Usaha Mengapresiasi dan Mengenang si Binatang Jalang

0
105
https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2017/11/12/poster-perempuan-Sumber: perempuan-chairil-5a0870e763b24841a4499522.jpg

Perempuan adalah salah satu hal yang tak luput dijadikan tema untuk sajak yang dibuat oleh penyair pelopor angkatan ’45, Chairil Anwar. Tak sedikit sajaknya yang menyebutkan nama perempuan. Baik disebutkan dalam bentuk dedikasi, disebutkan di judul, maupun yang disebutkan di dalam sajaknya sendiri. Inilah yang kemudian dijadikan tema pementasan berjudul ‘Perempuan Perempuan Chairil’ pada 11-12 November 2017 lalu di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pertunjukkan yang digarap oleh Titimangsa Foundation ini bersumber dari biografi Chairil Anwar karya Hasan Aspahani yang juga merupakan salah satu penulis naskah. Dari biografi tersebut diambil hanya bagian yang menceritakan Chairil Anwar (diperankan oleh Reza Rahadian) dan empat perempuan yang dikenal dekat dan sempat diabadikan dalam sajak karyanya yaitu, Ida Nasution (diperankan oleh Marsha Timothy), Sri Ajati (diperankan oleh Chelsea Islan), Mirat (diperankan oleh Tara Basro), dan Hapsah (diperankan oleh Sita Nursanti).

Pertunjukkan dibagi menjadi empat babak yang menampilkan interaksi Chairil Anwar kepada masing-masing perempuan. Keempat babak tersebut diawali semacam prolog dari Chairil yang bermonolog mengenai perempuan dan obrolannya dengan sahabatnya H.B. Jassin tentang topik yang sama. Di sini penonton diajak untuk memahami betapa perempuan menjadi sumber inspirasi bagi karya Chairil secara khusus dan perjuangan revolusi secara umum.

Sumber: Tim Dokumentasi Titimangsa Foundation

Ada satu kutipan dialog yang cukup menarik di bagian prolog ini, yaitu ketika Chairil menceritakan nasihat dari sahabatnya, “Jassin, dia selalu mengingatkan agar aku tidak tergoda pada perempuan malam. Tapi dia lupa, aku tidak pernah tergoda pada perempuan malam; mereka yang menggodaku.” Kutipan itu seakan menggambarkan seberpengaruh apa pesona dirinya sekaligus kejumawaannya sebagai lelaki yang cukup popular di antara para perempuan.

Setelah prolog, ada Ida Nasution, seorang mahasiswi Sastra Indonesia yang dikagumi Chairil. Ida adalah seorang penulis dan pemikir kritis yang bisa menyaingi intelektualitas Chairil ketika mereka berdebat. Namun kekaguman Chairil terhadap Ida nampaknya tidak dibalas dengan kadar yang sama. Dalam pertunjukkan, Chairil terlihat selalu gagal membuat Ida terkesan padanya.

Sumber: Tim Dokumentasi Titimangsa Fondation

Dari interaksi Chairil dengan Ida, penonton diperlihatkan tingginya kepercayaan diri Chairil. Inilah salah satu hal yang tidak disukai oleh Ida. Terlihat dari kalimat Chairil, “Kritikus terbaik puisi-puisiku bukan Jassin atau kau tapi aku sendiri!” ketika Ida mengatakan kalau Chairil sangat tidak suka dikritik.

Sri Ajati adalah salah satu perempuan yang tidak pernah tahu kalau ada sajak yang ditulis oleh Chairil Anwar untuknya. Chairil sangat mengagumi Sri yang juga seorang mahasiswi dan penyiar di jawatan radio yang aktif di berbagai kegiatan kesenian yakni menari dan sandiwara. Kekagumannya tidak pernah diungkapkan langsung kepada Sri. Sri baru mengetahui kalau Chairil pernah menulis sajak tentangnya beberapa tahun setelah sang penyair berpulang.

Sumber: Tim Dokumentasi Titimangsa Foundation

Sementara di babak ketiga, Chairil berkasih-kasihan dengan Mirat. Dialah perempuan yang membalas cinta Chairil dengan kadar yang tak kalah besarnya. Miratlah perempuan yang namanya cukup sering ditulis di sajak yang ditulis oleh si Binatang Jalang. Meski Chairil dan Mirat sempat bertunangan, akhirnya Mirat pergi karena Chairil selalu menghindar jika diajak untuk bertemu dengan orangtua Mirat.

