Tuhan yang Jahat

0
46

Resensi salah satu penampilan di Festival Teater Jakarta 2017:

Televisi di Atas Ranjang, Teater Em

Cangkang-cangkang pesawat televisi bertebaran di latar putih. Suasana genting terasa dari lampu-lampu menyala merah dan mengawali adegan carut-marut tokoh Perempuan Teater Tua di pojok depan panggung. Di tengah-tengah seolah mendominasi, karakter yang dinamai Tuhan Media sedang memperkosa seorang gadis muda. Gadis muda yang berteriak repetitif, “Aku nggak mau jadi artis, Bunda!”.

Sementara si Gadis Muda berusaha bertahan dari pemerkosaan, si Perempuan Tua mencaci media. Adegan berlanjut dengan muncul lagi satu karakter calon bintang muda, juga diperankan oleh pemain perempuan, dengan tank top pink berpayet dan sepatu sneakers Nike warna-warni. Si Bintang Muda ber-tank top pink membawa televisi layar datar sambil berulang kali menyebut nama-nama populer yang sering terdengar di televisi, mulai dari Nikita Willy hingga Nikita Mirzani, sembari memeluk dan menciumi layar televisi yang dibawa-bawanya.

Selama tiga puluh menit awal pementasan, adegan terasa gosong di atas panggung. Dari menit-menit awal, penonton sudah menangkap bahwa konflik yang muncul adalah proses teater yang berseberangan dengan produk televisi yang populer. Emosi para pemain yang melulu ada di puncak dan repetisi kata-kata menggodok konflik tanpa ada klimaks.

Setiap nama selebriti papan atas yang disebut-sebutnya itu ditimpali oleh si Perempuan Teater Tua, dengan makian “Haram!”. Hingga pada suatu titik, mereka timpal menimpal sebatas nama artis dengan nama tokoh dan seniman teater, “Nikita Willy!”, “Stanislavski!”, “Prilly Latuconsina!”, “Grotowsky!”, “Nikita Mirzani!”, “Malna!”.

Begitu terus sambil saling melempar buku dan cangkang televisi. Bentukan adegan ini bisa sangat mudah ditangkap oleh penonton dengan latar belakang pelaku panggung, sebagai perseberangan antara teater dengan sinetron. Nama-nama selebriti pemain sinetron memang dengan mudah terekam di benak khalayak televisi. Mendengar namanya saja, sudah terbayang wajah hingga sosok perempuan muda itu lengkap dengan tipikal rambut berona kecoklatan, make up dengan alis yang digambar dan kulit putih-badan langsing. Tapi mendengar nama tokoh teater disebutkan dengan membabi buta, buat penonton (awam), apalah artinya?

Kalau para selebriti berhasil membuat khalayaknya merasa terhibur dan merasa punya impian, itu pun tentu hasil cekokan dari media, khususnya televisi. Tetapi kondisi seni pertujukan yang jauh dari populer, membuat para pelakunya harus punya usaha lebih untuk mencari ruang, materi, partner bahkan waktu untuk belajar. Sedemikian mahalnya metode pembelajaran teater, tak tersedia di ruang-ruang yang gampang ditemui. Sedemikian mahalnya metode pembelajaran teater, sebuah kelas akting teater dengan metode Stanislavski bisa dihargai jutaan rupiah.

Kondisi perteateran yang jatuh bangun digambarkan dalam sosok Perempuan Tua dengan keadaannya yang terlihat memilukan. Tanpa rambut, pakaian yang serba hitam dan dengan ekspresi yang melulu miris. Monolog awalnya menceritakan kehidupan pribadi yang serba susah dan diliputi persoalan ekonomi semenjak toko milik orang tuanya terbakar, sehingga memaksanya terperangkap, hidup dengan lauk tahu tempe dan buku-buku bekas, ditambah dengan penyakit yang membuatnya kehilangan rambutnya. Monolog awal ini terasa sumbang dan bias, jika dipahami sebagai simbol, memang banyak problematika yang dihadapi kelompok dan komunitas teater dari mulai kekurangan SDM hingga kekurangan biaya pentas. Tetapi simbolisasi problematika teater ke dalam masalah pribadi inilah yang membuatnya bias, dan semakin jauh dari menemukan solusi.

