Bukan Rumah Gue, Bukan Masalah Gue

0
84

Konflik datang seturut interaksi. Dalam sebuah lingkungan, bertemu lain orang berarti bertemu isi kepala yang tak sama. Semuanya berjalan sewajarnya sampai satu isi kepala dengan isi kepala lain berbenturan. Muncul konfik. Kadang bersinggungan sampai bersitegang. Kadang cair dan beraduk meski tak tercampur rata. Karena isi kepala berbeda dengan adonan kue bolu.

Bahkan dalam satu rumah yang isinya satu keluarga pun demikian. Sesama anak, sesama saudara, bahkan saudara kembar, tentu tak ada yang mau disamakan isi kepalanya. Semua punya cara masing-masing untuk mencapai kondisi idealnya sebagai manusia. Kondisi ini hadir dalam pementasan Bukan Rumah Gue Teater Gumilar.

Bukan Rumah Gue menghadirkan keluarga yang sedang mempersiapkan ruwatan, tradisi kumpul setiap lima tahun sekali. Pada ruwatan ini berdatanganlah seluruh saudara yang sudah melanglang ke kota-kota lain, ke rumah orang tua yang sekarang di bawah asuhan saudara tertua, Nabiel yang kini sudah sakit-sakitan dan hanya bisa duduk di kursi roda, dan Bude Ani, si saudara perempuan yang sangat percaya pada tradisi weton Jawa. Sementara saudara-saudara mereka telah pergi meninggalkan rumah untuk mencari kehidupannya sendiri, dan lingkaran keluarga yang masih ada di sekitar rumah itu adalah Si Kembar John dan Jhon bersama Ade ibunya, Evi dengan anak laki-lakinya yang pengangguran, dan Magor, saudara yang hobinya mengasah pisau dan meninggalkan rumah sendirian untuk memancing.

Dari para tokoh, interaksi yang ada pada awalnya begitu luwes dan memikat. Bude Ani yang sibuk menjahit taplak putih untuk jamuan makan pada malam ruwatan, para ibu-ibu dengan kesibukan dapur, dan para anak yang sibuk dengan dunianya. Sebuah pemanggungan keseharian yang akrab dan dekat. Sehingga menontonnya pun seperti menonton drama rumah tetangga dengan menikmati suasana hiruk pikuk di rumahnya. Namun, tiap-tiap tokoh hadir dengan karakter yang mewakili kegelisahan masing-masing generasi.

Adalah si pemuda pengangguran, Ari, yang hobinya nongkrong di lapangan untuk mengisi hari-harinya, supaya paling tidak bisa dapat rokok. Ketika ia berniat mencari pekerjaan, ibunya melarang. Ia pun menuduh ibunya sengaja menahannya supaya tetap bisa mengomelinya. Apalagi setelah ayahnya ditahan karena judi adu burung, makin gencarlah Ari diomeli oleh Elvi.

Sementara si kembar John dan John, punya karakter dan kegemaran yang berbeda, John yang pertama adalah seorang kutu buku dengan julukan si jenius, selalu di rumah, sibuk membuka menutup kulkas dan ketika bicara kata-katanya dipenuhi macam-macam teori. Sementara Jhon yang kedua, adalah seorang anak band yang kalau di rumah menyetel musik rock keras-keras dan lebih sering menghabiskan waktunya di studio musik. Pasangan kembar ini memang tidak dimainkan oleh pemain kembar. Ini yang meninggalkan pertanyaan, masih perlukah mencari kesamaan, karena perbedaan itu yang justru membuat saling melihat satu sama lain, apakah bisa sampai saling melengkapi seperti John dan Jhon.  

Keponakan yang pertama datang adalah Albert. Ayah Albert adalah korban kerusuhan 98. Berceritalah Albert ketika sampai, “Pertemuan harus didatangi, untuk melawan rasa sakit. Meski melewati persimpangan jalan tempat dulu Ayah berteriak ‘pribumi, pribumi!’” Tapi menyimpan masa lalu itu, Albert tetap karakter yang menyenangkan, yang selalu menyempatkan mengajak sepupunya berjalan-jalan, termasuk John si jenius, karena menurut Jhon, John kurang piknik, dan “Jangan sampai terpaku sama huruf-huruf mati di buku.” Begitu kata Jhon.  

Kemudian kerabat lain menyusul berdatangan. Pasangan Frans dan Ida serta anak perempuan mereka, Maya. Sekilas tampak seperti keluarga ideal, tapi bukan tanpa cacat. Frans masih mencoba mendekati Ade, dan ternyata ia memang tukang selingkuh, merki selama ini ditutup-tutupi oleh Ida. Korbannya adalah anak mereka, Maya, selalu merasa sendirian.

Tokoh selanjutnya yang datang, Kreet, adalah seorang desainer pakaian yang tinggal di luar negeri. Ia muncul sebagai tante favorit. Ia punya salam spesial dengan John si Jenius, menawari keponakan perempuannya jadi model, dan ditagih desain baju oleh saudara-saudara perempuannya. Tapi orientasi terhadap lawan jenisnya yang jadi memicu konflik. Evi mencecarnya soal teman perempuannya. Kreet yang lesbian, tidak berhasil membuat saudaranya mengerti akan dirinya, atau bisa jadi saudaranya yang tidak berhasil mengerti.  

