Teater Mandiri Kembali Beraksi

0
121

Kamis, 15 Maret 2018, suasana Bentara Budaya Jakarta (BBJ) tak seperti biasanya. Layar besar berdiri di halaman depan dengan bangku-bangku dari kayu besar yang berjajar ditemani lilin yang dibalut pelepah pohon pisang. Malam itu, bukan acara nonton bareng film yang berlangsung di BBJ, melainkan pertunjukan Teater Mandiri dengan lakon JPRUTT.

Layar memang sengaja dibuka sejak awal. Pasalnya, penonton yang melakukan reservasi telah melebihi ambang batas ruangan pertunjukan BBJ. Karena itu, para penonton yang belum registrasi terpaksa harus menonton dari layar lebar. Dan benar saja, di ruangan pertunjukan ratusan penonton memenuhi kursi-kuris yang ada dan sebagian harus lesehan.

Lagipula, siapa yang ingin melewatkan pertunjukan teater yang dimotori oleh Putu Wijaya dan mengajak seniman besar lain seperti Jose Rizal Manua dan Ninik L Karim? Meskipun hanya menonton dari layar, pertunjukan itu memang sayang untuk dilewatkan.

Teater yang didirikan pada 1971 itu memang memiliki banyak sejarah. Seangkatannya, adalah Teater Kecil milik Arifin C Noor, Teater Bengkel Teater kepunyaan WS Rendra, hingga Teater Koma-nya Nano Riantiarno, adalah kelompok besar yang dipimpin seniman-seniman hebat. Begitu pula Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya.

Dalam kondisinya yang hampir setiap hari melakukan terapi untuk kesehatannya, Putu masih meyibukan dirinya untuk berkarya bersama Teater Mandiri. Kegigihan itulah yang membuat namanya besar dan penampilan Teater Mandiri selalu dinanti.

Seperti malam itu, Teater Mandiri membuat seluruh penonton yang datang tak hanya tertawa terbahak. Lebih dari itu, penonton juga dibuat meringis menyadari kenyataan-kenyataan, bahwa bangsa ini belum sepenuhnya merdeka.

Otokritik Mental Bangsa

Di atas panggung hanya ada kursi dan meja dari kayu yang terpajang. Pak Amat (Bambang Ismantoro) memanggil-manggil istrinya (Ulil Elnama) yang berada di dalam dapur. Dalam seketika, mereka berdua terlibat dalam percekcokan kecil prahara rumah tangga. Namun, semakin lama pertengkaran mereka semakin menjadi ketika ada surat dari Profesor Koh (Jose Rizal Manua), seorang ilmuan dari negeri seberang yang meneliti masalah sosial di Indonesia.

Pak Amat dan istrinya tentu bukan membaca surat asli dari Prof Koh, melainkan surat yang sudah diterjemahkan anaknya, Ami (Rukoyah). Dalam surat itu, Prof Koh mengatakan bahwa masih banyak kesenjangan yang terjadi Indonesia. Mulai dari urusan rakyat jelata hingga korupsi para penguasa, semua dituliskan dengan lugas. Melalui suratnya, Prof Koh juga menyatakan bahwa Indonesia belum siap untuk merdeka.

Sontak, membaca surat itu Pak Amat dan istrinya merasa tak percara. Prof Koh yang selama ini mereka kenal sebagai orang yang ramah dan bijaksana, ternyata memiliki pandangan yang amat merendahkan bangsa Indonesia. Alih-alih langsung menuduh Prof Koh, Pak Amat justru  meragukan keaslian surat itu. Ia berpikir, anaknya Ami telah mengubah isi surat dari kenalannya itu.

Di rumah anaknya, Pak Amat justru mendapat sangkalan dari Ami. Menurut Ami, ia telah menerjemahkan isis surat tanpa mengubah sedikit pun anaknya. Mau tak mau, Pak Amat pun percaya. Sebab, ia tak bisa berbahasa asing seperti anaknya.

Kabar tentang seorang warga asing yang menghina martabat Indonesia pun semakin meluas dan menjadi perbindangan di masyarakat. Bahkan, Agung Prameswari (Ninik L Karim) yang berencana untuk menjadi calon pemimpin daerah menggunakan kutipan-kutipan dari surat terjemahan Prof Koh dalam kampanyenya. Menurut dia, bangsa Indonesia memang belum siap untuk memerdekakan dirinya sendiri. Karena itu, dirinya akan maju sebagai pemimpin dan memerdekakan bangsa ini sepenuhnya.

Di sisi lain, Prof Koh yang tak tahu menahu bahwa pernyataannya dalam surat telah menjadi perbincangan besar, harus menerima nasib diancam akan dideportasi pemerintah. Ia pun mengunjungi rumah Pak Amat untuk mengetahui bagaimana bisa suratnya ditafsirkan hingga sedemikian rupa.

Ketika suasana semakin runyam, Ami dan suaminya (Ari Sumitro) akhirnya muncul untuk menjelaskan bahwa surat yang mereka kirimkan sebelumnya tertukar dengan tulisan Ami yang akan dikirimkan untuk surat kabar. Artinya, pandangan Indonesia belum merdeka bukanlah berasal dari Prof Koh, melainkan dari Ami.

