Membaca Gambang Kromong Melalui Naga Pesisir

0
44

Minim panggilan pentas. Para pelaku yang miskin regenerasi. Lingkup masyarakat yang keburu menerima stigma negatif. Sistem patriarkial. Persoalan ekonomi. Tapi di tengah masalah yang bertubi-tubi, gambang kromong, seni pertunjukan musik asimilasi budaya yang berkembang di Jakarta sejak abad 19, masih ada. Hari ini, meski tak hingar-bingar, sayup-sayup suaranya masih terdengar.

Di panggung Teater Alamat, lantang suara gesekan tehyan mengumandangkan lagu Indonesia Tanah Air Beta dengan cengkok khas tehyan, dimainkan oleh ayah Engwie, Liem Chuan Ek sebagai pembuka pentas Naga Pesisir di Gedung Kesenian Jakarta, 22-23 Maret 2018. Engwie kecil, sambil bermain kuda kayu, telah menyerap wasiat ayahandanya.

Sebagai warga Cina Benteng, yang tak lagi fasih berbahasa Tiongkok dan sudah ber-lu-gua, Liem Chuan Ek tetap menjaga budaya dan tradisi. Ia menyadari bahwa Tiongkok adalah tanah leluhurnya, tapi Indonesia, negara tempatnya tinggal adalah Tanah Airnya. Ia berpesan agar Engwie mewarisi tradisi gambang turun temurun dengan menjadi panjak, pemain musik gambang kromong. Itu lalu dilakoni Engwie. Tentu bukan tanpa halang rintang. 

Berminggu-minggu tak ditanggap atau tidak mendapat panggilan pentas, Engwie harus menahan ocehan istri yang sudah seminggu menagih uang belanja dan anak perempuan dikejar-kejar biaya sekolah. Namun dasar panjak, tak dipedulikannya rengekan istrinya. Ia malah berjanji akan membuatkan kandang baru untuk ayam jago dan burung perkutut kebanggaannya. Bagi laki-laki, menyabung ayam adalah pertaruhan ego. Laki-laki sebagai pemimpin keluarga sesuai dengan sistem patriarkial, mencari pengakuan dengan mengambil ayam jago sebagai simbol kejantanan. Jika juara, harga ayamnya akan semakin mahal dan semakin tinggi pula kebanggaan laki-laki pemiliknya.

Dialog pertengkaran antara Engwie dan Erna istrinya, terdengar saling bertindihan hingga artikulasi setiap kalimat larut satu dengan yang lain. Tapi tawa penonton terpancing juga, walaupun belum terdengar dialek khas Cina Betawi. Kerap terdengar juga suara pesawat lewat yang memotong pembicaraan, lagu dangdut yang disetel pada pagi dan sore hari, sampai pertengkaran suami istri yang bersahutan dari dalam rumah hingga ke teras.

Usaha pentas ini adalah untuk menghadirkan kondisi yang demikian. Kata Budi Yasin Misbach, penulis naskah dan sutradara pementasan, “Yang kita dapat dari riset, memang seperti itu. Orang-orang Cina Benteng, ngomong biasa pun sudah seperti berantem. Apalagi ketika betulan berantem. Realitas suasana yang kita dapat, harus dimunculkan di atas panggung.”

Karakter perempuan terutama para istri pada naskah ini sebagian besar hadir sebagai para ibu rumah tangga yang terbelit keadaan ekonomi serba pas-pasan dan menahan rasa cemburu karena suaminya, para panjak memang terkenal suka main perempuan. Namun, hadir pula tokoh Mellyna, anak perempuan Engwie yang duduk di bangku SMA yang kerap melerai kedua orang tuanya ketika bertengkar. 

Erna, telah mendesaknya untuk meninggalkan profesinya sebagai panjak, namun dibantahnya dengan keras bahwa ia tak akan mengingkari janji dan akan tetap bertahan karena itulah warisan dari ayahnya. Bukan hanya masalah ekonomi, kesetiaan Engwie pun dipertanyakan oleh Erna. Panjak memang terkenal tukang kawin, Erna pun adalah istri keenam Engwie. Belum lagi keberadaan wayang cokek, penyanyi gambang kromong yang biasanya adalah perempuan muda berpenampilan menarik, identik sebagai perempuan yang bisa dan mau digoda oleh para panjak.

Karena itulah, konflik makin meningkat sejak didatangkannya dua orang wayang cokek dari Bekasi. Tak hanya Erna, Soeyen, istri Sangbun, anggota lain gambang kromong juga terbakar cemburu hingga melabrak latihan gambang karena curiga suaminya menggoda-goda si wayang cokek. Tapi latihan gambang yang dilakukan di halaman belakang rumah Mugeni, tetangga Engwie, dan karakter para panjak yang terkenal hidung belang dan menganggap semua wayang cokek adalah perempuan gampangan, kian memicu kecurigaan istri-istri, para ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan sehari-harinya dihantui permasalahan keuangan.

Persoalan posisi perempuan yang subordinat memang selalu ada pada masyarakat dengan pola patrilineal. Dalam bidang apapun, tak hanya seni pertunjukan, jika libido dikedepankan maka esensi yang lain jadi tergerus. Sehingga permasalahan pada kesenian gambang kromong terletak pada watak orang-orang di dalamnya yang terbelit pola patriarkial bahkan cenderung merendahkan perempuan.

