Merawat Ingatan Perlawanan Osing

0
54

Yennu Ariendra berjalan memasuki panggung. Ia bercerita tentang latar belakang lahirnya petunjukan Menara Ingatan, yang sedang dipentaskannya. Pengalamannya bermula ketika kakeknya ditangkap oleh tentara sekitar tahun 1968 karena diisukan sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Banyuwangi, Jawa Timur. Sejarah itu yang membuat dirinya mengenal lebih banyak tentang Banyuwangi.

“Cerita ini membuat saya mengingat beberapa kejadian sejarah kelam di daerah di mana saya dilahirkan, Banyuwangi. Seperti korban petrus, pembantaian dukun santet, isu ninja, dan lain sebagainya,” katanya di atas panggung.

Cerita-cerita kelam tersebut membawa Yennu bertemu dengan Gandrung, Kerajaan Blambangan, Minak Jingga, Mataram, VOC, dan tentu saja sejarah perlawanan panjang Suku Osing. Gandrung dan Osing tersebutlah yang menjadi sajian utama Menara Ingatan: perlawanan yang tak kenal lelah di ujung timur Pulau Jawa.

Pada adegan pembuka, layakanya jejer pada Gandrung Banyuwangi, seorang penari menyanyikan beberapa lagu kepada para tamu. Tak seperti Gandrung aslinya yang menggunakan instrumen musik tradisi, dalam Menara Ingatan Yennu memberikan sentuhan intrumen kontemporer, cenderung eksperimental, dalam mengiringi lirik yang dinyanyikan.

Suara-suara yang terdengar itu seolah memanggil orang-orang untuk berkumpul, bersatu kembali setelah tercerai berai. Ada yang bingung mencari pintu rumah, ada yang bergerak tak terkontrol, ada pula yang berdiam di depan pintu. Berbagai peristiwa tersebut, dikemas melalui berbagai simbol gerak para performer di atas panggung.

Pada babak kedua, masih dalam struktur pertunjukan Gandrung, para penari sekaligus penyanyi berusaha untuk mengajak penonton ikut bergoyang. Namun, yang begoyang adalah manusia manusia berkepala anjing, representasi imej Minak Jingga (Raja Blambangan) dalam masyarakat Jawa karena memberontak Kerajaan Majapahit. Tak hanya simbol-simbol tentang penolakan kepada kedigdayaan Majapahit, melainkan juga kejadian pembataian besaran PKI di ujung timur Pulau Jawa tersebut.

Dalam babak yang disebut paju (tari berpasangan) tersebut, manusia berkepala anjing itu bergoyang menikmati dangdut koplo, yang telah melebur dalam Gandrung Banyuwangi saat ini.

Di bagian akhir, babak sablang subuh, nuansa sedih kembali menyayat seolah mengiringi sang penari dan penyanyi dengan adegan-adegan ninja dan pembantaian dukun santet, yang disimbolkan melalui kain putih dengan bercak merah.

Menara Ingatan merupakan produksi Teater Garasi merefleksi sejarah kekerasan di Indonesia, khususnya Banyuwangi. Pertunjukan yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 24-25 Mei 2017 ini menitikberatkan pada Gandrung, kesenian khas Banyuwangi.

Berbicara tentang Banyuwangi memang tak bisa dilepaskan dengan Suku Osing, masyarakat yang dipercaya sebagai penduduk asli Banyuwangi. Osing yang dimaknai sebagai “tidak” memang terkenal sebagai suku yang tak pernah tunduk pada satu hegemoni besar. Ketika Kerajaan Majapahit menguasai hampir seluruh Nusantara, Suku Osing di Kerajaan Blambangan (cikal bakal Kabupaten Banyuwangi) melakukan perlawanan dengan pemberontakan. Alhasil, terbentuklah imej buruk Adipati dari Blambangan Minak Jingga, yang digambarkan berkepala anjing, karena memberontak Kerajaan Majapahit.

Perlawanan Suku Osing tak henti sampai di situ. Pada saat Kerajaan Mataram menguasai Jawa dengan menyebarkan agama Islam, Kerajaan Blambangan tetap teguh mempertahankan keyakinannya sebagai penganut Hindu. Blambangan tersebut bahkan dikenal sebagai kerajaan Hindu terakhir yang bertahan di Jawa yang masih bertahan hingga abad 17.

Puncaknya, saat VOC ingin menguasai Blambangan, Suku Osing melakukan puputan yang dikenal dengan Perang Bayu. Suku Osing terpecah belah akibat peperangan. Mereka kalah secara fisik, namun tidak secara kultural. Perlawanan tetap dilakukan.

Gunawan Maryanto, salah satu performer sekaligus co director Menara Ingatan mengatakan, Gandrung Banyuwangi sendiri merupakan inisiasi Mas Alit sebagai Bupati Pertama Banyuwangi untuk mengumpulkan rakyat Blambangan pasca kekalahan perang. Ketika itu, gending-gending yang dinyanyikan menggambarkan situasi setelah Perang Bayu dan etos perjuangan Rakyat Blambangan. Melalui kesenian Gandrung, semangat rakyat Blambangan kembali hadir.

Menurut dia, Gandrung memang melekat dengan Suku Osing, yang artinya ora atau tidak. Osing dinilai sebagai komunitas masyarakat yang berbeda dengan Jawa.

“Perlawanan mereka tidak habis-habis sampai sekarang. Di Jawa sendiri Osing itu diceritakan buruk, direndahkan secara kultural. Tapi mereka tetap berdiri dan memiliki suatu pola perlawanan yang khas, salah satunya lewat Gandrung,” katanya seusai gladi resik Menara Ingatan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (24/5).