Sumber: Tim Dokumentasi Titimangsa Foundation

Hapsah adalah satu-satunya perempuan yang dinikahi oleh Chairil Anwar dan memberikannya keturunan. Perempuan yang diceritakan pada babak keempat ini adalah perempuan biasa yang paling biasa jika dibandingkan dengan tiga perempuan sebelumnya. Dia juga satu-satunya perempuan yang tidak pernah dibuatkan sajak oleh Chairil Anwar. Chairil beralasan, “Kaulah puisiku sendiri, Hapsah. Maka itu aku kawini kau.”.

Sumber: Tim Dokumentasi Titimansa Foundation

Rumah tangga Chairil dengan Hapsah tidak bisa dikatakan harmonis. Mereka selalu bertengkar karena pada dasarnya pasangan suami-istri tersebut tidaklah saling mengerti satu sama lain. Hal tersebut juga diperparah dengan Chairil yang masih juga tidak memiliki pekerjaan tetap untuk menafkahi keluarganya. Puncaknya adalah Chairil diusir dari rumah karena Hapsah tidak tahan dengan perilaku suaminya itu.

Pertunjukkan diakhiri dengan sebuah epilog yang menampilkan interaksi Chairil dengan pelukis Affandi. Dengan Affandi, Chairil pun berkeluh kesah tentang rumah tangganya, tentang cita-citanya menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan, serta niatnya untuk membahagiakan Hapsah serta anak semata wayangnya ketika nanti buku kumpulan sajaknya dicetak dan dia mendapat uang royalti dari sana. Sebagai penutup, Chairil pun bermonolog dengan mendeklamasikan kombinasi sajak Derai Derai Cemara dan Selamat Tinggal.

Sumber: Tim Dokumentasi Titimangsa Foundation

Produksi kedelapan belas Titimangsa Foundation ini termasuk pertunjukkan yang unik. Naskah yang ditulis oleh Agus Noor, Hasan Aspahani, dan Ahda Imran berasal dari teks-teks sajak karya Chairil. Maka tak heran jika 90% dialog dan monolog yang diucapkan pada lakon ini merupakan sajak-sajak Chairil yang sudah terkenal seperti Aku, Tak Sepadan, Malam Di Pegunungan, Penerimaan, Rumahku, dan beberapa sajak lain yang menyebutkan nama Ida, Sri, dan Mirat di dalamnya.

Agus Noor yang juga sutradara dari pementasan ini menyebutnya sebagai ‘biografi puitik’. Di mana adegan dan percakapan dihidupkan kembali berdasarkan tafsir dari sajak-sajak Chairil. Pastinya percakapan yang ditampilkan bukanlah yang terjadi sesungguhnya antara Chairil dengan tokoh lainnya karena sangat mustahil dicari acuannya.

“Misalnya dengan Mirat, nyaris tak ada referensi yang dapat menjadi acuan tentang apa saja yang diobrolkan dan dipertentangkan antara Chairil dengan Mirat. Namun dari sajak-sajak Chairil yang ditulisnya untuk Mirat, kita bisa membayangkan pergulatan batin sang penyair yang kemudian menjadi dasar untuk membuat percakapan dan adegan,” ungkap Agus Noor seperti yang tertulis pada buklet pertunjukkan.

Produser Titimangsa Foundation, Happy Salma, merasakan penting sekali daya cipta dan karya Chairil Anwar disiarkan seluas-luasnya. Menurutnya, salah satu cara untuk mengenang dan mengapresiasi karya-karyanya adalah dengan terus mendengungkannya pada generasi sekarang dan masa depan. Untuk itu, dia memilih untuk mementaskannya ke sebuah panggung pertunjukkan.

Happy Salma bersama Titimangsa Foundation memang giat dalam usaha mengalihwahanakan karya sastra Indonesia ke atas panggung. Dia ingin agar karya Chairil Anwar bisa lebih dekat dengan orang-orang. “Kalau biografi terlalu rumit untuk dipindahkan ke panggung dan terlalu panjang. Jadi pilihannya adalah dengan mengambil lewat pintu sajak-sajak Chairil yang ada nama-nama perempuan di dalamnya,” ujarnya ketika ditemui seusai pementasan.

Meski ‘Perempuan Perempuan Chairil’ bisa disebut sebagai pertunjukkan yang sukses, terlihat dari penuhnya bangku penonton di dua malam pertunjukkan, Happy Salma mengaku tidak ada niat untuk membawanya ke layar perak.

“Wah saya gak tahu, itu sudah lain lagi. Karena saya memang fokus hanya dalam teater,” tutupnya.

SHARE
Sherly Febrina

Part-time journalist, part-time theatrical prostitute, full-time human being. Loves kretek like loving her life. Sounds paradox eh? ;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here