Suara-suara Perempuan dalam Karya Seni Rupa

0
103
Instalasti berjudul Berkata Apa karya Ary Okta.

Dalam sejarah dunia, kesenian tak hanya hadir sebagai hiburan semata. Lebih dari itu, kesenian sering digunakan sebagai alat untuk menyebarkan sebuah paham orang-orang yang berkuasa. Pada zaman kerajaan Nusantara misalnya, para pujangga dikumpulkan untuk menuliskan karya sastra tentang kebesaran kerajaan.

Riwayat kesenian sebagai alat komunikasi tak berhenti sampai di situ. Pada zaman revolusi, banyak tembok-tembok digambari tulisan –yang kini dikenal dengan grafiti- semangat perjuangan oleh para seniman. Tujuannya, membakar jiwa rakyat untuk berjuang memertahankan kemerdekaan Indonesia yang masih seumur jagung.

Pada masa Orde Lama lebih parah lagi. Kesenian digunakan sebagai alat politik Partai Komunis Indonesia (PKI) bergabungnya para seniman “kiri” dalam naungan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Melalui Lekra yang getol menggelar kesenian rakyat, PKI ketika itu bisa menjadi partai yang memiliki kepopuleran hingga rakyat jelata.

Ketika Orde Baru, kesenian bahkan menjadi alat kritik pemerintah. Beragam seniman bahkan pernah merasakan kehidupan di balik jeruji besi karena terlalu lantang “menggesek” kenyamanan penguasa. Sedikit banyak, kesenian yang hadir selama Orde Baru memengaruhi kehidupan masyarakan Indonesia hingga hari ini dalam memandangnya.

Setelah Reformasi, Indonesia seakan telah lepas dari belenggu pembungkaman menyuarakan pndapat. Kesenian pun semakin berkembang. Tak hanya sebagai hiburan, tapi juga kritik sosial.

Melaui kesenian pula, sebanyak 16 perempuan perupa mencoba menyuarakan pendapatnya. Suara tentang ketidakadilan yang selama ini dirasakannya, tentang bagaimana dunia memandang mereka. Menariknya, alih-alih meratapi keadaan yang selama ini tidak berpihak pada perempuan, 16 perempuan itu justru mengemas suara mereka dalam pameran bertajuk “Artpression: 16 Perempuan Memandang Dunia” pada 8-20 Januari 2018.

Love, Life, and Passion: Menengok Keperkasaan Para Perempuan

Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, bersolek dengan diadakannya pameran Aripression: 16 Perempuan Memandang Dunia. Sesosok manusia dengan mulut yang besar dan mata nanar berwarha hijau tergambar dalam sebuah lukisan. Di atasnya, tertulis “Target”. Sementara sebilah senapan panjang mengarah kepadanya dengan alas karpet merah yang melambangkan kemegahan.

Lukisan berjudul “Target” itu merupakan karya Titis Jabaruddin. Alih-alih menggambarkan terntang kehidupan perempuan, pameran yang menyertakan 16 perempuan perupa itu dibuka dengan karya yang menggambarkan keadaan negeri saat ini.

Sosok dalam target senapan itu dinamani Titis sebagai si pemangsa. Mulut besar dan nanar matanya merupakan perlambang dari ketamakan seorang penguasa yang tak henti menggerus, bukan hanya uang tapi juga juga kepercayaan rakyat.

“Target itu merespon kondisi sekarang di mana korupsi sudah marak dan keterlaluan. Kita jadi geram. Saya melalui lukisan dan instalasi ingin menghadirkan seorang yang tamak yang tak akan habis-habisnyahasratnya terpuaskan. Bahkan mungkin seluruh dunia ingin dikuasai,” katanya saat pembukaan pameran.

Tak hanya Target karya Titis yang dipamerkan dalam Artpression. Tiga karya lainnya, yang merupakan lukisan, diberi judul Berangkat Subuh. Dalam karyanya itu, tergambar seorang perempuan yang menggendong sebuah bakul dan berjalan dengan perkasanya.

Melalui karyanya ini, perempuan lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta itu ingin menyampaikan bahwa perempuan, yang selama ini dipandang lemah, merupakan sosok yang perkasa. “Orang suka bilang kalau perempuan itu lemah, tapi saya bilang wanita itu perkasa. Bayangkan, perempuan dari subuh berangkat membawa gedongan dan dia sampai rumah masih harus menyelesaikan pekerjaan domestiknya,” katanya.

