Mengungkap Sisi Gelap Industri Fashion

0
61
Source: https://www.facebook.com/pg/IKATeCUT/

Industri fashion dunia saat ini semakin berkembang pesat. Mereka mendorong konsumsi produk pakaian lebih dari konsumsi akan produk lain. Tidak ada segmentasi barang konsumsi lain yang omsetnya sangat bergantung pada perubahan selera atau tren daripada keawetan produknya.

Ketergantungan fashion pada musim menjadikan kecepatan siklus mereka melampaui siklus dari jenis barang lainnya. Kecepatan ini diperburuk lagi dengan fast fashion yang dapat menampilkan hingga 12 koleksi per tahun.

Fast fashion dalam konteks ini maksudnya adalah strategi perusahaan berdasarkan rancangan, pengerjaan, dan pemasaran yang lebih cepat dari produk fashion sebagai barang produksi massal. Jika Haute Couture atau Prêt-à-Porter dari rumah fashion besar memproduksi 2 koleksi dalam setahun, label fashion murah membanjiri pasar dengan 12 siklus setahun.

Masih jarang orang yang tahu jika produksi cepat dan massal tidak hanya terjadi pada makanan dengan fast food-nya, tetapi juga pada dunia pakaian dan tekstil dengan fast fashion. Untuk itu, Goethe Institut mengadakan pameran bertajuk “Fast Fashion – The Dark Side of Fashion”. Pameran yang berlangsung mulai tanggal 9 Maret hingga 9 April ini merupakan bagian dari proyek “IKAT/eCUT” yang menampilkan berbagai efek dan akibat dari industri fast fashion dalam skala global.

Dalam pameran ini, kita akan diajak untuk melihat sisi kelam dari dunia fashion serta perilaku konsumsi yang divisualisasikan dengan berbagai instalasi, infografis, video, serta contoh produk. Kita akan dijelaskan 7 tahap rumitnya hubungan ekonomi, sosial, dan ekologi dalam industri fashion. Terdapat juga kompilasi unik karya dari para ahli dan seniman dengan beragam latar belakang.

“Pameran ini bertujuan untuk menciptakan sebuah pemahaman segitiga global dari konsumerisme, ekonomi, dan ekologi dengan beragam perspektif,” ujar Dr. Claudia Bans, seorang kurator dari Museum für Kunst und Gewerbe Hamburg pada pembukaan pameran Kamis (9/3) malam lalu.

Seperti fast food yang ditentang dengan gerakan slow food, pada pameran ini pengunjung diperkenalkan dengan slow fashion. Slow fashion secara singkat berarti fashion yang berkelanjutan. Istilah ini menjelaskan sebuah perubahan ke arah yang lebih bertanggungjawab dan menghormati orang-orang dan lingkungan, serta kesadaran akan asal muasal produk dan perilaku konsumsi kita. Produk dari slow fashion sering berasal dari daerah tertentu dan memiliki rantai produksi yang pendek. Tahapan pembuatan dari serat hingga menjadi sebuah produk jadi juga termasuk ramah lingkungan. Karena sebisa mungkin produksinya menghindari penggunaan bahan kimia.

Untuk mengetahui proses dan asal muasal dari bahan atau produk slow fashion, kita bisa memasuki instalasi pameran yang bernama Slow Fashion Lab yang memberikan pengalaman mendalam mengenai perbedaaannya dengan fast fashion. Di sini ditampilkan berbagai serat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, pewarna yang berasal dari berbagai bahan alami yang tentunya aman bagi lingkungan, teknik pewarnaan kain, hingga berujung pada tahap upcycle. Tahap terakhir ini menampilkan produk-produk daur ulang yang berasal dari berbagai produk fashion bekas. Kita tidak akan menyangka jika sepasang anting atau sebuah clutch bag yang ditampilkan berasal dari barang-barang bekas yang didaur ulang.

Selain pameran yang berlangsung di Gudang Sarinah Ekosistem, proyek “IKAT/eCUT” juga memiliki berbagai acara sampingan yang sayang untuk dilewatkan. Antara lain, For Keepsake, Keep Me! (pameran tentang kain dan berbagai cerita di baliknya), Repair Fair; Behind the Screen (diskusi bersama para profesional di bidang fashion), Is Sustainable Doable? (sebuah kuliah umum), Handmade Fabric Day (demonstrasi proses slow fashion), dan Swap With Me, Baby (pesta pertukaran baju).

“IKAT/eCUT” adalah proyek Goethe-Institut yang menjelajahi masa lalu, sekarang, dan masa depan tekstil di Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan, tentunya, Jerman. Proyek ini melihat potensi budaya tekstil di berbagai bidang–mulai dari seni ke proses merancang, dari tradisi ke teknologi. Indonesia adalah negara kedua penyelenggaraan pameran Fast Fashion setelah sebelumnya diadakan di Filipina. Selanjutnya, pameran ini akan diadakan di Melbourne, Australia

SHARE
Sherly Febrina
Part-time journalist, part-time theatrical prostitute, full-time human being. Loves kretek like loving her life. Sounds paradox eh? ;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here