Sketsa, Mooi Indie dan Kejujuran Berkarya

0
17

“Sketsa itu penting sekali, dengan warna orang bisa menipu. Dengan tema orang bisa ngibulin si penglihat. Dengan sketsa, orang tidak bisa bohong,” tulis S.Sudjojono, akrab disapa Djon, Bapak Seni Rupa Modern Indonesia, dalam pameran sketsa dan peluncuran buku S.Sudjojono, “Opera Hidup Mengalun Dendang” di Bentara Budaya Jakarta, 6-13 Juni 2017.

Jika di dunia seni teater kita mengenal WS Rendra dan Arifin C Noer sebagai bapak teater, di dunia seni rupa nama Sindoedarsono Soedjojono, tentu sudah tidak asing, goresannya sudah melalang buana baik lokal, nasional maupun internasional. Di kalangan kritisi seni dan kurator seni rupa, adalah fardu ain hukumnya punya pengetahuan mengenai karya Sudjojono. Kalau ilmu agak terbatas, agaknya perlu membuka kajian tentang buku-buku babon seni rupa Indonesia.

Saat memasuki ruang pamer, mata langsung disuguhi sketsa-sketsa Djon yang bernuansa hitam putih. Saat mengamati satu persatu karyanya, ia tak hanya melukis sketsa, tapi juga mengajak pengunjung memasuki dimensi sejarah perjuangan Indonesia pada masa kedudukan Jepang dan Belanda.

Pria lulusan Hollandsch Inlandsche School (HIS) ini menjadikan sketsa sebagai medium untuk
mengekspresikan peristiwa aktual pada masa penjajahan. Djon, dikenal sebagai seniman yang nasionalis, tak pandai mengarang-ngarang sketsa, hanya bermodalkan kejujuran. “Saya belum menemukan apa yang saya cari ini. Ini bukan saya gawe-gawe,” ujarnya pada Kompas, edisi 11 Mei 1976. Gawe-gawe yang dimaksud adalah sesuatu yang dibuat-buat, lewat sketsa Djon ingin bercerita dengan jernih, apa yang terjadi pada masa itu.

Djon dikenal sebagai pelukis yang menolak “Mooi Indie” (Berasal dari bahasa Belanda,dalam bahasa Indonesia, “mooi” berati cantik atau molek atau jelita. Sedangkan Indie berarti Hindia atau wilayah Nusantara yang kini disebut Indonesia). Djon pernah mengecam Basoeki Abdoellah sebagai tidak nasionalistis karena hanya melukis keindahan Indonesia sekadar untuk memenuhi selera pasar turis. Keindahan yang dilukiskan itu bagi Djon, kefanaan semata, tidak sesuai dengan realita penderitaan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan.

Sederet karyanya terasa jujur bercerita tentang fakta masa penjajahan kala itu seperti, “Rencana Sultan Agung” (1973), “Pertemuan Kyai Rangga dan JP Coen” (1973), “Pura Dalam di Sukasada, Singaradja” (1952), “Figur Pasukan Belanda Jawa”, “Sketsa Alat Perang yang Digunakan” dan “Kira-kira Begini Latar Belakang Pertempuran.” Tak ada kelir warna, tak ada caption berbunga-bunga. Sketsanya begitu sederhana, rasanya seperti dilempar ke masa itu, dengan segala kepedihan pemuda-pemudi Indonesia yang dibelenggu Belanda dan Jepang.

Kisah Rose Pandanwangi

Selalu ada cinta di setiap perjalanan cerita, begitu pula dalam perjalanan Djon. Nama Rose Pandanwangi, penyanyi seriosa yang tak dapat dipisahkan dari perjalanannya. Pada masa Orde Lama, Djon pernah ikut dalam Lekra dan bahkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia sempat menjadi wakil partai di parlemen namun pada 1957, ia dipecat dari partai dengan alasan resmi pelanggaran etik karena ketidaksetiaan kepada keluarga/istri. Tahun 1959 setelah didesak tuntutan Mia Bustam, istri pertamanya, Djon resmi bercerai dari Ibu yang memberikan delapan anak untuk pasangan ini, setelah secara sembunyi-sembunyi mencintai Rosalina Poppeck, seorang sekretaris dan penyanyi kemudian dinikahinya sekaligus mengganti nama istri barunya menjadi Rose Pandanwangi.

Seolah tak mau kalah dengan prestasi Djon, Wangi, sapaan akrabnya, pernah bernyanyi di panggung lokal, nasional maupun internasional. 1953 ia mengikuti festival lagu klasik yang diadakan di Bucharest, Rumania dan berhasil sebagai juara III. Selain itu juga aktif pentas panggung hiburan antara lain di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, dan Lembaga Indonesia Amerika.

Model suaranya untuk tahun-tahun berikut hingga kini, dianggap sebagai contoh paling baik untuk seriosa. Prestasi Wangi di antaranya, (1953) Juara III Festival Lagu Klasik di Bucharest-Rumania, (1958) Juara III Bintang Radio jenis Seriosa, (1959) Juara I Bintang Radio jenis Seriosa dan (1981) Juara Nasional jenis Seriosa. Wangi juga meluncurkan Beberapa album, (1973) Nostalgia Indonesia, (1974) Sweet Memories Of Indonesia dan (Kompilasi) Pasar Malam Souvenirs.

Kisah cinta Djon dan Wangi itu bahkan pernah menginspirasi sebuah pementasan teater bertajuk “Pandanwangi dari Sudjojono” (2013) di Taman Ismail Marzuki. “Cinta yang besar yang tak mengenal kehilangan, dan bila mereka mengangkat jasad kita dari dasar laut, mereka akan membuat foto dan menyebarkannya melalui koran-koran di seluruh dunia dengan berita istimewa tentang sebuah cinta dari dua seniman yang tidak pernah hilang,” ungkap Djon dalam salah satu surat Sudjojono untuk Rose. Kini romantisme kisah cinta keduanya dapat kembali disaksikan dalam pameran “Opera Mengalun Dendang” dan Buku Pandanwangi hingga Selasa, 13 Juni 2017.

SHARE

Mulai berteater sejak 2009 di Festival Teater SLTA Se-Jabodetabek. Meminati kajian media dan seni pertunjukan teater.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here