan tone suara yang cenderung senada.

Meski naskah lama ini sudah melalui penyesuaian untuk ditampilkan dalam bentuk dramatic reading, namun sebagai naskah bergenre komedi, lelucon yang hanya tersampaikan dengan bentukan dialog belum sampai memecah tawa. Dialog-dialog panjang dilafalkan saling membalas tanpa tercipta grafik yang dinamis pasang surutnya. Tapi, tentu saja naskah ini adalah arsip langka yang berharga bagi para seniman teater  jaman ini, pembacaan dramatis ini jadi satu bagian penting dari Teater Arsip untuk memahami bahwa teater menjadi salah satu arteri Jepang untuk mengalirkan propaganda ke seluruh tubuh masyarakat.

Arsip-arsip jaman Jepang juga direproduksi ke dalam teater performatif oleh kolaborasi Artery Performa bersama Teater Afiks, dengan juga menggabungkan dua sutradara, Dendi Madiya dan Abi ML pada Membongkar Kardus Arsip. Dari terminologi teater performatif, tampaknya para kreator mencoba menggabungkan dua bentukan menjadi saling tergantung. Meski performatif, tapi tetap berjarak dengan penonton, dipertunjukkan di teater prosenium dengan segala kelengkapannya yang teknikal, termasuk menggunakan dramaturgi. Meski teater, tapi pengadeganannya mengejar bentuk performance dalam konteks fine art.

Tutur Dendi, “Kita mau memindahkan arsip lama ke tubuh sekarang. Para performer sebagai pemain, yang usianya masih sekitar 25 tahun, mencoba melakoni arsip dengan menggali kemungkinan makna. Konsekuensinya memang bentuk pertunjukannya menjadi di antara (teater dan performance).”

Pertunjukan dibuka dengan tumpukan map berisi kertas di panggung. Salah satu pemain membuka map sambil berkata, “Teater arsip adalah…” lalu pemain lain menyusul masuk panggung dengan membawa gadget, laptop dan handphone. Pembuka pertunjukan yang sekaligus pernyataan bahwa dalam proses produksi, arsip dilihat sebagai basis produksi rekaman peristiwa sejarah yang menjadi pijakan untuk memproduksi karya baru yang dekat dengan jaman sekarang. Misalnya, pada salah satu adegan, ada satu pemain yang mondar-mandir di panggung sambil mengepulkan asap rokok elektrik. Itu memperagakan ulang arsip film mengenai latihan penanggulangan bahaya kebakaran dan serangan bom sekutu, kata Dendi. Tentu saja penonton bisa menangkap pengadeganan itu sebagai sesuatu yang sama sekali lain. Pemindahan bentuk adegan film ke bentuk adegan di panggung juga belum tentu menjangkau tingkat artistik yang baru.

TEATER ARSIP 3 ½ Tahun Bekerja: Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang, 1942-1945 di teater kecil TIM yang berlangsung dari 07-10/05/2018. Program ini digagas oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia dengan kurator Antariksa.
(Foto : Eva Tobing)

Lain adegan, muncul juxtapose pada properti sepatu yang adalah patung karya Hanafi. Beberapa pemain berdiri berderet dan saling mempertukarkan sepatu. Kata Dendi, adegan ini mengenai, “Ada lagu tentang menabung dalam arsip yang kami terima. Orang jaman dulu menabung untuk menghidupi kebutuhan keluarga, anak muda jaman sekarang menabung untuk beli sepatu, memenuhi tuntutan gaya hidup.”

Usaha penggalian makna yang menghasilkan jejak reflektif di kalangan anak muda performer. Arsip sebagai dokumentasi seperti dicomot-comot untuk menciptakan adegan. Sepanjang pertunjukan, metafor muncul di sana-sini dan memaksa penonton menerka, arsip dari peristiwa apa yang sedang diperagakan. “Sejalan dengan pernyataan Antariksa, arsip tidak diperlakukan secara deduksi selayaknya di lingkungan akademis, maka pertunjukan ini juga tidak menuju satu pernyataan yang hitam putih mengenai setiap bentukan adegan dan metafor yang muncul.”

Mencermati 3 ½ tahun penjajahan Jepang dari sisi propaganda di bidang seni dan budaya, dengan modal dan kekuatannya sebagai pemerintah kolonial pada masa itu, Jepang mengalirkan propagandanya dengan mulus. Setidaknya  itulah yang tertangkap pada 3 ½ Tahun Bekerja. Meskipun propaganda demi kepentingan, tapi berhasil menimbulkan daya berkarya bagi orang Indonesia. Reproduksi karya pada tataran ide dan proses dari para seniman kekinian yang terlibat, sebenarnya sangat mungkin untuk menghasilkan relevansi yang lebih meruncing untuk kalangan kesenian, baik pelaku maupun penikmat.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here