Atheis Kafir: Marxis Tanpa Menolak Agama

0
130

Mengadaptasi dari novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja dari tahun 1949, pada 1974 Sjumandjaja menambahkan kata “Kafir” pada judul film ini. Kata yang dilafalkan dengan peyoratif oleh sebagian golongan, termasuk golongan muslim ortodoks seperti Hasan.

Hasan, diperankan oleh Deddy Soetomo, adalah seorang yang dididik dan dibesarkan dalam keluarga muslim ortodoks. Saat kecil, dongeng pengantar tidurnya adalah cerita tentang anak-anak nakal yang dihukum di neraka. Kata ibunya, anak nakal yang mencuri, nanti di neraka tangannya akan dipotong oleh algojo. Cerita tentang neraka ini menjelma jadi imajinsai yang begitu nyata pada Hasan kecil.

Bukan tidak mungkin Hasan, seperti anak kecil lain menyerap cerita ini sebagai ajaran agama mengenai hukuman di neraka, sebagai ketakutan. “Di neraka, orang tidak bisa mati-mati, tapi terus disiksa. Tapi kamu kan bukan anak nakal. Kamu anak yang baik dan rajin solat.”

Bagi seorang anak kecil, rasanya mudah sekali untuk melakukan suatu perintah untuk menghindari hukuman yang menyakitkan. Sama mudahnya dengan melaksanakan suatu perintah, termasuk ajaran agama, untuk mendapatkan imbalan berupa kenikmatan.

Ajaran agama yang sedemikian kuat tertanam hingga Hasan dewasa, mengalami kontra saat ia bertemu dengan sahabat lamanya, Rusli, yang juga mengenalkannya pada Kartini. Mereka berdua ternyata adalah anggota kelompok revolusioner yang ingin melawan kolonialisme Belanda dan imperialisme Jepang. Bentuk perjuangan Rusli tampak dalam pertemuan kelompok mereka, serta saat Rusli dan anggota kelompoknya melindungi seorang tokoh masyarakat, Haji Mustafa, yang menolak bersujud pada arah Tokyo dan tetap ingin bersujud ke arah kiblat.

Bagi Rusli, Islam baru besar ketika bisa menjadi alat revolusi. Sayangnya, sikap perlawanan Haji Mustafa mengakibatkan serangan tembakan tentara Jepang ke arah massa dan melebar hingga ke jalan-jalan desa. Bentuk perjuangan Rusli menunjukan kepentingan yang sebatas pada membebaskan rakyat dari belitan kolonialisme dan imperialisme tanpa tampak tujuan untuk mendirikan kekuasaan yang berlandaskan paham komunisme.

Rusli menerima paham materialisme Marxis tetapi tanpa menolak agama. Untuk tujuannya, yaitu revolusi, agama bisa diterima untuk menggerakkan massa yang besar. Namun, Rusli menolak konsepsi Tuhan sebagai entitas yang transenden dan mengatasi kemampuan manusia untuk berpikir.

Rusli adalah seorang marxis-leninis yang memiliki keyakinan bahwa, dengan akal dan kemampuan manusia, bukan tidak mungkin manusia akan mampu menggunakan listrik untuk menghidupkan orang mati. Pola pikir materialisme Rusli ini bagi Hasan adalah melawan kodrat Tuhan. Dalam pola pikir Hasan, akal manusia adalah anugerah Tuhan. Namun jelas-jelas Rusli menyatakan bahwa ia lebih memilih kodrat ilmu pengetahuan yang selalu berkembang, dan ia bilang, “Tuhan tidak ada.”

Kalau kata Hasan bahwa akal manusia ada batasnya, yaitu kematian, maka Rusli menerjemahkan konsep kematian sebagai “…keadaan yang berhenti dan tidak lagi berkembang.” Kalau Rusli menolak agama untuk sama sekali bertahan pada pandangan materialismenya, maka bisa jadi Rusli akan mengalami kematian seperti konsepsinya.

Pemikiran Rusli tentang kemungkinan bahwa manusia akan mengembangkan listrik untuk menghidupkan orang yang sudah mati berada pada latar Atheis Kafir pada saat pendudukan Jepang, sekitar tahun 1942. Defibrillator, alat kejut listrik yang digunakan secara medis untuk pasien dengan kasus henti jantung atau cardiac arrest, sukses diujicobakan pada manusia pada 1947, sekitar lima tahun setelah latar cerita ini berlangsung. Terkaan yang muncul, ini adalah upaya Mihardja untuk mengkorelasikan pandangan tokoh ateis kita dengan kejadian yang faktual. Karakter Rusli dibangun dengan melandaskan ateismenya pada intelektualitas dan science.