Pertunjukn teater musik Menara Ingatan oleh Teater Garasi ini sendiri merupakan karya komposisi Yennu Ariendra. Karya yang berangkat dari sejarah dan ingatan atas Indonesia yang dilihat dari satu sudut pandang sejarah Gandrung Banyuwangi tersebut, juga melihat bahwa Gandrung dan masyarakat Osing adalah representasi perlawanan keras menghadapi kekuasaan yang ingin meringkusnya.

“Struktur pertunjukan ini memang mengacu pada Gandrung, terdiri dari tiga babak, ada Jejer, Paju, dan Seblang Subuh. Itu merupakan struktur klasik dari pertunjukan Gandrung. Ada beberapa jukstaposisi dengan situasi saat ini, secara budaya ini juga membicarakan pesisir-pesisir yang lain,” katanya.

Yennu sendiri mengatakan, dirinya tertarik dengan Gandrung dan Osing didorong oleh keingintahuan pribadi soal sejarah kekerasan di Banyuwangi. Berangkat dari pengalaman personal tentang kakeknya yang diisukan sebagai anggota PKI, Yenny akhirnya bertemu dengan Gandrung.

“Ketika saya membaca sejarah tentang Gandrung, banyak yang menghubungkan dengan kekerasaan kerajaan Blambangan. Aku tertaring tentang narasi tentang kakek yang diculik karena diisukan sebagai PKI, dan aku menemukan banyak isu lainnya seperti ninja, juga santet,” ungkapnya.

Eksperiman Teater Musik

Dalam pertunjukan berdurasi lebih kurang satu jam, tak ada dialog antar pemain layaknya pertunjukan teater. Sejak awal Teater Garasi memang telah mengonsepkan Menara Ingatan sebagai teater musik, bentuk pertunjukan teater yang bertumpu pada musik. Lakon karya Yennu Ariendra tersebut memang mengambil stuktur Gandung Banyuwangi dalam alur cerita dramaturgi.

Yennu mengatakan, Menara Ingatan sebelumnya sudah pernah dipertunjukan di Jogjakarta pada 2016 dalam bentuk konser musik. Namun, ia merasa bahwa gagasan yang dibawanya belum cukup kuat jika sekadar ditampilkan dalam bentuk konser musik. Karena itu, ia menawarkan proyek tersebut ke Teater Garasi untuk dikerjakan secara kolektif.

“Sebenarnya juga istilah teater musik itu baru. Namun karena saya merupakan anggota dari kelompok teater, kenapa saya tidak menggunakan kelompok kolektif ini untuk mempertajam konser saya yang pertama. Saya tawarkan ke Garasi, jadilah pertunjukan ini,” katanya.

Menurutnya, yang membedakan Menara Ingatan dengan konser musiknya adalah saat ini pertunjukan juga melibatkan para performer, musikalitas yang lebih detil, dan elemen musiknya lebih solid. Selain itu, Yennu juga banyak menggunakan alat musik eksperimental seperti lempengan besi serta alat-alat kerja, seperti pacul, parang, dan sebagainya.

Meski mengambil struktur Gandrung Banyuwangi, musik yang ditampilkan oleh Teater Garasi tak melulu menggunakan instrumen tradisi. Yennu mencoba untuk mengolaborasikan musik tradisi dengan instrumen musik kontemporer. Ia mengakui melakukan hal tersebut karena dasar dirinya bukanlah seorang musisi tradisi. Meski begitu, lagam dan hukum-hukum tertentu dalam musik Gandrung Banyuwangi tetap digunakan mengolaborasikannya.

“Tapi karena kita ingin sesuatu yang lebih segar. Kita mencoba membedahnya dari lirik dan menerjemahkannya dalam bunyi. Kita mencampurkan itu. Semua itu tujuannya membuat ide lebih tajam,” katanya.

Dalam menciptakan komposisi, Yennu juga berkolaborasi dengan Andi Meini, Asa Rahmana, Nadya Hatta, dan Silir Pujiwati. Ugoran Prasad, kata dia, selaku dramaturg akhirnya memilih untuk membuat karya ini sebagai musik teater, yang berasal dari bahasa Jerman muziktheater. Dengan begitu, ruang tersebut mengelompokan olah kerja teater yang bertumpu pada musik secara lebih terbuka, seperti karya Meredith Monk, Heiner Goebbels, Laurie Anderson, atau Matmos. Dari empat nama itu, memang tak ada ciri serupa, selain mengolah bentuk pertunjukan teater yang bertumpu pada musik.

Sementara itu, Gunawan Maryanto mengatakan, teater musik Menara Ingatan merupakan pengembangan dari proyek musik yang dikerjakan oleh Yennu. Yang membedakannya dengan konser, lanjutnya, dalam pertunjukan ini komposisi yang sudah ada dimasukan ke dalam struktur dramaturgi.

“Kita lebih melihat musik sebagai naskah yang coba dibuat peristiwanya,” katanya.

Ihwal banyaknya penggunaan besi seagai istrumen ekperimental, Gunawan mengatakan bahwa besi adalah objek yang dapat menyimbolkan banyak hal. Lebih dari itu, besi dapat merentang sejarah kekerasan yang ada di Banyuwangi dari zaman kerajaan (Blambangan) sampai sekarang.

 

Catatan: naskah pernah terbit di Harian Nasional, Senin 29 Mei 2017.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here