Mural, Seni Berkomunikasi di Ruang Publik

0
107

Macet, banjir, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) rubuh hingga reklamasi adalah fenomena yang menjadi lumrah belakangan ini di Jakarta dan sekitarnya. Dengan segala kejelimetan yang ada, kadang saat menunggu kemacetan di jalan terurai, saya merasa jenuh sendiri melihat fasilitas publik yang makin hari tak dapat digunakan dengan semestinya. Trotoar dijadikan warung, pengendara motor yang secara brengsek melawan arah sampai menjadikan trotoar sebagai jalan pintas membelah kemacetan.

Seolah tak mau kalah dengan pedagang di trotoar jalan, iklan-iklan komersial pun berebut ruang tuk menjajakan produknya lewat baliho-baliho segede gaban di sisi jalan. Baliho dan reklame iklan terlihat kurang ditata dengan baik, kadang menutupi nama jalan atau nama halte.

Seketika saya teringat kejadian JPO di Pasar Minggu setahun silam yang rubuh dan menewaskan dua orang. Disinyalir reklame iklan ‘liar’ menjadi salah satu penyebab JPO rubuh. Entah Pemprov DKI atau siapapun yang bersalah, namun yang pasti hal itu mencerminkan ketidakseriusan menata ruang, yang katanya milik publik. Sungguh pemandangan yang tak estetik dan membikin kening makin berkerut.

Sampai pada ketika, ada pemandangan unik di Jalan Prapanca, Jakarta Selatan yang kerap saya lewati. Muncul kalimat ‘Demi Fly Over, Pohon Game Over’ dengan wajah karikatur berwarna putih, bermata belo, kurang lebih mirip Patrick Star di kartun Spongebob.

Kala itu saya tidak terfokus pada karikaturnya, tapi pesan dari kalimat tadi yang jadi terngiang dalam benak saya. Kalimat itu seperti mewakili kegelisahan saya, dan mungkin banyak orang lainnya yang menyayangkan ditebangnya pepohonan rindang untuk pembangunan flyover. Jadilah ruang publik yang dipenuhi lautan beton.

Setibanya di rumah, rasa penasaran saya kini pindah kepada siapa kreator yang menuliskan kalimat tadi? Di media sosial twitter, ternyata gambar itu menjadi viral dan diunggah seleb-seleb ibukota. Begitu pula dengan media arus utama yang mewartakan gambar dan mewawancarai kreatornya. “Oh, The Popo namanya.”

Seni Itu Bernama Mural

Sebagai orang awam saya baru tahu corat-coret dengan kelir warna yang ada di tembok-tembok itu bernama mural. Dikutip dari Wikipedia, mural berasal dari bahasa latin murus yang bermakna dinding. Dalam pengertian yang lebih luas, mural adalah lukisan yang memanfaatkan dinding baik interior maupun eksterior sebagai mediumnya.

Di Indonesia sendiri pada pra-kemerdekaan, mural sudah dikenal sebagai cara untuk mengekspresikan pendapat secara diam-diam (Gusman, 2005). Mural bahkan digunakan sebagai alat propaganda oleh masyarakat yang tidak mendapat ruang bicara di media massa. Hal ini dapat dilihat dalam film Gie (2005) di mana tembok menjadi medium untuk menyuarakan maupun memobilisasi rakyat untuk melawan suatu rezim.

Medium tembok di ruang publik menjadi keunikan tersendiri. Tembok jalan, sudut-sudut ruang jalanan seperti merekam semua peristiwa yang terjadi hingga memiliki nilai historis bagi warga setempat. Hal ini pula yang diamini Riyan Riyadi, muralis asal Bekasi yang lebih dikenal lewat karakter, The Popo. “Saat gue bikin mural di suatu tempat. Gue pasti lihat dulu itu tempat dikenal dengan apa. Ambil contoh waktu gue mural di Asemka, yang dikenal sebagai tempat jual mainan. Gue gak langsung gambar, tapi ngobrol dulu sama warga, dan dari situ gue dapet inspirasi,” ujar Riyan Riyadi, dalam diskusi Streetart dan Mural di Indonesia, Jum’at (17/02/17) di Bentara Budaya Jakarta.

unnamed (2)

Riyan menambahkan, meski terlihat sederhana namun tiap karyanya selalu ada konsep, minimal observasi kecil di tempat tersebut. “Pasti ada konsep, tapi gue bukan Robin Hood yang bisa gambarin apa yang lo mau. Gue akan gambar apa yang gue suka, soal kritik sosial dan sebagainya gue gak ada niatan. Kalau orang merasa terwakili aspirasinya, bagi gue itu efek,” sambung muralis peraih The Best Mural Artist Tembok Bomber Award 2010.

Mural Milik Warga

Bagi muralis asal Bekasi ini, haknya pada tiap gambar yang ia buat hanya berkisar sekian detik setelah dibuat. Selebihnya menjadi milik warga setempat, “Terserah mau diapain itu gambar. Kerjaan gue udah beres sampai itu gambar jadi,” imbuhnya.

Ini pula yang ditekankan Riyan dalam karyanya, kedekatan dengan warga adalah nilai yang amat penting. “Gue pernah kelar gambar terus gue tinggal makan mie ayam, eh gue balik, gambarnya udah diapus warga,” ungkapnya.

Dari sana lah kesadaran itu muncul, peran warga amat besar dalam karyanya. “Gue tidak memaksakan orang lain untuk sependapat dengan gue, tapi gue coba gali apa yang warga di sana rasakan. Dan gue udah buktiin, dengan modal itu, karya gue bisa bertahan lebih lama di sana,” lanjut muralis yang juga dosen komunikasi visual di Kampus IISIP Jakarta ini.

“Sekuat apapun cat yang lo pake, kalau warga gak suka ya bakalan ilang juga gambar lo. Yang penting adalah bagaimana lo bisa membangun komunikasi dengan warga setempat, sampai mereka punya kedekatan atau rasa memiliki sama gambar lo. Di situ poin yang harus disadari, tiap gambar usahain posisikan diri lo sebagai warga, bukan seniman,” ungkapnya.

Ditanya soal harapan bagi seni mural ke depannya, Riyan mengaku tidak punya harapan apapun. “Ya gak ada harapan sih, cuma lakuin terus apa yang lo suka selagi tidak merugikan orang lain,” tandasnya mengakhiri diskusi.

SHARE
Selira Dian
Jurnalis paruh waktu. Pembaca purna waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here