Sejenak Beristirahat di Rest Area

0
31
Jpeg

Pameran Seni Rupa Nusantara 2017 sungguh merepotkan warga Jakarta. Urusan pilkada yang yang masih menyisakan satu ronde, kasus korupsi KTP-el yang akhirnya menerbitkan nama-nama besar, sampai masalah SARA yang tak henti-hentinya dikompori, sudah sangat membuat warga Jakarta gerah. Lalu tanpa permisi, dalam hiruk-pikuk kondisi sosial dan politik yang sedang panas-panasnya, Rest Area: Perupa Membaca Indonesia mengajak kita untuk refleksi. Melihat kondisi yang terjadi saat ini. Bukan hanya di Jakarta, melainkan di seluruh Indonesia.

Rest Area tak hanya mengajak warga membaca isu Jakarta, yang selalu menguasai media massa dari hari ke hari. Ia menampilkan pelbagai masalah Indonesia, yang sesungguhnya banyak yang lebih penting dari sekadar urusan Jakarta.

Seeing the Possibilities and Chance #2 karya Made Toris Mahendra

Sejak memasuki ruangan pameran, lukisan berbagai objek dan warna kontras dalam sebuah bola mata berukuran 200 x 275 cm telah terpajang. Lukisan berjudul “Seeing the Possibilities and Chance #2” itu seolah mengajak setiap pengunjung yang datang ke pameran untuk melihat, membaca segala yang ditampilkan dalam Rest Area sebagai manifestasi kondisi Indonesia hari ini.

Made Toris Mahendra, seniman asal Yogyakarta, melalui karyanya tersebut ingin mengajak warga untuk melihat kondisi dan situasi Indonesia yang sangat beragam. Karena itu, potensi karena terlalu banyaknya suku dan agama tersebut sangat rawan dijadikan konflik.

“Kita harus menjaga itu agar tidak menjadi konflik. Mata itu indra pengelihatan kita untuk melihat. Sehingga kita punya kesempatan antisipasi. Yang peting itu antisipasi yang harus kita bangun agar konflik itu tidak terjadi,” katanya, Selasa pekan lalu.

Romantika Politik Humor karya Evy Yonathan

Tak hanya sekadar mengajak melihat kondisi Indonesia, dalam karya patung kecil yang terbuat dari tanah liat, Evy Yonathan menyuguhkan sebuah refleksi memalui karya “Romantika Politik Humor”. Karya yang menggambarkan rakyat kecil harus selalu mendengar, sementara penguasa terus menerus berbicara. Sementara di luar sana, banyak yang lebih penting dari sekadar mendengarkan penguasa berbicara.

“Karya ini sebagai jokes. Tokoh yang depan ini saya anggap kurang menyenangkan, namun kita dipaksa untuk terus menonton. Itu menunjukan kita mau tak mau harus mau membaca situasi di sekitar kita,” kata perupa asal Jakarta ini.

Mimpi Buruk Mitos karya I Nyoman Putra Purbawa

Sementara itu warga Jakarta masih terus sibuk dipaksa menonton guyonan politik, di Bali tradisi sudah mulai ditinggali. I Nyoman Putra Purbawa membuat karya “Mimpi Buruk Mitos”, yang menggambarkan Gatot Kaca sedang berjuang keras melawan Captain America dalam empat karya cetak tinggi.

Menurut Nyoman, Indonesia itu selalu dianggap rendah oleh warganya sendiri. Padahal, negara ini memiliki berbagai kebudayaan dan potensi. Namun, kebanggaan untuk menggunakan kebudayaan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya membuat Indonesia hanya menjadi pasar bagi kebudayaan asing.

“Ini menjadi peperangan sekaligus rasa optimis kita melawan sebuan kebudayaan asing yang masuk. Saya mengharapkan bahwa kita memiliki keyakinan dengan kebudayaan kita sendiri. Jangan selalu berkaca dan mengadopsi dari kebudayaan luar,” kata seniman Bali ini.

Dengan jelas, kurator Pemeran Seni Rupa Nusantara Indonesia 2017 Rest Area: Perupa Membaca Indonesia, Suwarno Wisetrotomo mengatakan, Indonesia hari ini adalah Indonesia yang terus berproses ‘menjadi’ dengan sejumlah tikungan terjal. Tikungan terjal yang dimaksud antara lain adalah situasi sosial, politik, dan ekonomi yang penuh guncangan.