Si tokoh Teater Tua, membayangkan suatu taman yang penuh dengan anak-anak yang berlari-lari dengan bahagia, anak-anak yang pada imajinasinya akan tumbuh seutuhnya sebagai manusia, tanpa dibutakan oleh lampu-lampu dari layar televisi. Konsepsi yang ideal ini dibantah oleh si tokoh gadis calon bintang, bahwa itu hanya kebohongan, bahwa anak-anak itu sebenarnya lapar. Bahwa benar, televisi dengan kontennya yang warna-warni memang jauh lebih mudah diterima oleh anak-anak, bahkan oleh semua kalangan, daripada teater yang seringkali terkesan eksklusif dan sulit dijangkau. Bahwa benar, buat orang-orang yang lapar hiburan, televisi jauh lebih nikmat dan mudah didapat. Buat orang-orang yang lapar hiburan, sudah tak sempat lagi mencari proses menjadi manusia seutuhnya lewat teater. Kepentingan masing-masing untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sudah terlalu menghabiskan waktu hingga belum tentu ada sisanya untuk berlangganan agenda program kesenian lewat email dan memantau timeline media sosial untuk mendapatkan jadwal pertunjukan di pusat-pusat kebudayaan.

Bagi para pelaku seni pertunjukan, produksi sinetron memang lazim dianggap sebagai kegiatan penciptaan yang menegasikan proses. Isu ini sering muncul ke permukaan dengan nuansa yang sangat sinis, bahwa pemain teater yang memilih untuk terjun ke dalam proses sinetron sebagai pelaku seni yang dianggap berkhianat terhadap proses. Proses penciptaan karya dalam teater yang dianggap sakral, mulai dari segala macam pengolahan tubuh dan rasa dalam keaktoran, membangun adegan demi adegan, dan penyutradaraan yang teliti menyentuh sisi-sisi kemanusiaan para pelaku yang terlibat.

Peletakan karakter Tuhan Media sebagai tokoh antagonis pun, terasa hanya di kulit. Khalayak yang juga mengonsumsi jenis media lain akan bertanya-tanya, benarkah televisi dengan konten sinetron dan infotainment adalah Tuhan Media? Benarkah televisi hanya membawa dampak buruk bagi proses para pelaku teater khususnya, dan khalayak luas pada umumnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan mudah terkupas menggunakan literasi media, dan metode-metode penerapan dengan filterisasi konten televisi. Konten televisi menjadi jahat karena adanya konglomerasi media yang mbleber ke ranah politik. Maka, konten televisi jika diterima mentah-mentah, tentunya memang akan memancing konflik. Kontroversi adalah formula yang digunakan pihak-pihak di balik layar televisi untuk memancing reaksi dan menjadikan kontennya laris manis dikonsumsi. Padahal, pola pikir kritis literasi media sudah digaungkan oleh para intelektual.

Kaum pelaku teater yang mengagungkan proses, sepatutnya adalah mereka yang memiliki kapasitas intelektual untuk menyaring konten televisi. Sehingga, membandingkan produk televisi seperti infotainment dan sinetron dengan proses penciptaan karya dalam teater, adalah percuma.

Percuma karena, produk televisi yang nir-proses tidak pada tempatnya untuk dikonsumsi selayaknya mengonsumsi sebuah pertunjukan teater. Percuma karena, para pelaku teater yang memilih untuk terlibat dalam produksi sinetron, tidak mencari proses yang mematangkan dirinya sebagai aktor dan sebagai manusia. Maka, pilihan yang diambil sebatas mencari uang.

Membandingkan konten televisi dan teater, apalagi mengharamkan nama-nama selebritis serta pandangan sinis terhadap pelaku teater yang memilih masuk dalam produksi konten televisi, hanya semakin menambah eksklusivitas teater. Bagaimana publik di luar perteateran akan bisa mengenal dan menghargai teater dengan segala proses yang ada di dalamnya, jika teater memandang sinis pada mereka yang ada di luarnya?

Pada bagian akhir, karakter Tuhan Media berhasil menjadikan si gadis calon bintang dan si gadis yang menolak jadi artis, sebagai peliharaannya, digambarkan dengan tali yang diikatkannya ke kedua gadis itu sehingga ia berkuasa mencambuki mereka dan menggiring dua gadis itu kemanapun ia mau. Sementara si Perempuan Teater Tua menutup pementasan dengan pernyataan, mereka sudah memilih nasibnya masing-masing. Pernyataan si Perempuan Teater Tua disampaikan dengan gestur dan ekspresi miris seolah penuh kekalahan.

Akan tetap ada televisi dengan kontennya yang ringan dan populer, akan tetap ada para calon bintang yang suka rela menjadi ‘peliharaan’ media televisi, serta akan tetap ada pula khalayaknya. Sementara itu, akan tetap ada mereka yang memilih berproses dalam teater, mencari jalan menemukan kemanusiaannya melalui latihan-latihan dan naskah-naskah dan belajar teater sebagai belajar tentang kehidupan. Pertanyaannya, kalau mereka sudah benar-benar memilih nasib masing-masing, maka haruskah teater menanggapinya dengan miris dan penuh kekalahan?

SHARE

Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here