Mengenang Danarto, Pengarang Godlob Penganut Sufisme

0
48
Kredit: Repro "Dunia Danarto" oleh Kumparan.

Kepergian Danarto datang dengan mendadak. Bagaikan kilat, kabar itu membuat ramai memenuhi sosial media. Ramai-ramai, karya-karya Danarto melalui kutipan, ilustrasi profilnya, hingga foto-foto buku karyanya, bertebaran di jagat maya.

Danarto meninggal akibat kecelakaan saat hendak pergi ke bank pada Selasa siang, 10 April di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Sempat dibawa ke Rumah Sakit UIN Syarief Hidayatullah, dan dirujuk ke Fatmawati, ajal tak sanggup dihindari. Sastrawan cum pelukis itu mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.54 di tengah para sastrawan lain yang berkumpul menungguinya.

Mengenang Danarto, tentu tak akan lepas dari salah satu karyanya, cerita pendek (cerpen) yang fenomenal, Godlob. Cerpen itu pula yang menjadi judul buku kumpulan ceritanya dan membuat namanya di gelanggang sastra Indonesia semakin fenomenal.

Danarto lahir di Sragen, Jawa Tengah, lima tahun sebelum Indonesia merdeka. Ia melakoni pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta, dan aktif dalam kelompok Sanggar Bambu di bawah pimpinan pelukis Sunarto PR.

Terjun ke dunia seni sebagai pelukis, Danarto juga sempat “menyebrang” untuk bekerja di majalah Zaman dan ikut International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Namun, sebagai sastrawan, Danarto sempat juga pernah menghadiri Festival Penyair di Belanda pada 1983 serta program menulis di Kyoto, Jepang.

Tak hanya bergulat dalam sastra, Danarto memang dikenal mengawali karier sebagai pelukis. Karyanya pernah ditampilkan dalam pameran Kanvas Kosong (1973), selain pameran lainnya di berbagai kota. Sementara di dunia teater, ia pun sempat bergabung bersama Teater Sardono yang melakukan pementasan ke Eropa Barat dan Asia pada periode 1974.

Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Yusi Avianto Pareanom menyebut Danarto sebagai sastrawan yang membawa pengaruh besar dalam khasanah sastra Indonesia. Menurut dia, Danarto merupakan salah satu pelopor yang membawa nuansa sufisme dan dadaisme dalam karya sastra.

“Yang mencoba meniru banyak, namun tak ada yang bisa melampaui pencapaian belaui. Dadaisme itu kan juga karena dia perupa juga. Dari visualnya saja sudah menarik, bahkan sebelum kita membaca cerpennya, visualnya sudah menggelitik,” ucapnya, mengenang.

Meski Yusi tak begitu yakin pengaruh karya Danarto masih terasa hingga generasi saat ini, namun ia percaya setiap penggemar sastra seangkatannya, yang kini berusia 40-50 tahun, pasti membaca karya Danarto. Menurut dia, pengaruh Danarto sangat kuat untuk generasi itu. Bahkan, ia menduga sebagian besar penulis yang satu generasi dengannya, mulai belajar menulis dengan membaca karya Danarto.

Puncak karya Danarto itu ada pada kumpulan cerpen Godlob, kata Yusi. Saat periode itu, kemunculan Danarto membuat banyak orang terkaget-kaget dengan gayanya. Ketika membaca karya Danarto, pembaca dibawa ke alam antara, yang rill dan sureal, yang nyata dan gaib, antara komedi dan horor.

Meski begitu, hal yang paling dikenang dari sosok Danarto tak lain adalah kepribadiannya yang terbuka. Sebagai sastrawan, tak ada yang meragukan karya Danarto. Namun sebagai pribadi, Yusi menilai, Danarto memiliki kepribadian yang luar biasa.

“Aku orang beruntung mengenal beliau secara pribadi. Humoris dan tak pernah membedakan yang tua atau muda. Kebaikan hatinya, kalau kau sempat kenal secara langsung, itu luar biasa,” ucapnya.

Ia berharap, kepergian Danarto yang ramai diperbincangkan di jagat maya dapat memancing anak muda yang tertarik pada literasi dan belum sempat berkenalan dengan karya Danarto, untuk membacanya. Pasalnya, karya Danarto adalah salah satu kekayaan sastra Indonesia.

Danarto memang telah pergi. Sejumlah sastrawan yang berkumpul seperti Uki Bayu Sejati, Teguh Wijaya, Radhar Panca Dahana, Noorca Massardi, Chavchay Syaifullah, Heryus Saputro, Bambang Prihadi, dan Amien Kamil, menemani detik-detik terakhir kepergian sastrawan yang karib dengan sufisme.

Semasa hidupnya Danarto telah menulis sejumlah buku sastra yang fenomenal, antara lain GodlobAsamaralokaAdam Ma’rifat, dan Orang Jawa Naik Haji. Karya-karya itu merupakan jaminan, Danarto akan abadi.

Merunut cerpen Godlob, Danarto telah melalui segala rutinitas dirinya sebagai mahkluk di dunia. “Ayah, cukuplah. Bagiku semuanya memastikan. Tidak ada yang menyangsikan walaupun keadaanya rutin, rutin belaka. Semuanya kita sudah diatur. Tanpa kuminta dan di luar pengetahuan saya, lahirlah saya dari rahim ibuku yang bersuamikan Ayah.”


Lahir: Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940
Wafat: Jakarta, 10 April 2018
Karya: kumpulan cerpen Godlob (1975), Adam Ma’rifat (1982), Berhala (1987), Gergasi (1993), Setangkai Melati di Sayap Jibril (2008); novel Asmaraloka (1999); catatan perjalanan Orang Jawa Naik Haji (1983); naskah teater Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976), Bel Geduweh Beh (1976); kumpulan esai Begitu ya Begitu tapi Mbok Jangan Begitu (1996), dan Cahaya Rasul 1-3 (1999-2000).

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here