Berteriak dalam Bisikan bersama Oom Pasikom

0
52

Lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang seniman untuk konsisten berkarya. Namun hal itu bukanlah hal besar bagi GM Sudarta, seorang kartunis yang lebih dikenal dari tokoh ‘Oom Pasikom’ sebagai political cartoon di Surat Kabar Harian Kompas. Oom Pasikom sudah menginjak usia emas pada tahun 2017 ini sejak pertama kali menyapa pembaca harian nasional tersebut pada 12 April 1967.

Karakter Oom Pasikom sendiri nampaknya sudah menjadi ikon bagi Harian Kompas. Sehingga tak mengherankan di tahun ke-lima puluh ini diadakanlah sebuah pameran bertajuk “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom”. Kata kesaksian tidaklah berlebihan. Karena jika menurut pemimpin redaksi harian Kompas, Budiman Tanuredjo, melalui Oom Pasikom perjalanan bangsa Indonesia direkam melalui karikatur. “Tema-tema yang berkaitan dengan keadilan selalu menjadi pusat perhatian GM Sudarta,” ucap Budiman Tanuredjo pada pembukaan pameran Selasa (9/5) malam lalu di Bentara Budaya Jakarta.

Terhitung lebih dari 3.000 kartun editorial telah dihasilkan oleh GM Sudarta selama perjalanannya hingga setengah abad ini. Tak hanya mengikuti perkembangan bangsa, kiprahnya sebagai kartunis juga membuatnya mengikuti evolusi teknik pencetakan yang Harian Kompas miliki. Dari yang awalnya menggunakan teknologi pencetakan intertype yang membuatnya terbatas dalam menggambar garis sehingga menghasilkan goresan kaku bagai kotak-kotak, lalu di tahun 1972 ketika Kompas menggunakan teknologi cetak offset sehingga beliau dapat lebih bereksplorasi dengan berbagai tekstur, goresan, dan teknik. Hingga di 2013, memanfaatkan kemajuan teknologi grafis digital, beliau mulai memanfaatkan komputer yang saat itu dianggap memberikan segala kemungkinan.

Namun pada tahun 2015 GM Sudarta kembali lagi membuat karikatur dengan goresan pena, tekstur cap jempol, kuas kaligrafi Cina, dan marking pen. Alasannya, menggambar menggunakan komputer membuat karikaturnya jadi kurang greget.

Oom Pasikom adalah karakter yang namanya ditemukan bersama seorang Redaktur Senior Harian Kompas saat itu, Adisubrata, dengan mengulang kata ‘SI KOMPAS’ berkali-kali hingga akhirnya ditemukanlah penggalan ‘PASIKOM’. Setelah itu dibubuhkanlah panggilan ‘OOM’ di depannya. Pada saat itu, si karakter dibayangkan adalah seseorang yang lahir di tahun ’30-an yang independen dan tidak berpihak ke mana pun juga tidak termasuk Angkatan ’66 yang sedang bergejolak waktu itu.

Oom Pasikom yang wajahnya diambil dari deformasi wajah Adisubrata tampil menggunakan jas dengan tambalan di siku dan topi baret. Namun si Oom ini tampil tergantung bagaimana situasi yang dia perankan dalam setiap tema yang diangkat. Dia bisa menjadi petani, nelayan, ataupun pemulung. Si Oom selalu hadir ditemani oleh anaknya yang disebut oleh sang kartunis sebagai ‘asal kritis’, kurang pemikiran dan merupakan simbol generasi muda. Kadang juga muncul bersama istrinya yang sangat konsumtif dan suka pamer kemewahan.

Semula Oom Pasikom dan istrinya sering menggunakan bahasa Belanda untuk mencerminkan produk ‘tempoe doeloe’ yang berdiri di atas angin. Jadi mereka tidak masuk ke angkatan ’45 maupun angkatan ’66. Namun setelah para wartawan dan redaktur senior Kompas yang menjadi ‘asisten’ dalam hal bahasa Belanda tiada, jadilah mau tidak mau Oom Pasikom secara penuh menggunakan bahasa menurut anjuran pemerintah dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Mengutip pendapat kartunis Honolulu Star, Corky Trinidad, yang pernah ditemui oleh GM Sudarta, seorang kartunis harus berdiri di luar pagar, mengawasi mana dan siapa saja yang tidak beres. Dari kegiatan mengamati di luar pagar untuk kemudian dituangkan melalui kartun yang dibuatnya, GM Sudarta bukan melakukannya tanpa risiko. Apalagi ketika berkarya di era Orde Baru yang sangat mengekang kebebasan berpendapat.

Salah satu contoh respon di luar dugaan yang datang dari penguasa di orde baru adalah ketika pada tahun 1978 di mana Kompas sempat dibreidel selama dua minggu oleh pemerintah. Ketika akhirnya diizinkan untuk terbit kembali, GM Sudarta membuat kartun khusus untuk menyambutnya. Beliau menampilkan sebuah bidang kosong yang luas dan menyelipkan sosok si Oom berukuran kecil di sudut bawah yang mengucapkan “Selamat pagi!”. Ternyata kartun tersebut mendapat teguran keras dari Departemen Penerangan, badan pemerintah yang saat itu berkuasa menentukan hidup matinya sebuah penerbitan koran, karena dianggap meledek.

Di tengah kekangan Orde Baru saat itu, GM Sudarta mengaku memiliki prinsip berkarya untuk membuat orang tersenyum. Jadi meski kartunnya berisi kritik, diusahakan sekali agar objek yang dikritik tidak marah tapi malah tersenyum.

“Kita harus membuat orang yang dikritik agar tidak marah. Ketika Orba, selain senyum bagi pembaca dan orang yang dikritik, juga senyum untuk kartunisnya supaya tidak ditangkap,” kelakarnya saat memberi sambutan di pembukaan pamerannya.

Kartunis yang pernah mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa (ASRI), Yogyakarta, ini menganggap berbagai peristiwa yang terjadi hanya semata komedi kehidupan. Apalagi jika diperhatikan, hidup di Indonesia bagai hidup di tengah pasar malam.

“Berbagai permainan ada di dalamnya, seperti sulapan, dagelan, judi, copet, sandiwara, dan sebagainya,” ungkapnya dalam tulisan esai yang terdapat pada buklet pameran.

Melalui pameran ini, kita diajak GM Sudarta untuk ikut menyaksikan komedi kehidupann di negeri ini. Sebanyak 130 kartun yang dibuat selama rentang 1967 hingga 2017 dipamerkan dari tanggal 9 hingga 15 Mei 2017. Tak hanya pameran, di hari terakhir yaitu 15 Mei 2017, akan ada diskusi yang dengan narasumber Seno Gumira Ajidarma, Mudji Sutrisno, dan Trias Kuncahyono.

Sebelum resmi dibuka, GM Sudarta diminta untuk menggambar kartun pada sebuah media gambar yang disediakan. Beliau menggambar sebuah timbangan yang bebannya berat sebelah. Kebetulan pada hari pembukaan pameran, peristiwa yang baru saja terjadi di hari itu adalah vonis bersalah kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dijatuhkan.

“Kalau saya berani, saya akan tulis ‘tribute to Ahok’,” ujarnya yang disambut gelak tawa para pengunjung.

SHARE
Sherly Febrina
Part-time journalist, part-time theatrical prostitute, full-time human being. Loves kretek like loving her life. Sounds paradox eh? ;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here