Yang Nyata dan yang Klise

0
46

Motivasi mungkin adalah sebuah kata klise yang sering terdengar tatkala mendorong diri sendiri atau orang lain untuk menyelesaikan suatu tugas atau mencapai tujuan. Semua orang merasa perlu motivasi ketika usaha yang dijalaninya menemui jalan buntu. Kadang-kadang, diri seseorang kurang memiliki kesadaran dan sulit menemukan motivasi yang tepat, sehingga perlu orang lain untuk mengingatkan.

Maka, pembicara sebagai motivator pun bermunculan, mulai dari Mario Teguh sampai Tung Desem Waringin. Seminarnya dibuka dimana-mana. Biayanya, sampai berjuta-juta. Hanya untuk menghasilkan manifestasi dari motivasi yang terasa begitu abstrak dan jauh. Kebanyakan peserta seminar motivasi itu merasa, jika dirinya memiliki motivasi untuk bekerja lebih keras, lebih tekun, maka kebahagiaan akan datang dan laba pekerjaan akan semakin berlipat ganda. Salah satu analogi yang digunakan dalam seminar Tung Desem Waringin, seorang motivator yang pernah menebar uang seribuan dari helikopter di daerah Jawa Barat adalah, jika anda mampu berjalan melewati bara api menyala dan pecahan-pecahan beling, maka tidak ada hal yang tidak mampu anda lakukan untuk mewujudkan keinginan anda. Betapa spektakuler. 

Di dalam teater, motivasi mutlak dimiliki seorang aktor ketika berada di atas panggung. Tanpa motivasi, apapun yang si aktor lakukan di atas panggung akan terasa kosong dan tidak berarti apa-apa. Misalnya, seorang aktor yang bermonolog di atas panggung—pengwujudan ini mirip seperti seorang motivator pembicara di dalam seminarnya—berjalan tak tentu arah di panggung. Ia memerankan seorang kakek yang letih dan bosan akan hidupnya di masa pensiun, tapi mondar-mandir di sepanjang mulut panggung. Artinya, ia tak punya motivasi yang jelas ingin menyampaikan apa. Seni teater, mengajarkan motivasi. Motivasi di dalam teater bermula dari kesadaran.

Seorang aktor teater perlu menanamkan kesadaran bahwa yang diperankannya di atas panggung adalah sebuah refleksi kehidupan, dan ia harus belajar dari kehidupan itu sendiri. Latihan kesadaran seorang aktor teater dimulai dari diri sendiri. Ada salah satu metode latihan teater yang menuntut para aktor untuk mengidentifikasikan semua perasaan yang pernah dialaminya. Perasaan senang, sedih dan marah yang pernah dialami akan membantu membawakan karakter orang lain dalam naskah. Latihan ini selain menghasilkan ekspresi dan gestur yang dibutuhkan untuk pemanggungan, juga memberikan kesadaran pada si aktor yang terlatih untuk memiliki empati, karena semua orang pernah merasakan emosi senang, sedih dan marah, tapi alasannya berbeda-beda.

Motivasi terdengar klise, karena sebenarnya ada pada diri setiap orang. Jaman sekarang, jika memunculkan kesadaran untuk menemukan motivasi saja ada yang perlu membayar sampai jutaan rupiah, berarti kita cenderung lupa berkontemplasi pada diri sendiri, untuk apa kita bertahan hidup, dan apa alasan kita bertahan hidup. Mengutip kata-kata dari novel Dead Poet Society karya NH Kleinenbaum, “ilmu, matematika dan sains adalah untuk bertahan hidup. Tapi seni, keindahan dan romantika, adalah alasan kita bertahan hidup”.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here