MIRAK DIV: Ketika Musik Elektronik Berpadu Perabot Domestik

0
42
Komunitas Salihara/Witjak Widji

Alunan instrumen musik elektronik memenuhi ruang dengar, terus mengulang hingga terasa cukup lama sebagai sajian pembuka. Spot lampu perlahan mulai berpendar, menampakan Adra Karim, keyboardis Tommorow People Ensemble dengan alat musik elektronik di sisi kiri dan keyboard di sisi kanan.

Sembari terus memainkan musik elektronik dengan perlengkapan toy keyboard, toy musical instrument, analog synths, midi keyboard, mixer, bass dan pcm piano, di sisi kiri, John Navid, drummer White Shoes and The Couples Company, menabuh drum, sembari menarik isolasi di sisi drum. Kemudian berganti memainkan mesin tik dengan tangan kiri.

“duk..tak..duk..tak..duk… tik..tik..tikk.tikk…dum..dum..dum..sreeg..sregg..dum”

Paduan instrumen dari musik elektronik dan perabot domestik tersebut disajikan secara unik oleh MIRAK DIV, duo Adra Karim dan John Navid, dalam Jazz Buzz Salihara 2018: Jazz Sans Frontieres III, minggu 25 Februari 2018 di Teater Salihara, Komunitas Salihara, Jakarta Selatan.

Berbeda dengan konser musik pada umumnya yang hanya menggunakan alat musik profesional, John dan Adra mengeksplorasi bebunyian dari perabot domestik seperti mangkuk mie ayam, sendok, isolasi, mesin ketik, garukan pijat, bola pingpong, bola bekel, sepeda dan bel sepeda, juga boneka ayam-ayaman.

“Awalnya kami memang ada tawaran kolaborasi dari whiteboard journal setahun lalu. Dari situ, akhirnya ayo deh kita oke-in aja,” papar Adra Karim. Lagu-lagu yang dibawakan di antaranya, pusara nada, bajaj air, ruang di antara kita, Jakarta, dan ditutup dengan Tiga dari Lima.

Berkelana Berburu Perabot Domestik

Soal ide memadukan musik elektronik, Adra mengaku hal tersebut adalah ide John sejak setahun silam. “Gue bawa boneka ayam-ayaman ya, nanti gue bakal main sepeda dan mencet ayam-ayamannya. Oke, John. Abis itu gue mikir, ini mau gimana ya bikin instrumennya, ada suara ayam gitu,”papar pria yang menggeluti musik Jazz sejak remaja tersebut sambil terkekeh.

“Iya, jadi tiap John, keluar kota atau keluar negeri dia selalu info sama gue. Eh, Dra, gue nemu garukan punggung, boneka ayam-ayaman, buat instrumen kita,” ujar Adra, yang disambut senyum sipul oleh drummer dari band yang populer dengan tembang Senandung Maaf tersebut.

Soal proses kreatif, Adra mengaku membutuhkan waktu satu tahun untuk menyiapkan semua instrumen, perlengkapan domestik, dan waktu untuk bertemu dengan John. “Ya, pasti kami punya kesibukan masing-masing. Agak sulit juga ya ketemunya, tapi ini projek harus jadi lah pokoknya. Pertama kali kami tampil sebagai duo di Salihara ini.” tutup Adra.

Suara-suara yang muncul dari perabotan domestik tersebut membuat penonton yang hadir tak henti tertawa. Dus, aksi John yang atraktif memunculkan suara-suara unik dari perabot domestik tersebut. “Aneh ya, suara-suara dari isolasi atau bola pingpong, misalnya kedengeran bagus. Rasanya seperti diperlihatkan cara bikin backsounds produksi film.” ungkap Elle, salah seorang penonton yang hadir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here