Budjana dan Identitas Bali yang Kental

0
102
Komunitas Salihara/Witjak Widji

Harmonisasi nada yang mengalun dari beberapa alat musik gesek, gitar, dan vibraphone dimainkan secara apik oleh Dewa Budjana, kwartet gesek, dan vibraphone dalam pentas musik jazz tahunan bertajuk Salihara Jazz Buzz: Sans Frontieres 03, minggu (18/02/18) di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan.

Menginjak tahun ketiga, Salihara Jazz Buzz masih setia menyajikan ragam kreasi komposisi jazz dari berbagai musisi dengan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan genre musik. Pada perhelatan kali ini, maestro gitar, Dewa Budjana menjadi salah satu musisi yang terlihat dominan. Dikenal luas sebagai gitaris band Gigi, maestro gitar asal Pulau Dewata tersebut jua dikenal melalui album-album solo yang menjadi identitas warna musik Budjana.

Lagu-lagu dalam album solo milik Budjana sengaja dipilih sebagai sajian yang memanjakan indera pendengar ratusan penonton yang hadir. Paduan instrumen dari ragam alat musik lainnya membuat lagu-lagu yang dimainkan seperti, Zentuary, Caka, Queen Kanya, Bunga yang Hilang, Lake Takengon, dan Joged Kahyangan, menjadi kian segar.

Lagu bertajuk Queen Kanya menjadi menu pembuka yang dimainkan dalam formasi Dewa Budjana (Gitar), Alvin Witarsa (Violin 1), Eko Yuliantoro (Violin 2), Adi Nugroho (Viola), Dimawan Adji (Selo), dan Arief Winanda (Vibraphone). “Lagu ini saya persembahkan untuk Ratu Kanya. Saya dan teman-teman dari kota kelahiran saya (Klungkung, red) sedang mengajukan Ratu Kanya sebagai pahlawan nasional,” cerita Budjana di sela jeda lagu.

Alasan Budjana dan rekan-rekannya di Klungkung untuk mengusung Ratu Kanya bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat, ratu yang bernama lengkap Ida I Dewa Agung Istri Kanya adalah ratu yang pernah memimpin bali pada era 1814-1850, keberanian dan kisah heroik dari ratu yang dijuluki “Ratu Perawan Klungkung” dalam mempertahankan Kerajaan Klungkung ini juga tercatat dalam buku Feminist Poems karya Nancy Quinn Collins (2016).

Unsur etnik khas Bali menjadi warna tersendiri, bak identitasnya, Budjana yang memberi nafas dalam tiap lagu-lagunya. Lagu-lagu Budjana di luar karirnya bersama Gigi, dikenal memiliki nuansa Bali yang begitu kental. Sebut saja dalam album Gitarku (2000), Samsara (2003), Home (2005), Dawai in Paradise (2012), Joged Kahyangan (2013), dan Surya Namaskar (2014). Begitu juga dengan lagu-lagu rohani Hindu seperti Nyanyian Dharma, Om Shanti dan Gayatri Mantram, yang berlatar kearifan lokal Bali.

Memulai karir sejak tahun 1976 dan menelurkan album solo perdana bertajuk “Nusa Damai” pada 1994, I Dewa Gede Budjana kian intens berkarya. “Tahun ini rencananya saya akan mengeluarkan album baru, judulnya Mahandini. Sudah selesai rekaman, tapi belum tahu sih diluncurinnya kapan, yang penting udah rekaman dulu aja, haha,” sambung Budjana yang diikuti riuh ratusan tawa penonton yang memadati ruang Teater Salihara.

Dikenal Toleran

Meski dikenal sebagai musisi yang memiliki kesan “bali banget” namun pria kelahiran lima puluh empat tahun silam ini jua dikenal sebagai musisi yang toleran. Di luar kiprahnya sebagai gitaris Gigi, karir solo dengan nuansa bali dan lagu-lagu rohani hindu, Budjana jua pernah menelurkan album rohani dari aliran agama lain, seperti kristiani, islam, dan buddha.

Dalam perjalanan karirnya bersama Gigi, Budjana turut serta dalam pembuatan album rohani islam, seperti Raihlah Kemenangan (2004), Pintu Sorga (2006), Jalan Kebenaran (2008), dan Amnesia (2010). Rekan-rekannya di Gigi begitu mengapresiasi toleransi yang ditunjukan oleh pria kelahiran Sumba Barat ini.

Tak hanya ikut serta dalam proses kreatif dalam lagu-lagu bernafaskan islami, Budjana jua pernah menelurkan album rohani kristiani yang bertajuk Dewa Budjana Christmas Collection (2013), dan berkolaborasi dengan Imee Ooi, penyanyi rohani Buddhis dalam lagu-lagu berjudul Chant of Metta-In Loving Kindness, Om Mani Padme Hum-In Mindfulness, dan Pupha Puja-In Acceptance dalam album Buddhis Kala Waisak (2017).

Bagi Budjana, musik adalah bahasa universal dalam menyampaikan pesan perdamaian. “Hidup itu kan berdampingan, dan semua orang diciptakan berbeda, jadi ya sudah lah.” pungkasnya mengakhiri percakapan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here