Kebenaran Punya Versinya Masing-masing

0
56

DI atas panggung, seorang pengacara muda (diperankan I Gusti Ngurah Taksu Wijaya) sangat bersemangat untuk menangani kasusnya di pengadilan. Ia mendapat klien besar. Seorang penjahat besar yang diancam pidana. Meski berisiko besar, sebagai pengacara yang bertekad memberikan keadilan kepada siapapun, ia tetap membelanya.

Sebelum menghadapi persidangan, pengacara muda itu memamerkan kasus yang akan dihadapinya kepada pengacara senior (Putu Wijaya), yang tak lagi mampu berbicara. Pengacara senior itu merupakan ayahnya sendiri. Namun, sang pengacara muda lebih memilih berbicara sebagai seorang profesional sebagai kolega, bukan sebagai ayah dan anak. Alhasil, nasihat tersirat dari ayahnya untuk tidak menangani kasus penjahat besar ditolak pengacara mentah-mentah.

“Benar salah bukan persoalan. Tugas pengacara adalah memberikan keadilan bagi siapapun. Hanya ada kemungkian kalau aku membelanya nanti, aku akan keluar sebagai pemenang,” katanya dengan yakin menghadapi pengadilan.

Sebagai pengacara muda, ia sangat bermimpi untuk melebihi kehebatan ayahnya. Karirnya yang bagus, membuat dirinya semakin dipenuhi ambisi memenangkan kasus tersebut. Tak ada sedikitpun keraguan darinya menghadapi perkara itu.

Benar saja. Sang pengacara muda berhasil membebaskan si penjahat besar dari segala tuduhan yang dituntut para jaksa. Uang berlimpah didapatkannya. Nama besar telah didapatkannya. Namun, keberhasilannya membebaskan penjahat besar sudah tentu tak disukai oleh masyarakat luas. Kemarahan masyarakat tergambar melalui simbol-simbol adegan demonstrasi besar-besaran.

Nahas, setelah bebas dari segala tuntutan, si penjahat melarikan diri ke luar negeri. Massa yang semakin beringas, bingung kepada siapa kemarahan mereka ditumpahkan. Tak bisa tidak, pengacara muda yang telah berjasa membela kebenaran akhirnya tewas diamuk massa yang marah.

Ayahnya, pengacara senior yang tak lagi bisa bicara hanya bisa menangis tersedu-sedan. Ia menyesali tak bisa memberi tahu secara langsung konsekuensi yang akan dihadapi anaknya. Ia hanya bisa meratapi anaknya yang tewas akibat ketidaktahuannya, tertipu oleh kebenaran yang amat diyakininya itu.

Begitulah ringkasan cerita dalam lakon monolog Oh yang dibawakan Teater Mandiri di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu (25/2). Tak banyak properti yang tampil di atas panggung. Hanya sebuah kusrsi kayu. Sangat minimalis, seperti slogan Teater Mandiri, “Bertolak Dari yang Ada”.

Lakon Oh hadir untuk membicarakan masalah perbedaan, keadilan, dan kebenaran lewat pengadilan serta keadilan kebenaran di hati nurani masyarakat. Monolog ini menampilkan paradoks antara keinginan orangtua rindu kepada anaknya dan ambisi seorang anak muda yang pintar tetapi angkuh yang lebih mendahulukan kepentingan karirnya. Target Teater Mandiri sendiri adalah menyuguhkan tontonan “teror mental”, yang bukan saja memberi hiburan, melainkan juga pencerahan agar penonton terbiasa untuk kritis.

Melalui lakon Oh, Teater Mandiri seolah memotret keadaan Indonesia belakangan ini ke atas panggung kecil di atas pusat perbelanjaan di Jakarta itu. Pasalnya, saat ini setiap orang sibuk membela kebenarannya masing-masing. Masyarakat berkubu-kubu memisahkan diri antara pro dan kontra. Bahkan, pertikaian ini telah mejalar ke kehidupan sehari-hari masyarakat. Padahal, tak ada seorangpun yang tahu akan kebenaran.

“Sekarang kan berita banyak soal pengadilan, politik. Mana yang benar mana yang salah, tidak ada yang tahu. Ini pas dengan kondisi saat ini,” kata Taksu, pemeran utama dalam monolog Oh.

Sementara itu, sutradara, penulis naskah, sekaligus pemeran dalam monolog Oh, Putu Wiyaja mengamini perkataan putra kandungnya itu. Lakon Oh yang dibawakan Teater Mandiri memang sangat relevan dengan kondisi Indonesia dewasa ini. Menurut dia, saat ini setiap orang berusaha untuk mengejar kebenaran yang diyakininya. Namun, jarang orang sadar bahwa kebenaran tersebut sangat bernuansa politik, yang notabene bisa berubah seuatu saat tergantung kepentingan.

“Masalah hukum saat ini saya kira cocok dengan ini. Di balik kebenaran itu ada maksud-maksud tertentu. Politik, membuat kita bingung,” kata pria yang juga mendirikan Teater Mandiri ini 46 tahun silam ini.

Bagi Putu Wijaya, merupakan kodrat manusia memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Namun, ketika kebenaran yang dibelanya akhirnya berbeda dengan apa yang diharapkan, ia harus bersedia menerima konsekuensinya. Pasalnya, tidak semua yang diinginkan manusia akan didapatkan, tidak semua yang diinginkan akan terjadi, juga tidak semua yang benar adalah kebenaran hakiki.

“Katanya negara hukum, ternyata hukumnya tidak bisa ditegakkan. Hukum itu instrumen mati, manusianya yang hidup yang harus menggerakan hukum. Hukum bagus, tidak ada gunanya kalau manusianya jahat,” katanya.

Naskah monolog Oh sendiri sejatinya adalah sebuah cerita pendek (cerpen) yang dibuat oleh Putu Wijaya pada 2003. Demi pementasan ini, Putu mengubah cerpen tersebut menjadi naskah monolog yang bisa dimainkan. Pementasan di Galeri Indonesia Kaya itu, lanjutnya, merupakan pertama kalinya Teater Mandiri mementaskan lakon Oh.

Ihwal pemilihan Taksu sebagai tokoh utama, Putu mengatakan bahwa hal tersebut adalah salah satu cara mendekatkan dirinya kepada sang anak. Pasalnya, hanya dengan memberi Taksu peran besar di pementasan, ia bisa berbicara intens dengan anak bungsunya itu.

“Anak-anak zaman sekarang susah diajang ngomong. Satu-satunya cara adalah dengan memberikannya peran di teater. Jadi saya bisa melatih dan bisa berbicara terus. Saya anggap dia berbakat. Semua sesuai dengan rencana,” ungkapnya.

Meski Putu Wijaya dan teaternya telah mendapat berbagai penghargaan. Misalnya, tiga Piala Citra dalam Penulisan Skenario dan tiga kali pemenang Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta. Selain itu, Putu juga pernah diundang ke Beograd untuk memberikan lokakarya sutradara di Italia (2007) dan turut pentas di LaMaMa (1997). Namun, masih perlu banyak teknis yang perlu diperbaiki dari seorang Taksu sebagai regenerasi Teater Mandiri. Mulai dari melepaskan clip on yang menggantung di samping bibir dan mengganggu estetika pementasan, memainkan intonasi suara agar tidak terkesan melulu bernada tinggi, hingga belajar menguasai panggung serta tidak memaksakan diri untuk melucu di atas panggung.

 

Naskah juga terbit Harian Nasional.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here