Amarah Hasan tampak jelas setelah ada orang yang menolak kekuasaan Tuhan di hadapannya. Ia bahkan merasa memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan Rusli yang murtad ke jalan yang benar, sesuai yang diajarkan di agamanya. Namun, ia masih mau duduk semeja dengan Rusli dan Kartini pada sebuah makan siang. Meski terlontar juga ketakutannya akankah makanan yang terhidang mengandung babi.

Dialog Hasan-Rusli berlangsung dengan datar meski argumen mereka intens. Belum tercapai maksud Hasan ingin membawa Rusli ke ‘jalan yang benar’, muncul lagi satu karakter ateis. Ialah Anwar, seorang pelukis yang anarkis. Di hadapan Hasan, Anwar mengoleskan opium ke batang rokoknya sambil mengutip Marx bahwa “Tuhan adalah candu”. Tak acuh, bahkan tampak puas dengan respon Hasan yang sudah penuh emosi, Anwar masih melanjutkan, “…tapi bagiku, Tuhan adalah aku sendiri. Anal haq.” Pertemuan Hasan dengan Anwar lebih-lebih menjadi disonansi kognitif bagi pandangan ortodoks pegangan Hasan, hingga ia akhirnya menilai Anwar sebagai “kafir segala kafir”.

Tapi, kealotan Hasan-Anwar tidak berhenti sampai di situ. Anwar berhasil mengolok-olok kepercayaan Hasan soal hal-hal imaterial dengan menantangnya masuk ke hutan yang dianggap mistis di kampungnya. Ketika Hasan lari terbirit-birit dari pohon besar yang dianggap ada penunggunya, tidak terbukti ada setan yang muncul. Padahal, olok-olokan Anwar, satu-satunya adegan yang memancing tawa penonton di film ini, bukan iseng belaka. Ketika keesokan harinya mereka kembali ke pohon mistis, Hasan tak takut sedikitpun.

Selanjutnya adalah penjabaran Anwar. Manusia punya kecenderungan untuk berkhayal, jika akalnya terbatas pada hal-hal yang tak sanggup dimengerti. Khayalan manusia itu bisa menjadi sebegitu kuatnya, hingga manusia bisa mempercayai khayalannya sebagai sesuatu yang nyata. Hasan menerima olok-olokan Anwar yang sejalan dengan paham marxis Rusli yang menolak entitas transenden, sebagai pembuktian. Hal-hal yang tak sanggup dimengerti manusia, seperti yang dimaksud oleh Anwar, termasuk di dalamnya tuhan dan hantu-hantu adalah hasil dari daya khayal manusia yang tak memiliki wujud nyata. Pembuktian yang membawa Hasan pada keputusan untuk menikah dengan Kartini, dan bukan dengan adik angkatnya seperti yang telah dijodohkan orang tuanya.

Deddy Sutomo dan Ernie Djohan.

Para tokoh perempuan pada Atheis Kafir ini, tidak mendapat tempat yang cukup sebagai perempuan yang bebas. Meskipun Kartini ditampilkan sebagai perempuan modern yang berperilaku bebas, minum bir dan merokok, serta seringkali memilih pulasan lipstik dan kebaya oranye menyala, ia tetaplah primadona yang mencuri perhatian. Keberadaan Kartini dalam organisasi radikal bersama Rusli, semata karena Rusli ‘menyelamatkannya’ setelah ia ditinggalkan oleh suami Belanda-nya. Kartini pun juga harus menerima pukulan suami yang curiga.

Semantara Rukmini, cinta masa muda Hasan juga tampil sebagai pemanis di awal cerita. Yang membekas dari kehadiran Rukmini adalah gaun putih berlengan bell sleeve saat ia masih jadi gadis lugu yang pasrah. Cinta Rukmini dan Hasan harus berakhir setelah Hasan dijodohkan dengan Fatima, adik angkat Hasan dari kecil.

Si tokoh anarkis kita, Anwar, juga jelas-jelas digambarkan sebagai tokoh yang memperlakukan wanita sebagai objek, yang memperlakukan Kartini secara tak senonoh dan menghina pelacur. Dalam drama ini, perempuan ditampilkan sebagai sosok rapuh yang membutuhkan pengakuan dan perlindungan dari laki-laki.

Pada akhirnya, Sjumandjaja menghadirkan karakter manusia yang, apapun kepercayaannya, tak bisa lepas dari nafsu primitifnya. Setiap individu memiliki dorongan-dorongan lahiriah, dorongan untuk mengejar dan mendapatkan kebahagiannya. Dorongan ini ternyata tak bisa dikekang hanya dengan berpegang pada kepercayaan saja. Sjumandjaja menghadirkan ini dalam adegan klimaks yang dibangun dengan sangat perlahan-lahan. Yang anarkis hendak merebut istri kawannya, yang muslim membunuh yang anarkis. Meninggalkan pertanyaan, jika memilih kepercayaan, termasuk memilih untuk menjadi ateis adalah hak setiap orang, apa alasan kita memilihnya?

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here