Pasar Tontonan yang Rimbun

    0
    103

    Parade monolog Teater Kinasih: Asa Dalam Kata

    Setiap tahun, tanggal 9 Desember masih diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Internasional. Tandanya, tindakan korupsi masih ada, masih dilakukan, dan masih diperangi. Pertunjukan kesenian menjadi salah satu cara untuk membuat diri menjadi mawas akan korupsi, dan menyebarluaskan pesan anti korupsi. Inilah alasannya Teater Kinasih menggelar parade monolog untuk memperingati Hari Anti Korupsi, 2017 ini. Asa Dalam Kata, judul paradenya. Judul yang optimis, karena kata-kata menjadi sarana penyampaian harapan. Judul yang romantis, masih percaya pada kata-kata. Semoga tidak picis.

    Alasan berkarya akan selalu ada selama ada kegelisahan. Panggung akan selalu diisi sebagai bagian dari proses yang terus berlanjut. Enam pemonolog telah menjalani proses itu dengan memulai dari menulis naskah monolognya sendiri. Korupsi memang menggelisahkan. Disadari ataupun tidak, dirasakan secara langsung ataupun tidak, selalu ada yang jadi korban. Maka enam pemonolog ini memilih sudut pandangnya masing-masing untuk bercerita.

    Monolog pertama dari Jelita Purnamasari, Cermin Keresahan, bercerita tentang koruptor yang minta ditangkap. Cerita yang mengingatkan pada monolog yang ditulis oleh Agus Noor, Koruptor yang Budiman. Namun beda, tentu saja. Koruptor Jelita adalah sosok yang menyerahkan diri setelah histeris dan diliputi dengan perasaan melulu dikejar-kejar. Jelita memainkan sosok koruptor yang ingin memuntahkan semua perasaan bersalahnya, dengan ditangkap dan dijatuhi hukuman, barulah ia merasa lega. Kepanikan dan histeria si tokoh ini mendominasi hampir seluruh cerita, sehingga penonton disuguhkan situasi yang melulu intens.

    Monolog kedua juga bercerita dari sudut pandang koruptor. Rasuahku, oleh Stefani Dwi Intan berusaha mengawinkan tari topeng Cirebonan dengan monolognya. Tarian pembuka, si koruptor muncul mengenakan topeng berwarna merah, diiringi musik kendang Sunda. Itulah wujud asli si koruptor yang jahat, yang ternyata calon wakil rakyat. Pada saat akan kampanye, topeng merah digantinya dengan topeng berwarna putih, baru ia naik ke podium tempatnya menyampaikan janji-janji kampanye, dan ditutup dengan pembagian sembako gratis, lengkap dengan pesan-pesan pemilihan.

    Rasuah, kata yang dipilih dalam judul, memang berarti sogokan. Pada bagian akhir, setelah bersusah payah melepaskan topeng dari wajahnya, ia rebah di lantai podium yang tadi jadi tempatnya berpijak ketika kampanye, dengan wajah tanpa topeng yang ternyata penuh borok dan koreng.

    Melempar pertanyaan pada penonton, “Sudah puaskah kalian setelah melihat wajahku?” Akhir yang seperti mengingatkan, setelah melihat koruptor dibongkar aibnya, lalu apa? Apalagi yang jadi bagian khalayak setelah menonton berita korupsi?

    Koruptor yang dimetaforakan sebagai tikus, hadir di monolog Ratu Tikus oleh Nurul Novian. Meskipun ia tikus, dan sudah dikandangkan, tapi Si Ratu masih bisa keluar masuk kandangnya dengan bebas. Malahan sebagai koruptor alat kesehatan, masih sempat-sempatnya menyinyiri mahasiswa, yang sebagian besar adalah penonton, “Memangnya kalian sudah berapa kali titip absen?”

    Tetapi memang, korupsi tidak hanya bisa dilihat sebagai sesuatu yang jauh dan hanya bisa dilakukan oleh para pejabat saja. Menyelewengkan dan menyalahgunakan uang yang bukan sepemiliknya, betapa kecil jumlahnya, atau menyalahgunakan waktu, juga bisa dikategorikan korupsi. Korupsi pada kedisiplinan diri sendiri.

    Ada pula satu bentuk pemanggungan oleh Aria A, yang disebutnya sendiri sebagai monoplay. Ia bermain pantomim, tetapi juga dengan sambil menyanyikan lagu putus cinta. Sebagai mime, ia memulai play-nya dengan rias wajah tidak utuh, yang lalu diselesaikannya di panggung. Si mime kemudian mencoba bunuh diri, tapi tali gantungan terus menerus lepas. Ia tidak berhasil mengakhiri hidupnya.

