Bias Realita dalam Bingkai Tawa

0
28

Belakangan ini istilah informasi palsu atau hoax begitu viral di media sosial maupun media massa arus utama. Konon keberadaannya membuat pemerintah senewen akan informasi palsu yang disebar luas.

Bak nyamuk yang harus dibasmi, hoax pun dibuatkan pasal khusus yang dianggap ampuh untuk membasmi siapapun yang berani menyebarluaskan kebencian atau kebohongan di media siber. Istilah “Think before click” yang dikumandangkan Kombes Martinus Sitompul adalah istilah keren dari “Jempolmu harimaumu”.

Realitas itulah yang diboyong Sena Didi Mime (SDM) ke atas panggung. Kelompok pantomim yang didirikan oleh Alm. Didi Petet dan Sena A. Utoyo pada 1987, semasa menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Saat ini kita mulai bias menghadapi realita, benar dan salah menjadi kabur apalagi peristiwa yang sengaja dibuat untuk memicu pertikaian antar kelompok. Delapan aktor dalam lakon ini pun harus dibuat pusing dengan informasi yang menjebak, benar atau salah? Fakta atau fiksi? Ah, begitu membingungkan.

Kebingungan itulah yang disampaikan melalui gerakan-gerakan yang tidak tuntas. Menoleh ke kanan, berlari ke kiri tapi tak menemukan apapun. Usaha menjadi sia-sia karena tak jelasnya informasi yang panca indera mereka terima.

Suara jam beker yang terus-terusan berbunyi nyaring membuat semuanya tak bisa tidur tenang. Ibarat Hoax yang begitu nyaring saat ini dan membuat hidup siapapun menjadi tak tenang. Rasanya seperti ada namun tiada, hadir namun seperti absen dalam setiap situasi.

Kebisingan hoax pun membuat kedelapan aktor ini bertengkar, saling tuduh dan melukai satu sama lain. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas kegaduhan ini? Entahlah. Jika mati adalah sebuah kehormatan, maka mati berdiri  adalah sebuah pilihan terbaik.

Mime yang Komunikatif

Pesta teater dwi tahunan Helateater Salihara kembali digelar, 11, 18 dan 25 Maret 2017. Kali ini, Salihara memilih “Teater dan Tubuh” sebagai tema. Di mana sebuah pentas dimainkan dengan meminimalisir penggunaan bahasa verbal. Tubuh dijadikan sebagai medium utama untuk menceritakan lakon.

Teater yang mengandalkan tubuh dapat dilihat jejaknya ke belakang. Jejak pertama ditorehkan oleh Bengkel Teater Rendra (1967) dalam lakon “Bip Bop” dan Teater Mandiri (1977)  “Lho”. Hingga hari ini bentuk teater yang mengandalkan tubuh dalam pentas terus berlangsung, membuat jejak-jejak baru di dunia seni teater.

“Gini ya mbak, kita sebenernya gak boleh ngomong nih di sini. Tapi karena mbak ngumpetin makanan temen saya nih jadi saya terpaksa ngomong. Jadi biar kita bisa main lagi, balikin ya?” ujar Boy Idrus dalam lakon Mati Berdiri, di Komunitas Salihara, Sabtu (11/03).

Penonton terkekeh tak tertahan, suasana pecah.

Namun di luar dugaan, SDM memainkannya dengan cara yang interaktif. Saat menonton pentas ini, imaji bisu dalam tiap pentas mime pun harus direvisi ulang. Tepuk tangan penonton begitu riuh dan sesekali mulut menganga saat melihat aksi delapan aktor Sena Didi Mime. Bagaimana tidak, mime kali ini betul-betul berbeda dengan pentas mime teater lainnya yang miskin komunikasi verbal. “Lah kok mime tapi ngomong gitu?” ujar salah seorang penonton.

Tak berhenti sampai di sana, aktor-aktor SDM pun tak sungkan mengajak dialog penonton yang hadir, bahkan menjadikannya bagian dari lakon. Aksi menyeret penonton, umbar kata-kata manis, tatapan liar hingga menawari pizza yang mereka makan menjadi pemandangan yang begitu segar.

Meski begitu interaktif dengan penonton melalui komunikasi verbal, lakon yang disutradarai oleh Yayu A.W Unru ini tetap tak meninggalkan prinsip pantomim yang tlah menjadi ciri khas SDM. “Ini tak jauh beda dari pertunjukan-pertunjukan Sena Didi Mime yang lain, kita masih mengemasnya dalam adegan minim kata.” ujar Yayu saat ditemui di tepi panggung.

“Mungkin sama seperti alasan kebanyakan grup-grup teater yang berdiri tahun itu, SDM didirikan sebagai tempat untuk menyalurkan kreatifitas ayah saya dan mas Sena,” ujar Yayu.

Berawal dari situ, SDM ternyata berkembang pesat. Grup yang mungkin tadinya hanya sebagai tempat menyalurkan kreatifitas sang ayah dan sahabatnya, berubah menjadi sebuah tempat menyalurkan aspirasi dan kritikan melalui pertunjukkan tanpa kata-kata.

 

Sumber foto: Witjak Widhi / Komunitas Salihara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here