Cut Nyak Dhien: Kilas Balik di Masa Pengasingan

0
28
Foto oleh Nazri Zuliansyah.

Cut Nyak Dhien, begitu marah ia pada kapai-kapaii Belanda. Begitu gigih ia melawan kapai-kapai yang hendak menduduki dan merebut Nanggroeii-nya. Namun, sebagai perempuan ia tetap memiliki sisi yang lembut dan peka. Sisi inilah yang disampaikan pada monolog Cut Nyak Dhien oleh Sha Ine Febriyanti, di Bentara Budaya Jakarta (16/11) lalu.

Pementasan dibuka dengan alunan tetabuhan rapa’i Aceh, lalu sosok Cut Nyakiii memasuki panggung, dengan langkah tersendat dan berat. Itulah Cut Nyak pada masa tuanya, di tengah pengasingan dan kebutaan, Cut Nyak hanya bisa memendam kerinduan yang mendalam akan tanah kelahirannya, hutan-hutan yang jadi saksi bisu pergerilyaannya, juga anak-anaknya. Sha Ine, memerankan Cut Nyak, bertutur dari kursi kayu panjang dengan suara lirih tentang hutan-hutan di Nanggroe, dan anak-anaknya yang ditinggalkannya. Suasana pengasingan ini begitu muram dengan iringan cello oleh Jassin Burhan, yang juga membawa aura puitik sepanjang monolog.

Adegan dibangun dengan formulasi kilas balik. Cut Nyak remaja, harus dinikahkan dengan Teuku Ibrahim. “Saat itu aku belum mengerti apa itu cinta, tubuhku pun belum tumbuh jadi perempuan seutuhnya.”, kata Cut Nyak. Tapi pernikahannya dengan Teuku Ibrahim inilah yang semakin membawanya dalam semangat perlawanan. Teuku Ibrahim, adalah panglima perlawanan rakyat Aceh terhadap pasukan kolonial Belanda. Kata Teuku Ibrahim pada Cut Nyak, “Agama tidak hanya mengatur kita dengan Tuhan tetapi juga mewajibkan kita melawan ketidakadilan.” Sebagai istri, kerap Cut Nyak melepas Ibrahim ke medan perang, ia yakin suaminya akan pulang. Sekali waktu, saat Ibrahim pamit, cemas dirasa Cut Nyak. Kepekaannya kala itu adalah pertanda. Ibrahim pulang dengan peluru menembus kepala. Sikap Cut Nyak yang tegar kala itu karena alasan, “Sebaik-baiknya mati adalah syahid.”

Kata Cut Nyak, “Seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya dalam masa perang adalah benteng yang paling kokoh. Tak akan kubiarkan sedikitpun mereka tumbuh dalam rasa takut.” Semenjak masih ditimang, anak-anaknya, Ibrahim dan Cut Gambang sudah menyerap semangat perlawanan dari hikayat tentang perang. Seperti dituturkan Cut Nyak pada anak-anaknya, hikayat Mahudun Sati dan rakyatnya yang berkeras mempertahankan wilayahnya dari serangan Sultan Aceh hingga darah yang mengalir terlihat seperti sungai dan mayat-mayat bergelimpangan, dan ia pun harus ditangkap dan disiksa dengan keji.

Sepeninggal suami pertamanya Teuku Ibrahim, Cut Nyak dilamar oleh Teuku Umar. Lamaran itu awalnya ditolaknya, tapi akhirnya diterima setelah Umar menjanjikan ia akan melanjutkan perjuangan Teuku Ibrahim. Mereka membangun perjuangan dengan strategi tipu muslihat. Strategi ini sedemikian rapinya sehingga membuat orang-orang di sekitarnya mengira mereka telah berkhianat.

Perpindahan emosi dari satu adegan ke adegan yang lain kian membuat suasana intens. Formulasi kilas balik menuntut kemampuan aktor untuk merubah emosi serta pengejawantahannya dalam gestur, warna vokal dan ekspresi. Cut Nyak yang dihadirkan Sha Ine, adalah Cut Nyak yang padat dengan perpindahan emosi. Pada sebuah klimaks, penuh amarahnya mencaci kapai-kapai saat Mesjid Agung dibakar dan perempuan-perempuan di kampungnya diculik. Pada bagian lain, saat adegan Cut Nyak turun ke medan perang, geram ekspresi kemarahan beralih senyum kemenangan dengan rencongnya terangkat tinggi saat Cut Nyak bersama Umar dan pasukan mereka berhasil menggempur bangsa kapai, merebut senjata, dan terus melawan hingga bertahun-tahun. Ijasalwaiv yang dikenakannya tersingkap hingga ke gelung rambut, rencongnya terangkat tinggi. Adegan ini begitu menggetarkannya hingga beberapa penonton bangkit dari kursi untuk mengabadikan panggung ke dalam ponsel pintar, tak peduli menghalangi penonton lain di kursi belakang.

Saat adegan perang, chaos dibangun dengan bantuan musik hidup, suara latar digital dan mapping buatan Icang yang mendukung. Sorotan cahaya proyektor jadi punya fungsi lebih untuk membentuk siluet aktor pada backdrop serta sekaligus sebagai pencahayaan panggung untuk transisi suasana, dari adegan memori-memori melankolis Cut Nyak beralih menuju memori tentang perang. Slide-slide yang dipilih terasa mewakili latar yang dikenang Cut Nyak. Peralihan mapping, musik yang menambah intensitas suasana, dengan penempatan waktu yang rapi, membangun saat-saat genting jadi semakin mendebarkan. Aktor dan elemen-elemen pementasan saling mengisi hingga energi panggung menular pada penonton. Klimaks muncul pada beberapa adegan sehingga grafik pementasan pun dinamis. Selama empat puluh menit durasi, monolog terasa padat namun bernas.

Mengenai bentuk pertunjukan monolog, tradisi Aceh sebenarnya telah mengenal seni bertutur bahkan dari jaman Cut Nyak. Ini biasa disebut meuratoeh. Dalam bahasa Aceh, ratoeh artinya ocehan. Dalam tradisi meratoeh, kisah yang disampaikan biasanya berisi hikayat dalam bentuk syair atau prosa. Penyampaiannya mirip dengan monolog, dengan seorang pencerita yang bertutur di depan orang banyak. Di jaman perang, meuratoeh adalah media tentang kisah-kisah peperangan serta ajaran agama, dan bertujuan untuk membakar semangat para prajurit perang. Maka, meuratoeh pada masa itu bukan dikonsumsi sebagai hiburan publik. Pada perkembangannya nanti, barulah bentukan meuratoh berubah menjadi pertunjukan dan dikategorikan hiburan.

Monolog ini telah membawa penonton untuk mengenal pribadi Cut Nyak, masuk dan menyelami perasaannya sebagai seorang perempuan, sebagai pahlawan yang terbakar amarahnya saat tanah airnya dijajah oleh orang asing, sebagai orang yang diasingkan. Pertunjukan yang berkisah tentang sejarah, seperti pertunjukan monolog ini, adalah wajah yang berbeda dalam penyajian informasi tentang sejarah dan tokoh-tokohnya.

i ) Kafir-kafir

ii ) Negeri

iii ) Bibi

iv ) Kerudung yang panjangnya hingga paha, biasa dikenakan perempuan Aceh.

SHARE

Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here