Magor, selalu hadir tiba-tiba di tengah suasana kumpul yang akrab dan selalu berhasil membawa aura yang tegang mencekam. Sambil mengasah pisau, misuh-misuhlah ia tentang suasana rumah, ramai seperti di pasar induk, katanya. Lalu mencecar suami Evi yang keluar masuk kantor polisi. Perilaku yang memancing bantahan dari Evi, lalu Ani, Ida dan Kreet yang saat itu ada di ruangan itu pun ikut-ikutan. Menyinyiri satu sama lain. Yang setengah janda menyinyiri yang jomblo, yang jomblo balas nyinyir. Membuka aib satu sama lain. Magor pun punya aib yang ternyata ditutupi. Setelah ditinggal kabur tunangannya, anak kecil lalu jadi pelampiasan, termasuk John, keponakannya sendiri, jadi sasaran.

Aib yang terungkapkan, memang bikin ngeri untuk didengarkan, tapi lalu memuaskan rasa penasaran. Mungkin juga pelarian dari beban pikiran, atau agar tak merasa berbeban sendirian. Drama yang bikin ternganga, tapi memang di sekitar kita ada.

Sesuatu yang dipendam, lama kelamaan akan meledak dan ledakannya bisa jadi tak terukur. Ruwatan kali ini, adalah kulminasinya. Perselisihan yang disembunyikan tak mampu diredam oleh pencitraan basa basi dan bertukar kabar. Di setiap rumah pasti ada konflik, tapi rumah juga adalah tempat kita pulang. Maka penulis naskah Bukan Rumah Gue, Yanto Le Honzo, lewat pementasan ini mengajak penonton untuk memaknai kembali rumah dan keluarga yang kita miliki. “Sekian banyak konflik itu bukan yang utama, tetapi justru bagaimana kita menyikapi konflik.”

Pada malam sebelum ruwatan, Ani bermimpi. Ayahnya datang lagi dan bertutur tentang cerita di balik keluarga mereka. Dari situlah terbongkar rahasia, Ani dan Nabil adalah sepasang kembar dampit, atau kembar laki-laki dan perempuan. Menurut mitos kejawen, kembar dampit seharusnya dipisahkan, tidak boleh tinggal serumah. Itulah yang dianggap akar semua persoalan.

Usaha naskah untuk mencolek penonton akan kekelaman sejarah 1965 juga hadir pada tokoh bapak, yang mati digantung oleh warga desa di rumahnya sendiri karena dituduh PKI. Usaha melatarbelakangi dua karakter bapak sebagai korban kejahatan kemanusiaan, Bapak dan Ayah Al, adalah usaha untuk memahami rumah secara lebih besar.

Le Honzo bilang, “Indonesia juga adalah rumah. Kita harus mengakui bahwa ada hal-hal yang membuat cara pandang berubah.” Karena sudut pandang cerita ini ada pada korban, maka bagi penonton yang jauh dari dua peristiwa itu, muncul empati. Mungkin bagi penonton atau juga pelaku, empati terhadap korban bisa berlanjut menjadi pemicu untuk menggali informasi lebih lanjut tentang sejarah kelam 1965 dan 1998.

Konflik dan karakter yang muncul pada cerita memang berangkat dari apa yang ada di sekitar kita. Tetapi melalui pemanggungan Bukan Rumah Gue, sutradara Mono Wangsa menghadirkan itu sebagai simbol dari sesuatu yang lebih besar, agar terasa dekat dan menyentuh. Katanya ketika ditemui seusai pementasan, “Kita ingin membicarakan keluarga yang benar-benar keluarga, dan keluarga besar bernama Indonesia, dengan anggota-anggotanya yang sudah tercerabut dari akarnya, kebersamaan tidak ada, gotong royong tidak ada, kepedulian tidak ada, masing-masing sibuk dengan persoalannya sendiri, masing-masing sibuk dengan konfliknya sendiri, masing-masing tidak mau menyelesaikan konfliknya, sehingga memendam dendam. Jadi di balik Bukan Rumah Gue, itu sebenarnya rumah gue. Seburuk-buruk apapun rumah kita, harus ada usaha memperbaiki.”

Karena sudah begitu umum pula, formula konflik pun sudah bertebaran pula di sinetron dan film arus utama. Tetapi, bentuk pemanggungan teater memiliki pendekatan yang berbeda daripada itu, selain dari segi teknis penyajian yang adalah pemanggungan. Ada sesuatu yang membuat para penonton di Graha Bakti Budaya malam itu, bertahan selama lebih dari dua jam pertunjukan. Bahkan pada bagian akhir pertunjukan, ketika datang Nana, si saudara ipar, istri dari Mons, yang ternyata membawa kabar duka bahwa Mons sudah meninggal. Bisa saja membaca almarhum Mons dengan mengacu pada esai Roland Barthes, yang mengatakan bahwa pada karya, penulis telah mati.

Pada pementasan, sutradara telah mati, maka pemaknaan dan penterjemahan bahasa pertunjukan menjadi milik penonton. Mons meninggalkan surat yang dibacakan oleh Nana. Pembacaan surat ini memakan waktu cukup panjang. Setelah pembacaan, masih ada lagi lagu penutup yang dinyanyikan choir bersama seluruh pemain. Bagian akhir yang panjang ini, membuat segelintir penonton memilih meninggalkan auditorium. Menurut Wangsa, itulah resiko pertunjukan teater. “Cuma sebagian kecil penonton yang pergi. Itu satu bukti bahwa media panggung punya daya rekat, punya daya pukau, punya daya pikat yang lebih tinggi ketimbang media sinetron dan film. Nonton sinetron, bisa sambil nyuci. Tetapi teater mempunyai ikatan dan korelasi antara pelaku dan penonton.”

Menonton teater, juga adalah proses. Pemaknaan akan timbul pada masing-masing kepala. Bukan Rumah Gue mengajak bertanya pada diri sendiri, meski pilihan memang selalu ada. Apakah kalau “rumah” kita rusak dan berantakan, lantas kita bisa menganggapnya bukan rumah kita lagi dengan pergi darinya dan meninggalkan semua keberantakan?

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here