Melalui karya-karya ini, Titis tak sedang mengecilkan peran laki-laki dalam kehidupan. Namun, melalui karya seni, ia sekadar ingin memberikan perspektif baru, bahwa perempuan tidak selamanya lemah.

Selama ini, kata dia, perskpektif dunia selalu memandang perempuan memang sebagai kaum yang tak berdaya. Melalui seni rupa dan budaya, ia berharap cara dunia memandang perempuan akan lebih baik.

“Saya sebagai seniman merasa bahwa seni itu melembutkan, menentramkan, memperhalus, dan membuat sesuatu menjadi baik. Begitupun seni dalam dunia pendidikan,” ungkapnya.

Jika Titis berbicara secara lantang melalui karyanya, Anne K Adijuwono menyuarakan kebebasannya sebagai perempuan melalui dua lukisan dan satu instalasi miliknya. Dalam dua lukisannya, ia menggambarkan kebiruan dan riuhnya air laut. Dua lukisan yang berjudul Current I Love dan Let the Sea Hipnotize Me, Anne menyiratkan bahwa kehidpan perempuan haruslah bebas.

“Lewat lukisan laut ini saya menggambarkan passion saya, yang kebetulan adalah laut. Dunia diver yang terutama laki-laki, kita sebagai perempuan juga bisa melakukannya. Justru di laut kita banyak dibantu. Gender itu seperti tidak ada di laut.  Hubungan antar manusia di laut itu sudah erat,” kata perempuan yang memiliki hobi menyelam ini.

Sementara melalui instalasi berbentuk manekin yang diberi dress bertemakan laut, ia seolah ingin memberi tahu bahwa laut Indonesia memiliki keindahan yang luar biasa. Karena itu, alih-alih mecaci perlakukan dunia terhadap perempuan, Anee justru menuangkan kebebasannya melalui karya seni.

Bahkan, ia yang terlanjur mencintai laut, juga berpesan untuk menjaga keasrian laut Indonesia. Dengan begitu, perempuan yang memiliki hobi menyelam itu tetap bisa melakukan kebebasannya tanpa harus takut kebebasannya terganggu.

Tak hanya Titis dan Anne yang berpartisipasi dalam pameran ini. Nama-nama lain seperti Aida Prayogo, Ary Okta, Alisha Mursalim, Hediana Urarti, KaNa, Lydia Petrie, Maria Tiwi, Moendy Asyuty, Naaomi, Neneng Sia Ferrier, Reny Alwi, Revoluta S, Ulil Gama, dan Wa Ode Yurijo, ikut berpartisipasi dalam pameran ini.

Lukisan yang ditampilkan pun membawakan tema yang beragam. Mulai dari mengkritisi kondisi saat ini, membawakan cinta sesama manusia, hingga menggambarkan secara vulgar bagaimana perempuan dipandang dunia.

Kurator sekaligus ketua pemeran Yenti Nur Hidayat mengatakan, dalam pameran ini memang dibagi menjadi tiga tema utama yaitu passionlife, dan love. Menurutnya, tiga hal itu adalah yang paling mendominasi dalam kehidupan perempuan.

Ia menjelaskan, passion itu adalah hasrat perempuan yang terkadang harus disisihkan untuk kehidupan orang-orang di sekitarnya. Perempuan, kata dia, ketika memasuki tahap tertentu, misalnya pernikahan, passion mereka secara perlahan akan menghilang.

“Mereka harus mengalahkan passion demi keluarga, misalnya. Banyak kita temui perempuan yang berpotensi sekolah lebih tingi, tapi dia mengorbankan demi menyekolahkan anaknya,” katanya.

Sementara life yang  memiliki arti kehidupan, perempuan bertemu dengan banyak isu. Mulai dari korupsi yang sering tampil menjadi isu utama di televisi, penyelamatan lingkungan, kekerasan terhadap perempuan, dan lain-lain. Ada juga kerja keras. Melalui banyak hal yang ditemui dalam kehidupan itu, para perempuan mendapatkan tempat untuk menyuarakan pendapatnya melalui pameran ini.

“Yang terakhir adalah love, cinta. Love itu adalah perasaan terdalam dia. Bukan hanya antar pasangan tetapi sesama manusia. Tiga hal itu yang mendominasi dalam hidup perempuan. Jadi tiga hal itulah yang kita tonjolkan dalam pameran yang menampilkan sekitar 51 lukisan dan instalasi ini,” katanya.

NB: naskah pernah terbit di Harian Nasional.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here