Aan Mansyur: Puisi Tak Sekadar Rangkaian Kata Indah

0
33

Martan Aan Mansyur atau lebih sering disapa Aan Mansyur adalah penyair kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982. Ia juga dikenal sebagai ‘hurufkecil’ di berbagai platform media sosial seperti Twitter, Tumblr, dan Medium. Namanya kian melejit ketika Riri Riza menggandengnya untuk bekerjasama menjadi orang yang berada di balik puisi Rangga kepada Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Sebenarnya menjadi penulis bukanlah cita-citanya meski Aan sudah memulai kegiatan tersebut sejak kecil. Menulis dijadikan Aan sebagai media untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya karena ia mengaku sejak dulu bukanlah orang yang suka berbicara.

“Saya dulu adalah orang yang gak suka ngomong, jadi apapun yang saya pikirkan atau pertanyakan semuanya saya tulis,” ucapnya.

Sering sakit-sakitan dan tidak boleh keluar rumah membuat Aan kecil lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan membaca banyak buku di kamar kakeknya. Karena jarang keluar rumah, kebutuhan bersosialisasi dengan teman sebaya dilakukan dengan cara mengirimkan surat berisi cerita-cerita yang didapat dari mendengarkan dongeng neneknya sebelum tidur kepada para sahabat pena-nya.

Sejak ditinggal pergi oleh ayahnya pada usia tujuh tahun, ibunya harus menghidupi Aan dan kedua saudaranya sendirian. Itulah yang menjadi titik awal Aan mulai menulis. Di usia remaja, ia pun mulai mengirimkan cerita-cerita pendeknya ke berbagai majalah dan membiayai sekolahnya dari honor menulis.

Di semester ketiga sebagai mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Hasanuddin, Makassar, Aan pun memantapkan diri untuk menjadi penulis dan menghidupi dirinya sendiri dengan menulis. Padahal dari kecil tidak pernah terpikir untuk menjadi penulis. Dengan keadaan ibunya yang ditinggal oleh sang ayah, tadinya Aan ingin menjadi pemusik agar dapat menghibur ibunya.

“Dulu aku malah bercita-cita ingin menjadi seorang pemusik. Karena dengan begitu aku pikir lebih mudah untuk menghibur ibuku,” tukasnya.

Ternyata tidak perlu menjadi pemusik untuk menghibur sang ibu. Dengan menjadi penulis pun, diakui Aan, ibunya bisa terhibur. Aan pun sering mengirimkan puisi buatannya kepada sang ibu. Saking seringnya, ibunya akan khawatir jika Aan sudah lama tidak mengirim puisi. Kalau sudah begini, Aan akan langsung menulis puisi atau menyadur puisi buatan penyair barat untuk kemudian dikirim kepada ibunya.

Menjadi Penyair

Aan mulai menulis puisi sejak kuliah. Baginya, menulis puisi adalah urusan menyampaikan sesuatu. Hakikat puisi sebenarnya sangat sederhana dan jauh dari kata rumit. Puisi tidak selalu soal bagaimana merangkai kata-kata indah atau sekadar curhatan dari penulisnya.

Ada nasihat umum bagi para penulis bahwa sebelum mulai menulis, kita harus mulai membaca. Sebagai penyair atau penulis puisi, nampaknya Aan benar-benar menghayati nasihat tersebut. Aan Mansyur pun memberi hal menarik dari membaca sebuah buku puisi. Menurutnya, dalam membaca puisi kita bisa membaca dengan bebas. Maksudnya, sebagai pembaca kita dibebaskan untuk memilih dari mana kita mulai membaca puisi di dalam buku kumpulan puisi. Berbeda jika kita membaca sebuah novel yang harus dimulai dari halaman pertama.

Sampai saat ini, Aan sudah menerbitkan 11 buku puisi. ‘Hujan Rintih-Rintih’ yang terbit di 2005 merupakan buku puisi pertamanya. Sementara ‘Tidak Ada New York Hari Ini’ yang terbit di 2016 bisa dibilang yang membuat namanya bersinar saat ini. ‘Sebelum Sendiri’ dan ‘Perjalanan Terakhir Menuju Bulan’ merupakan dua buku puisi terakhir dan terbaru yang terbit di 2017.

Menyatukan Kata dan Kerja

Aan menjadi pustakawan sejak tahun 1998. Namun ia tidak puas hanya sampai sana. Sebab baginya tidak ada perbedaan antara perpustakaannya dengan perpustakaan umum. Pada 2012, Aan melihat adanya dualisme dalam gerakan sosial anak muda di Makassar. Saat itu terdapat dua kubu yang terjebak pada activism (anak-anak muda gerakan sosial yang turun ke jalan) dan verbalism (anak-anak muda yang hanya berkutat pada diskusi-diskusi dan buku). Meskipun berbeda paham, bagi Aan kedua kubu tersebut memiliki misi yang baik bagi masyarakat di sekitar mereka.

Dari sanalah Aan bersama teman-temannya memutuskan untuk membentuk ‘KataKerja’. Namanya merupakan gabungan dari ‘kata’ dan ‘kerja’ untuk mewakili kedua kubu gerakan anak muda di Makassar. ‘KataKerja’ adalah sebuah komunitas sosial yang memberikan ruang bagi bagi anak-anak muda Makassar untuk saling bergerak, belajar, dan saling bertukar pikiran. “Meskipun dari luar terlihat seperti perpustakaan, namun sebenarnya KataKerja adalah ruang kreatif,” ujar Aan.

Aan percaya buku adalah media untuk mempertemukan banyak orang, di ‘KataKerja’ sering diadakan acara-acara bertema sosial. Seperti mempertemukan para peneliti dengan musisi sekitar untuk saling berbagi cerita, pemutaran film, atau sekadar mendengar cerita-cerita dari korban bencana alam untuk saling belajar.

Selain karena Aan percaya kalau buku adalah media yang tepat untuk mempertemukan banyak orang, terdapat pula tujuan lain mengapa dia beserta kawan-kawannya membentuk ‘KataKerja’. Mengingat lingkungan di Makassar masih kental feodalismenya, Aan dan kawan-kawan ingin menciptakan lingkungan masyarakat yang egaliter.

Ketika ditanya mengenai harapan bagi dunia sastra Indonesia ke depannya, Aan malah menjawab kalau harapan seharusnya diperuntukkan bagi penulisnya. Bukan dunia sastra secara umum. Baginya, apa yang sedang ia kerjakan sekarang sebenarnya hanya sedang mendokumentasikan kebodohan dan kecerdasannya dalam waktu bersamaan.

“Kalau saya membaca karya-karya lama, sebenarnya saya membaca sejarah pikir saya kan, sejarah keputusan-keputusan saya, dan lain sebagainya. Itu di sana banyak sekali kebodohan saya,” ujarnya sambil tertawa.

Oleh karena itu, Aan pun berharap ke depannya akan semakin sedikit kebodohan yang dia beberkan ke orang lain melalui karya yang dibuatnya.

“Kita juga gak akan pernah tahu kalau apa yang kita anggap cerdas sekarang ternyata merupakan sesuatu yang bodoh di tahun-tahun mendatang,” tutupnya.

SHARE

Lelaki rumit penikmat kata-kata sederhana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here