Corat-coret GM yang Dipamerkan

0
28

Sebanyak 77 sketsa memenuhi ruangan dia.lo.gue Art Space di Kemang, Jakarta. Sketsa-sektsa itu terbagi dalam tiga tema, “Gambar, Atau Sajak yang Diam”, “Wajah”, dan “Yang Grotesk”. Sebagian besar sketsa-sketsa itu pun telah bertanda merah di pojok kanan bingkainya, yang artinya sketsa sudah dibeli pengunjung pameran pada malam pembukaan, meskipun pameran masih akan berlangsung hingga 5 Maret 2017

Sketsa-sketsa yang seluruhnya bertajuk Kata, Gambar ini merupakan merupakan pameran tunggal Goenawan Mohamad, lelaki yang dikenal sebagai wartawan, esais, penyair, serta penulis naskah drama. Ini merupakan kedua kalinya, GM, karib Goenawan Mohamad, melakukan pameran tunggal, setelah sebelumnya dilakukan di Yogyakarta dengan tema PE.TIK.AN.

Hermawan Tanzil, kurator pameran Kata, Gambar mengatakan pameran ini diisi oleh sketsa-sketsa yang sebagian dibuat dalam rentang waktu empat buan terakhir. Menurutnya, GM memang suka menggambar sketsa sejak lama. Namun, hal itu tak pernah ditunjukan kepada publik.

“Saya pernah diam-diam memotret ruang kerjanya GM di Salihara tahun 2011. Kalau menurut saya, karya dia itu menggambarkan kebebasan dia berpikir, berekspresi, itu justru sangat kaya seperti tulisannya. Itu yang membuat karya dia sangat kaya. Bisa hidup,” katanya di Jakarta, Jumat (10/2) saat malam pembukan pameran.

Ketika itu, lanjut Hermawan, GM menggambar apa saja banyak hal dengan berbagai tema seperti teater, literatur, arsitektur, dan berbagai macam lainnya. Namun, setelah GM memutuskan untuk melakukan pameran, mereka berdua sepakat hanya menampilkan tiga tema utama.

Tema “Yang Grotesk” disebut Hermawan sebagai karya-karya di mana GM kebebasannya dan sangan dibanggakan olehnya. Sketsa-sketsa “Yang Grotesk” itu dikerjakan GM hanya dalam hitungan menit, meski di dalam kepala GM sudah lama dipikiran. Sementara di Tema “Gembar, Atau Sajak yang Diam” dinilai sebagai sketsa GM yang terinspirasi dari puisi-puisi yang pernah dibacanya. Sedangkan dalam tema “Wajah”, GM menampilkan potret-potret tokoh yang ada di kepalanya tanpa mencontek potret aslinya.

“Memang yang paling dominan adalah ‘Yang Grotesk’, tapi supaya pamerannya menarik kita bikin satu sesi yang campuran, di luar tiga tema utama itu. Seperti arsitektur, literatur, mobil, dan lainnya. Itu unutk memperkarya dari tema utama untuk memprlihatkan bagaimana dia menggambar,” katanya

Menurut Hermawan, karya GM menjadi penting karena keunikan, keliaran, kebebasan, dan cara GM berpikir dalam membuat sketsa. Menurutnya, jika diperhatikan dalam “Wajah”, banyak sekali tokoh komunis yang ditampilkan. Hal itu dinilai sebagai keberanisan kebebasan seoarang GM.

“Seniman-seniman besar itu akan selalu muncul dari keunikan temanya. Ini adalah sketsa, namun orang kita selalu tertarik dengan seni lukis, namun saya melihat ini adalah sesuatu yang berbeda,” ucapnya.

GM sendiri mengaku, awalnya tidak memiliki niat untuk melakukan pameran sketsa. Menurutnya, niat itu muncul dari dorongan teman-temannya yang berkata bahwa sketsa karnya bagus. Karena itu, dalam pameran tunggal ini ia tak memiliki misi apapun, kecuali berbagi.

Meski begitu, GM tetap ingin mengatakan sesuatu lewat sketsa-sketsa miliknya tersebut. ia mengatakan, melalui sketsanya, ia ingin menerabas batas antara jelek dan bagus. Menurut GM, perkara jelek dan bagus itu sangat tergantung pada perspektif. “Kalau kita lihat bayangan, terus kita lihat raksasa dalam bayangan, itu jelek atau bagus, itu kan indah sekali. Saya mencoba untuk mengingatkan hubungan itu untuk jangan dilupakan. Itu pesan yang ingin disampaikan,” katanya.

Adapun inspirasi GM membuat sebuah sketsa adalah semua barang-barang di sekitarnya yang dinilai menarik. Juga bayang-bayang gambar yang selama ini selallu hadir dalam setiap sajak. Menurut dia, hal it mungkin ada hubunganya dengan kecenderungannya kepada puisi yang imagis.

Setelah menjadi wartawan, penyair, penulis drama, esais, dan kemudian juga perupa, GM mengaku tak memiliki ambisi lagi. Ketika ditanya ke depan akan menjadi apa lagi, ia menjawab,”Mati. Jadi mayat.”

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here