    Akhirnya, dipakainya lagi jas dan dasi. Mime yang jenaka memang selalu menarik dan memancing tawa. Diskusi selepas pentas menjelaskan maksud monoplay-nya. Sebenarnya si mime adalah koruptor. Niatnya bunuh diri yang tidak berhasil telah membuatnya sadar, bahwa hidupnya harus terus berlanjut untuk mencuci dosa-dosa korupsinya. Namun resiko bentuk pantomim, meskipun menuai tawa dari penonton, cerita itu menjadi multitafsir dan bentukan koruptor tidak sepenuhnya mewujud pada mime.

    Pada monolog Persimpangan Naluri oleh Fauzia Jamilah, dihadirkan sosok asisten rumah tangga yang bimbang. Bimbang karena ingin berhenti dari majikannya yang seorang koruptor, tapi didesak kebutuhan ekonomi dan keterbatasan dirinya yang cuma punya satu ginjal setelah mendonorkan satunya lagi pada anaknya.

    Si asisten rumah tangga ini merasa, meskipun hasil keringatnya sendiri, tapi uang yang diterimanya tetaplah uang haram. Monolog yang berupa fragmen realis ini mencoba menunjukkan betapa mengerikannya beban mental yang ditimbulkan oleh seorang koruptor, yang bahkan sampai menghantui orang-orang di sekitarnya.

    Kemarahan pada seorang koruptor, digumpalkan dalam monolog Sang Penghukum oleh Riandy Rizky. Ia menghadirkan tokoh algojo di planet antah berantah yang tugasnya menghukum para pesakitan kriminal.

    Dari berbagai jenis pesakitan yang disiksanya, si algojo memilih untuk menghukum koruptor dengan siksaan yang paling keji. Lalu bertemulah ia dengan seorang koruptor yang bisa-bisanya menghasutnya untuk mengurangi kadar kekejian hukuman. Ketika hasutan itu berhasil, si algojo malah berada di posisi pesakitan karena akhirnya menyalahgunakan kuasanya, untuk tidak menghukum koruptor seberat-beratnya.

    Kata orang, korupsi memang bisa menular. Yang satu melakukan, yang lain bisa ikut-ikutan. Alasan dan pembenaran bisa saja dicari-cari.

    Enam pemonolog menjalani proses persiapannya menulis sendiri naskah, sebagai tuntutan untuk setiap individu agar berani mengelola keresahan menjadi ide kemudian mengejawantahkan menjadi karya. Menurut Nur Rahmat SN, yang dipercaya untuk membimbing Teater Kinasih dalam proses berteater, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menjadi seorang aktor teater.

    Bermain monolog, bermain dan berlakon dengan diri sendiri adalah tahap pertama yang paling dasar. Inilah tahap satu belajar menjadi aktor. Tuntutan jaman yang ada kalanya membuat proses ini dilupakan dan tahap-tahap dilompati, membuahkan hasil yang kurang matang. Dalam teaser monolognya sendiri (atau memang hanya sebagian yang dibawakan), Bunga di Atas Awan-Awan karya Taufan S Chandranegara sebagai penutup parade, ketika sampai pada bagian yang “Mengingatkan untuk menguasai realisme dengan matang sebagai dasar, barulah bermain dengan tubuh agar prosesnya jelas dan fokus, tidak serta merta tergagap menjadi kontemporer”, monolognya diputus. Memang membekas. Tapi tetap belum tuntas.

    Bentuk acara parade ternyata dimaksudkan sebagai adaptasi dari pasar tontonan rakyat. Arena yang meleburkan berbagai jenis tontonan menjadi cair dengan penonton. Di era dua dekade lampau, pasar tontonan ini lazim ditemui, dengan panggung-panggung yang bertebaran, yang kesemuanya berisikan pertunjukan tradisional dari berbagai daerah.

    Parade ini mencoba membangunkan arena itu, enam monolog dimainkan pada enam panggung berbeda yang mengisi sisi-sisi auditorium. Dua belas jasad bebegig raksasa yang tergantung, racikan tangan tim artistik Rempah-Rempah beserta tim dari USB UnPak (UKM Seni dan Budaya Universitas Pakuan Bogor) sebagai simbol para koruptor yang digantung, mencipta atmosfir magis. World music dari Retumusic juga ada dan berinteraksi pada tiap-tiap monolog. Silaturahmi seni datang dari Komunitas Ranggon Sastra yang membawakan musikalisasi puisi dan USB UnPak yang menampilkan penggalan ritual Nyinglar Hama. Pasar tontonan yang rimbun dengan biji-biji padi yang bernas, semakin merunduk mendekat ke bumi.

    Foto-foto: Dokumentasi Kaphac32

    SHARE
    Maria Natasha
    Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here