Gantung Jodoh: Dongeng Lokal dan Bangkitnya Diskursus Klenik

0
50

“Dangdut is the Music of my country.. my country oh my country.”

Lirik lagu itu begitu terngiang-ngiang di telinga saya tatkala menyaksikan pentas Gantung Jodoh, produksi Teater Ciliwung dalam Festival Teater Jakarta Selatan, Senin (15/05) di Gedung Pertunjukan, Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan.

Lagu milik Project Pop itu sengaja saya pilih untuk menggambarkan bagaimana musik dangdut mampu membuat berbagai kalangan berbaur setara. Hal ini yang nampak dalam lakon ini, di mana musik dangdut mampu menyeret si kaya dan si miskin untuk berjoged bersama.

Dalam sajian pembuka, para aktor mencoba mengajak penonton bergoyang dengan suguhan musik dangdut Tarling (salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon, Red). Pemandangan klasik seperti seorang biduan bersolek menor yang bergoyang dan gerombolan laki-laki penyawer, diceritakan dalam durasi yang cukup panjang.

Meski bukan penikmat lagu dangdut, tapi wajarnya ada reaksi spontan untuk menggerakan anggota tubuh karena terstimulus oleh musik, namun dalam pentas ini entah mengapa tak ada reaksi itu pada diri saya. Tapi ternyata saya tak sendiri, hampir seluruh penonton yang hadir terlihat mengalami hal yang serupa. Pentas dangdut yang lumrahnya hadir sebagai alat pelebur batas antara penonton dan aktor, dalam lakon ini rupanya hanya teori. Praktiknya, batas itu tetap ada bahkan sangat kokoh hingga tegas memisahkan penonton dengan aktor. Bukan bergoyang bersama, tetapi sebatas penonton yang diajak untuk menonton para aktor yang bergoyang. Ajakan bergoyang itu rupanya harus bertepuk sebelah tangan.

Sang biduan, Sumirah atau Sum memiliki paras cantik bak magnet yang menarik para lelaki tuk mendekatinya. Seperti Sumantri,  yang datang untuk mengajak Sum kencan, tapi mimpi pemuda itu segera dipupuskan oleh Mariyah, Ibunya Sum yang tak rela putrinya diajak kencan dengan pria yang hanya bermodal jimat (yang tak ampuh) dan uang receh. Dengan penolakan yang kasar, sepantasnya pemuda ini marah, terlebih ia memakai jimat yang disimbolkan sebagai bentuk konkrit dari ambisi kuat untuk mendapatkan Sum. Tapi jimat itu kontradiktif dengan respon pemuda itu saat diusir Ibu, ia bahkan mengamini penolakan Ibu dan pulang dengan riang. Entah mengapa!

Kecantikan Sum seperti berkah  yang tak ia inginkan, karena cantik fisiknya hanya tuk diperalat oleh Ibu untuk mendapatkan lelaki kaya. Realitanya, Sum hanyalah anak perempuan yang ditinggal ayahnya begitu saja dan kini harus rela menghidupi Ibu dengan gaya hidup yang hedon. Satu persatu lembaran uang lecek hasil saweran manggung terpaksa ia berikan pada Ibu, tak selembar pun luput dari sitaan Ibu. Bahkan, yang berusaha Ia sembunyikan di balik penyangga payudaranya. Tapi sialnya, uang itu masih saja dirasa kurang untuk memenuhi kebiasaan Ibu yang berhutang demi tampil gaya.

Sum ibarat boneka dengan Ibu sebagai dalangnya. Kepahitan cerita Ibu di masa lalu akan lelaki menjadi sabda yang harus ditaati Sum.“Jangan kau berikan cintamu pada lelaki, berikanlah kemolekan tubuhmu,” ujar Ibu seraya menepuk pundak Sum. “Susuk, kamu pasang susuk biar pejabat-pejabat suka sama kamu. Di sini kan sudah biasa pasang susuk biar pada naksir,” sambungnya. Bagi Ibu, harta adalah yang utama meski harus menggadaikan tubuh, persetan asal hidup tak lagi melarat.

Orang yang ditakuti Ibu akhirnya datang, Jaja Subagja dengan baru berkelir terang itu menagih hutang-hutang Ibu. “Sampurasun” ujar lelaki tua itu, “Rampes” sahut Ibu. Jaja datang menagih hutang, tak sanggup bayar, Sum pun jadi taruhan. Sebuah kisah klasik dengan alur tertebak itu pun diceritakan dengan simbol-simbol kontra realis. Seperti mahar 100 juta dan 300 gram emas ditampilkan dengan beberapa lembar uang lima puluh ribu di kotak kecil.

Terlepas dari hal teknis, dalam lakon ini, jimat , susuk dan kutukan digantungkan jodoh karena menolak lamaran lelaki,  dapat ditafsirkan sebagai simbol dari diskursus klenik. Sebuah jalan pintas tuk mewujudkan hal yang dianggap mustahil, menjadi mungkin. Di era posmodern saat ini, terutama bagi generasi milenial, klenik hanyalah dongeng yang tak dapat dibuktikan secara sahih, namun dalam lakon ini, diskursus klenik bangun dari mati surinya. Benar atau tidaknya klenik dan dongeng bukanlah itu yang esensi, tapi bagaimana Ia dapat menanamkan imaji hingga mengakar kuat di alam bawah sadar, itulah yang jadi soal.

*Penilaian penulis dalam Forum Sutradara di Festival Teater Jakarta Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here