Rumah Terakhir oleh Teater Pandu: Kesaksian Para Arwah

0
20

 

Dengan mengenakan beskap putih, di tengah ruang keluarga rumahnya, Atma Wilaga menghadapi kedua anak laki-lakinya, Karta dan Sasmita, mengumumkan perjodohan antara Karta dengan Dewi, perempuan yang telah dipilihkan olehnya. Perjodohan yang akan menjadi awal mula perseteruan dalam keluarga, hingga pembunuhan berantai.

Berlatar adat Cianjur, sang ayah Atma Wilaga mewanti-wantikan falsafah hidup pada anak-anaknya. Adalah trisaka, yaitu tiga pilar ngaos, mamaos dan maen po. Ngaos yang berarti mengaji, mengacu pada keilmuan, mamaos adalah tembang Sunda Cianjuran, mengacu pada kebudayaan dan budi pekerti luhur serta maen po, yang adalah bela diri pencak silat, yang mengacu pada keterampilan dan kerja keras. Tiga hal yang berangkat dari tradisi dan selayaknya mengantarkan individu pada keseimbangan, kehidupan yang berbudaya dan sarat guna sebagai manusia. Namun, selayaknya drama pula, konsepsi ideal ini yang nantinya akan runtuh pada si tokoh antagonis.

Pertunjukan beralih pada sesosok laki-laki muda yang punggungnya berpunuk dan tubuhnya bungkuk, berteriak-teriak minta dibukakan pintu. Dari tempatnya terkurung, ia dihampiri oleh sesosok perempuan yang meskipun adalah arwah, bisa berkomunikasi dengannya. Perempuan itulah Dewi, ibunya. Darsa pun juga bisa berkomunikasi dengan arwah ayahnya. Karakter-karakter yang adalah arwah ditunjukkan dengan suara dari sayap-sayap panggung sebelum akhirnya masuk ke panggung. Para arwah inilah yang menceritakan jalannya konflik dalam cerita. Siapa membenci siapa, siapa membunuh siapa, siapa beranak dengan siapa.

Drama ini mengambil konflik yang klasik, perseteruan perebutan harta dan tahta. Perseteruan yang menurun hingga ke generasi selanjutnya, tiga puluh tahun setelahnya. Nafsu yang menyetir orang-orang yang ada di dalamnya hingga tega membunuh keluarga sendiri menggumpal pada Sasmita, si saudara yang antagonis, tega menenggelamkan Karta, saudara kandungnya untuk kemudian mengambil Dewi sebagai istrinya, meski ia sudah memiliki dua istri, Endah dan Dice. Dewi, yang muncul sebagai arwah, awalnya menempatkan dirinya sebagai korban. Ia dibunuh oleh anak-anaknya sendiri, Putra dan Putri, yang juga membunuh Dice. Tapi kesaksian arwah Dice dan Karta berkata lain lagi, sebenarnya Dewi sudah membuang Darsa, anaknya sendiri, ke sawah agar mati kelaparan. Namun Darsa diselamatkan dan dibesarkan oleh dua kelelawar yang tetap mendampinginya. Darsa berhasil bertahan hidup meski akhirnya tumbuh dengan tak sempurna, punggungnya berpunuk dan jalannya bungkuk, sosok yang memancing iba, apalagi karena ia disekap oleh Putra dan Putri, saudara- saudaranya yang jahat.

Meskipun Arwah Dewi bisa berbicara dengan Darsa, tapi setiap kali ia mencoba mendekati Darsa, kedua kelelawar mencambukinya hingga akhirnya ia jatuh pingsan. Tokoh dua kelelawar supernatural ini yang memberikan warna kelam yang menarik pada bentukan adegan di panggung. Merekalah para sureal yang mencoba membawa suasana magis di antara pengadeganan realis dari dialog para arwah. Adegan-adegan terasa sibuk dengan narasi dari masing-masing tokoh tentang apa yang terjadi di masa silam. Pada beberapa narasi, terasa sulit menyerap kejadian-kejadian masa lalu yang dikisahkan para arwah. Untuk memahami alur cerita yang utuh, penonton harus memasang telinga baik-baik dan menjalin potongan-potongan cerita dari masing-masing arwah. Sebagai drama yang berliku-liku, penonton dibuat menunggu-nunggu penjelasan mengenai penyebab kematian tiap tokoh, dan siapa pembunuhnya.

Dengan dialek Sunda, beberapa dialog yang disampaikan Darsa jadi terasa berbau komedi dan memancing tawa penonton. Betapapun mengenaskannya keadaan Darsa sebagai korban, ia tetap seorang yang polos dan merindukan bapaknya yang hilang karena mati dibunuh. Karena kepolosan sikapnya yang menerima keadaan ini, Darsa ditertawakan. Sementara komedi yang menempel pada Sasmita adalah komedi yang cringe, muncul dari adegan yang memalukan ketika ia memerosotkan sarung dan menampakkan celana dalam merahnya. Tawa penonton memang lebih mudah dipancing dengan hal-hal demikian.

Si tokoh antagonis Sasmita, merasa telah menang karena sudah berhasil menyingkirkan saudaranya, Karta. Padahal, Karta masih hadir, meskipun sebagai arwah, untuk menghantui Sasmita. Kejahatan Sasmita adalah karena keyakinannya bahwa, “Manusia memang dilahirkan untuk bersaing. Siapa yang paling cermat berhitung, ia yang akan mendapat keuntungan.” Arwah Karta langsung menghardik perkataan Sasmita ini, “Kapitalis! Menghancurkan trisaka!” Ini adalah usaha naskah untuk menjadi relevan dengan jaman ini, ketika ideologi kapitalisme mengendalikan sistem, kemudian orang-orang yang ada di dalamnya, sebagai individu juga saling bersaing dan bekerja hanya untuk mendapatkan keuntungan, tanpa kenal keluarga dan mengabaikan keilmuan, budi pekerti luhur dan kerja keras. Menonton pementasan Rumah Terakhir, berhadapan dengan konflik yang bermula dari keluarga, seperti menarik pola pikir untuk kembali ke dalam keluarga, sebagai struktur sosial terkecil, yang akan membentuk karakter individu yang nantinya akan menjadi bagian dari struktur sosial yang lebih luas.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here