Pementasan teater berdurasi kurang lebih 90 menit itu merupakan karya terbaru Putu Wijaya berjudul JPRUTT. Pertunjukan yang disutradarai langsung oleh Putu ini berbeda dengan novelnya yang berjudul JPRUT. Naskah ini merupakan pengembangan dari lima buah cerpen yang ditulisnya tentang kritik sosial keluarga Pak Amat mengenai Indonesia.

Ia menjelaskan, naskah JPRUTT memiliki konflik yang timbul dari salah paham tentang penerjemahan surat. Namun, karena itu pendapat bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka didengar banyak orang. Menurut Putu, belum tentu jika Ami mengirimkan tulisannya itu ke surat kabar, respon dari masyarakat akan ramai.

“Kalau diomongkan oleh orang bule, semua bergerak,” kata Putu Wijaya sesaat setelah pementasan.

Pementasan JPRUTT memang secaga langsung ingin mengajak penonton untuk mengritik diri sendiri dan berpikir bersama. Pasalnya, menurut Putu, nilai yang hilang saat ini di masyarakat adalah kepercayaan diri dan keberanian untuk mengritik diri sendiri. Padahal, jika bangsa Indonesia percaya dan berani mengakui kesalahan, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi lebih makmur.

“ Jadi mengajak generasi muda untuk percaya, berani untuk mengatakan kelemahannya. Sebab negara kita kaya sekali. Tidak ada di dunia itu belasan ribu pulau, 1.100 bahasa, 700 suku bangsa, tidak ada di dunia. Kita ini luar biasa tapi kita lupa,” katanya.

Melalui pementasan ini, Putu berharap anak-anak muda akan mengerti kembali bahwa Indonesia adalah negara yang kaya.

Meskipun memiliki konten serius, pertunjukan JPRUTT bukanlah pementasan yang membosankan. Bagaimana tidak, hampir setiap adegan ada saja tingkah dari para pemain yang membuat penonton tertawa. Apalagi, para pemain juga melibatkan penonton dalam dialog-dialog mereka.

Pementasan JPRUTT sendiri akan kembali dimainkan pada 28-29 April 2018 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Menurut Putu, pementasan di TIM nanti kemungkinan akan banyak perkembangan dari naskah yang ditampilkan di BBJ.

“Saya memperlajari setiap hal akan direspon. Jadi saya betul-betul sayang kepada penonoton. Ini pertunjukan bersama antara pemain dan penonton. Jadi saya senang sekali dengan penonton. Tapi bukan sekedar menghibur, tapi mengajak mereka berpikir dengan cara ketawa,” katanya.

Berangkat dari yang Ada

Pemilihan nama-nama besar seperti Jose Rizal Manua dan Ninik L Karim dalam pementasan JPRUTT karya Putu Wijaya bukan tanpa sebab. Kondisi sang sutradara yang harus selalu melakukan terapi membuat dirinya tak bisa lagi meluangkan banyak waktu untuk berteater.

Putu menjelaskan, dalam menggarap naskah JPRUTT dirinya hanya aktif latihan setiap akhir pekan. Dalam 30 kali pertemuan, ia pun harus memutuskan bahwa naskah sudah bisa ditampilkan ke atas panggung. Karena itu, ia mengajak Jose Rizal dan Ninik L Karim yang notabene pernah bermain untuk Teater Mandiri. Selain dua nama itu, Putu juga mengajak mahasiswa dan komunitas teater lain untuk bergabung dalam pertunjukan ini.

“Mereka juga orang sibuk juga, mahasiswa-mahasiswa. Saya pilih. Pemainnya ada banyak yang punya teater sendiri. Yang jadi ada dari Teater Syahid, Teater Elnama. Jadi saya memang bekerja cepat dan keras,” katanya.

Meski waktu latihan terbilang sempit, namun Putu bisa memaksimalkan pertunjukannya dengan kedisiplinan. Menurut dia, disiplin adalah dasar utama seorang aktor. Sementara, banyak aktor teater di Indonesia yang masih belum disiplin. Padahal, banyak aktor di Indonesia yang memiliki kemampuan berakting yang baik. Alasan itu pula yang membuatnya mengajak mahasiswa untuk bermain dalam pertunjukannya.

Meski begitu, Putu tak serta merta melarang para mahasiswa itu bermain bersama kelompok teaternya sendiri. Mereka punya teater, saya tidak akan merusak teater mereka. Ini cara Teater Mandiri bertolak dari yang ada,” katanya.

Jika nanti para aktor tersebut kembali ke kelompoknya masing-masing, lanjutnya, setidaknya mereka memiliki pengalaman untuk dibagikan kepada yang lainnya. Namun, jika para aktor tersebut tidak suka dengan caranya menyutradarai, tak ada yang menjadi masalah.

Ia juga membuka diri untuk para aktor dari komunitas teater manapun untuk berlatih di tempanya. Namun, kata dia, semua harus komitmen untuk latihan. “Ada yang sekolah dan bekerja, saya mentolerir untuk menyesuaikan jadwal supaya jangan rusak sekolah atau kerjanya. Tapi begitu latihan harus latihan. Kalau sungguh-sungguh pasti jadi,” katanya.

Nb: naskah pernah terbit di Harian Nasional dan mendapat revisi setelahnya.

 

 

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here