Maka menurut Madin Tyasawan, dramaturg pentas, adalah salah satu misi pertunjukan ini untuk menghilangkan ciri negatif ini. Seni sebagai hiburan selayaknya lebih dari sekadar menghibur, melainkan juga memberikan pengalaman estetika yang baru baik bagi pelaku maupun penikmatnya. Karena itulah, dua wayang cokek dari Bekasi ini, Tysa dan Marna, keponakan Mugeni, tetangga Engwie yang rumahnya berdempetan hingga berbagi hiruk pikuk sehari-hari, hadir dalam cerita dengan motivasi bahwa mereaka memang ingin melakoni profesi wayang cokek tanpa embel-embel perempuan gampangan.

Pun Mena istri Mugeni, masa mudanya juga berprofesi sebagai wayang cokek, dan terbebas dari laku yang memicu stigma negatif itu. Mena bahkan menyatakan bahwa ia tersinggung jika Erna mencurigai dan menuduh semua wayang cokek sebagai perempuan yang mau digoda. Wayang cokek yang tampil dengan kelompok gambang kromong rentan dengan stigma perempuan nakal, atau karena memang para penikmat gambang kromong yang sengaja mencurahkan libidonya kala nyawer atau ngibing. Gambang kromong tanpa ngibing, kecil peluangnya untuk ditanggap. Seni pertunjukan musik ini, demi menangkap antusiasme audiens, harus berubah menjadi ajang pemuasan libido. 

Sebagai seniman gambang, Engwie pun adalah seorang pelaku kesenian murni dengan misi yang mulia. Maka Engwie pun ingin agar Kimhok, anak laki-lakinya mempertahankan keseniannya. Ketika Kimhok mengutarakan maskud untuk merantau dan bekerja ke Semarang, Engwie berujar pada Kimhok anaknya, “Lu tau kenapa pemain gambang kalo main bisa sampe merem-merem? Karena mereka bisa ngerasain nyawa dari alat ini.” 

Di balik tabiat para panjak yang tukang mabuk, tukang kawin, suka main perempuan dan lebih mementingkan kegagahan ayam jantannya dan burung perkutut daripada kesejahteraan keluarganya, mereka adalah pemain musik yang mengenal alatnya dengan baik dan menjiwai permainan musik mereka. Itu yang ingin ditekankan lewat tokoh Engwie pada pertunjukan Naga Pesisir ini.

Melalui Naga Pesisir, tampak bahwa bagi orang-orang seperti Engwie, dalam menekuni kesenian gambang kromong, bukan melulu materi yan dicari, “Seni itu tidak memberikan keuntungan materi yang berarti bagi hidupnya. Tapi dia sudah mengabdi pada seni musik itu sendiri.” Kata Budi Yasin.

Dalam bentukan di panggung, hasil riset yang dilakukan oleh Teater Alamat muncul dalam realisme. Berlatar tampak depan rumah Engwie, rumah warisan keluarga. Rumah inilah saksi perjalanan kelompok gambang kromong dengan segala hiruk pikuknya. Suasana khas kampung Cina Benteng dihadirkan apa adanya sesuai temuan di lapangan saat observasi. Mengenai pencapaian naskah dan pemanggungan yang berangkat dari riset, Budi Yasin mengatakan, bahwa pencapaian pementasan ini adalah betul menghadirkan suasana itu di atas panggung. “Pencapaiannya sederhana, apakah penonton terwakili, saat menonton pertunjukan ini,  merasakan bahwa dia ada di antara peristiwa-peristiwa yang terjadi di panggung. Bahkan bagi penonton yang belum pernah mengalami, pertunjukan ini berusaha untuk menunjukkan bahwa hal seperti ini memang terjadi.”

Sedangkan dramaturgi pentas juga melengkapi misi pertunjukan dengan misi untuk mengembalikan posisi gambang kromong murni sebagai seni pertunjukan. Bukan kerja yang mudah memang, karena tujuannya adalah merubah paradigma masyarakat akan citra pertunjukan gambang kromong, tidak hanya pada lapisan para pelaku tapi juga audiens sebagai penerima.

“Sosialisasi pentas semacam ini adalah suatu upaya untuk menghilangkan stigma itu. Yang kita sasar adalah edukasi kepada pelaku dan penonton untuk menanamkan kesadaran. Pelaku harus punya kesadaran bahwa kesenian harus diperlakukan sebagai kesenian, tidak menjadi sarana mencari uang dengan ‘menjual diri’. Bagi masyarakat, kesenian juga tidak bisa dianggap menjadi sarana pelampiasan libido,” kata Madin Tyasawan.

Pertunjukan seperti Naga Pesisir ini, yang pada prakteknya bersentuhan langsung dengan para pelaku gambang kromong yang selama ini tak terekspos sebagai seniman, sesungguhnya bisa jadi pemicu kesinambungan pertunjukan tradisi dengan teater modern. Sebagai pengingat bahwa seni pertunjukan tradisi berangkat dari kebutuhan masyarakat akan hiburan. Maka hiburan seharusnya tidak hanya memuaskan pada tataran fisik, tapi juga pengalaman batin. Eksplorasi yang memancing apresiasi publik yang lebih luas pada seni tradisi.

Foto-foto: Seketi Tewel

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here