Ia melihat, kondisi semacam itu tergambar dari maraknya intoleransi, rapuhnya kekerabatan, lunturnya gotong royong, mudah berprasangka, dan merebahnya ujaran kebencian yang tak perlu di media sosial. Karena itu, membaca Indonesia dianggap penting untuk memperlihatkan realitas yang terjadi melalui seni rupa.

Menurut dia, Indonesia hari ini adalah melihat indonesia dalam keseharian situasi sosial, politik, dan ekonomi, yang penuh turbulensi. Melalui Rest Area, ia ingin menawarkan gambaran situasi Indonesia saat ini dari berbagai perspektif seniman di tempat tinggalnya masing-masing.

Ada tiga tema besar yang ditawarkan melalui Rest Area ini. Pertama adalah karya-karya yang mengolah problem traumatik bangsa Indonesia dari masa ke masa, karya yang melihat Indonesia dengan penuh harapan, dan karya yang melihat Indonesia dengan cara lain yang digarap perupa yang berkebutuhan khusus.

Gagasan membaca Indonesia sendiri juga ingin menjawab fungsi dasar seni, khususnya seni rupa, sebagai saksi zaman, yang memberikan tanda-tanda pada situasi yang penuh guncangan. “Saya sendiri berpikir selama ini seniman dan karya seninya terlalu asyik sendiri. Dengan ini saya ingin kembali menggedor para seniman untuk kembali melihat realitas sosial di sekitarnya,” katanya.

Ia sendiri terkagum dengan banyaknya minat seniman Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam Pareman Seni Rupa Nusantara 2017. Dari undangan yang bersifat terbuka, sedikitnya ada 792 seniman dengan 1.000 karya yang masuk ke tangan tim kurator. Namun, akbibat keterbatasan ruang hanya 100 karya dari perupa yang diikutkan pameran, dari undangan tujuh karya dan sisanya melalui proses seleksi terbuka. Artinya ada 900 karya yang harus disingkirkan tim kurator yang dinilai belum sesuai dengan tema yang ditawarkan.

“Menurut kami, 100 karya ini mampu mewakili konteks Indonesia hari ini,” katanya.

Ia berharap, pameran ini dapat digunakan untuk melakukan pemetaan, agar instutusi terkait dapat melakukan distribusi informasi, infrastruktur, dan kesempatan yang berimbang antara seniman Jawa dan luar Jawa. Karena, dari 100 karya yang dipamerkan, dominasi masih dikuasai oleh seniman yang berasal dari Jawa.

A Sudjud Dartanto, salah satu kurator pameran mengatakan, pameran ini yang ditampilkan ini terdiri dari berbagai media, mulai lukisan, grafis, patung, fotografi, gambar, instalasi, hingga video. Artinya, selain keragaman perspektif, Rest Area juga memperlihatkan keragaman media teknik dan bentuk karya yang ditampilkan.

“Pameran ini juga menggambarkan besarnya potensi perupa di Indonesia. Pameran ini ingin mengembalikan seni rupa sebagai alat bacaan, ketika persoalan cukup banyak dirasakan di Indonesia,” katanya.

Sudjud menilai karya-karya yang lahir dari berbagai provinsi di Indonesia ini membuka kenyataan bahwa potensi seni rupa Indonesia sunggu besar. Dengan begitu, seni rupa itu dapat dipahami sebagai rekaman atas konteks Indonesia kekinian. Pameran ini sendiri berlangsung di Galeri Nasional Jakarta, 7-25 Maret 2017.

Kepala Galeri Nasional Tubagus ‘Andre’ Sukmana, mengakui hal tersebut. ia juga berharap dengan digelarnya Pameran Seni Rupa Nusantara setiap dua tahun sekali, dapat menjadi wadah eksistensi perupa di seluruh Indonesia. Sejak awal digagas tahun 2001, pameran ini diharapkan mampu melahirkan potensi dan eksistensi para perupa di berbagai daerah, sekaligus sebagai arena pembacaan perkembangan seni rupa Indonesia.

“Pameran ini sesungguhnya sebagai media untuk pemetaan atau membaca eksistensi perkembangan seni rupa di nusantara,” ungkapnya.

 

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here