Sunya: Representasi Mistisme di Tanah Jawa

0
105

Hidup di era yang menjadikan wajib sekolah 12 tahun sebagai standarisasi kualitas rasio, nyatanya tak mampu menegasikan pola pikir irasional seperti mistisme di benak sebagian besar masyarakat di tanah Jawa.

Hal ini lah yang tercermin dalam tokoh Bejo, seorang pemuda Jawa yang tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ibu, tanpa sepucuk pesan pun, ibu pergi tanpa jejak. Jadilah ia tumbuh kembang bersama Mbah Ibu di gubuk kecil di sebuah dusun. Diasuh Mbah Ibu, bagai mundur satu generasi, pola pikir Bejo dibentuk oleh logika Mbah Ibu, yang kental akan nilai-nilai klenik. Meski Bejo dapat dikatakan well educated di Dusunnya, namun nyatanya nilai-nilai tersebut terlanjur mengalir bersama darahnya.

Dongeng Mbah Ibu tentang mistisme Jawa membuatnya sedikit berbeda dengan anak-anak di sekolahnya. Ia tampak sulit membedakan mana realita dan fiksi, keduanya bercampur seperti mimpi. Adegan ia bermain bersama peri-peri, membungkus teman-temannya dan menjadikannya kurcaci, diajak berkarib dengan Buto Ijo, dan sorot mata gadis kecil di pinggir jalan, yang tak mampu ia lupakan.

Rohman Bagai Kodam

Semakin bertumbuh dewasa, imaji-imaji masa kecilnya sedikit memudar, dan berganti dengan sosok perempuan cantik bernama Raisya, tak sekadar menjadi imaji namun juga obsesi Bejo. Obsesi meminang gadis berparas ayu tersebut tak mudah ia dapatkan, Bejo sadar ada sosok astral yang mendampinginya, Rohman bak buah simalakama.

Sosok Rohman bagai kodam yang tak bisa lepas dari Bejo. Ke mana pun, di mana pun, dan apapun yang ia inginkan, Rohman ada di sana dan “bersaing” mengalahkan egonya. Sampai pada adegan Bejo dan Raisya menari dengan sebilah keris di Raisya, dan disudahi dengan adegan erotik, keduanya bercinta di atas kasur tipis. Sialnya, Rohman juga bercinta dengan Raisya, setelah Bejo. Apa pun yang Bejo miliki, harus dibagi dua oleh Rohman. Pria bertubuh tinggi besar tersebut selalu menghantui Bejo ke mana pun langkah pria bertubuh kurus tersebut pergi.

Meminang Raisya

Meski harus berbagi tubuh Raisya dengan Rohman, nyatanya setelah adegan erotis tadi, perempuan berkebaya tersebut berhasil ia miliki. Belum purna kebahagiaan Bejo, daun telinganya harus mendengar bisingnya omongan tetangga, isu “Bejo memelet Raisya” begitu santer di Dusunnya.

Hal itu membuat Bejo geram. Terlebih sebagai “kembang desa” Raisya digilai banyak pria, begitu banyak mata lelaki lain yang tak rela Raisya dimiliki Bejo.

Pengabdian Pada Mbah Ibu

Masalah yang menjerat Bejo bak kulit bawang, belum selesai perkaranya dengan baying-bayang masa kecilnya, sosok Rohman yang mengikutinya, dan polemik cintanya dengan Raisya, muncul kabar rumah sakit mengabarkan sakitnya Mbah Ibu. Meski dinyatakan sekarat, tapi analisa dokter tak dapat mendeteksi penyakit apa yang bersarang ditubuh Mbah Ibu.

Bagi orang dusun Jawa, analisa dokter tersebut tak terlalu mengherankan. Dengan kepercayaan pada hal-hal klenik, Bejo percaya Mbah Ibu, sakit karena piranti mistisme yang melekat pada tubuhnya tak bisa lepas. Semua “orang pintar” yang pernah memasang piranti mistis di tubuh Mbah Ibu, telah terlebih dahulu berpulang. Jadilah, Mbah Ibu bagai di awang-awang. Tak mati, jua tak seperti hidup.

Kesembuhan Mbah Ibu adalah keharusan bagi Bejo. Sebagai bentuk rasa baktinya pada Mbah Ibu, ritual mistis menikahi Mbah Ibu pun ia jalani, meski harus mengorbankan perasaan Raisya.Imaji dan pengalaman mistis Bejo semasa kecil terus berputar-putar hingga kekal hidup bersama Bejo.


Ketakutan di Balik Layar

Eko Supriyanto (Rohman) tengah berada dalam perjalanan tur tari di Belgia, saat naskah Sunya yang diadaptasi dari cerita pendek Eka Kurniawan, sastrawan yang dikenal lewat novel Cantik Itu Luka, sampai di surelnya. “Aku enggak tuntas membacanya, medeni. Aku takut,” ujar Eko, seperti dikutip dalam Majalah Tempo.

Sebagai orang jawa, Eko tak menampik banyaknya kesamaan kisah sunya dengan yang ia alami. “Klenik itu bagian dari hidup masyarakat Jawa dulu. Mbah Ibu, nenek. Itu punya semacam kewajiban untuk melindungi anak-cucunya. Ada ritual yang harus dijalani. Seperti mengelilingi rumah,” sambung pria asli Magelang ini.

Mengenai sosok Rohman yang ia perankan, Eko mengaku menafsirkannya sebagai sahabat, pelindung, sekaligus pesaing Bejo. “Peran ini seperti refned dance-tarian halus. Peran yang berbeda sebagai konco, njaga, dan saingan, itu gak boleh terlihat jelas, tapi melebur. Kalau dalam tari, ini tidak menatap ke luar, tapi merasakan ke dalam,” ujar Eko yang berprofesi sebagai penari profesional sejak muda.

Film sunya berhasil membawa penonton larut dalam cerita mistis, tanpa perlu narasi tetek dan paha. Film berdurasi satu jam dua puluh menit tersebut dikemas apik dalam editing, grafis, dan audio pendukung yang estetis. Film sunya berhasil mendapat apresiasi dari sineas dalam negeri, dan berhasil menyabet Penghargaan Khusus Piala Maya untuk Pemilihan Ide Cerita Terpilih, dan tokoh Rohman sebagai aktor pendukung terbaik versi Film Pilihan Tempo 2016, bersanding dengan Raihaanun (Salawaku),Gunawan Maryanto (Istirahatlah Kata-kata), dan B.W Purba (Ziarah).

SHARE
Selira Dian
Jurnalis paruh waktu. Pembaca purna waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here