NOKAS: Antara Ambisi, Famili dan Jerat Tradisi

0
67

Sekilas tak ada yang istimewa dari Nokas, lelaki berdarah Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu hanyalah seorang petani di ladang orang. Menggali tanah kemudian menyiraminya dengan air sungai adalah rutinitasnya. Sengatan mentari yang tega membakar kulitnya tak pernah ia risaukan. Sepuntung rokok di selipan jarinya menjadi satu-satunya teman setia kala letih mulai terasa.

Ketika senja menjemputnya pulang, pria ini berharap satu kerja kerasnya kelak cukup untuk menikahi kekasihnya, Ci. Ya, lelaki berparas khas timur itu ingin segera menaiki altar pernikahan bersama Ci.

Namun film ini tak mengambil jalan pintas seperti kisah romansa di sinema elektronik. Adegan demi adegan justru dibiarkan mengalir apa adanya. Perjuangan Nokas bekerja di ladang dan usaha keluarganya untuk menegosiasikan mahar pada keluarga Ci, diceritakan begitu detil.

Seperti adegan Nokas membawa seekor babi bertubuh gempal untuk dijadikan salah satu syarat maharnya. Membawanya dengan sepeda motor, naik perahu untuk menyeberang lautan dan harus berjuang lagi untuk sampai ke rumah pihak perempuan.

Mahar atau mas kawin adalah tradisi memberikan sejumlah harta oleh mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan dalam ritual pernikahan. Tradisi itu begitu mengakar kuat, bak sebuah tiket tuk memasuki altar pernikahan, ada mahar, ada restu.

Film dokumenter yang telah diputar di Festival film Singapura dan Eurasia International Film Festival di Kazakhstan ini, pertama kalinya diputar di acara bertajuk “KAMERA: Asa Bahasa Sinema” di Bentara Budaya Jakarta, Jum’at (27/01/17).

Film seperti Nokas ini tak sendiri, seperti dikutip dari Majalah Tempo (edisi 2-8/01/2017), pada 2016 juga bermunculan film independen yang hadir dari komunitas dan menggunakan bahasa daerah seperti Sunya (Jawa), Salawaku (Maluku) dan Athirah (Bugis) meski jumlah penontonnya tak bisa mengalahkan film mainstream, tapi kehadiran film dengan bahasa daerah itu tentu memperkaya khazanah film nasional.

Menyorot KDRT

Film dokumenter yang sebelumnya sudah diputar di Screendocs Expanded di Erasmus Huis Jakarta ini, memotret bagaimana menikahi gadis Timor tidaklah mudah. Pihak lelaki harus membayar mahar yang diminta pihak perempuan, yang tentu saja begitu memberatkan pihak laki-laki.

Tradisi ini tak ubahnya seperti transaksi jual beli di pasar, ada uang ada barang, di akhir cerita, film ini juga membeberkan fakta kasus kekerasan dalam rumahtangga (KDRT) yang cukup tinggi di Kupang yang kemungkinan besar dikarenakan belenggu tradisi adat di sana.

Dengan logika seperti ini, bukan tidak mungkin pihak lelaki yang sudah “membeli” perempuan untuk dinikahinya memiliki sense of belonging yang mutlak. Jadi jika sewaktu-waktu istrinya mengecewakan, bak barang, ia dapat memperlakukannya dengan semena-mena. Perlakuan tersebut acapkali melanggar hak asasi manusia.

Seperti dikutip dari antaranews, Rumah Perempuan Nusa Tenggara Timur mencatat, selama 2012 terjadi 114 orang istri yang mengalami KDRT. Kasus  tertinggi terjadi di wilayah kota Kupang (77 kasus) dan 37 kasus terjadi merata di 20 kabupaten.

Film dokumenter observasional berdurasi 76 menit arahan Manuel Alberto Maia atau yang biasa disapa Abe ini memotret fenomena tradisi adat pernikahan di Kupang juga secara tidak langsung menyandingkannya dengan angka KDRT yang terjadi di sana.

Untuk merampungkan film ini, Abe bersama Komunitas Film Kupang memerlukan waktu tiga tahun. Meski cukup lama, karyanya berbuah manis, film ini berhasil diputar dalam ajang Eurasia International Film Festival 2016 di Almaty, Kazakhstan.

Bak oase di tengah gempuran film-film lokal yang hanya bermodal anatomi tubuh perempuan, film ini memberikan alternatif yang segar bagi pecinta film lokal namun dengan kualitas internasional. Nokas, menjadi jendela bagi siapapun untuk melihat Kupang lebih dekat.

SHARE
Selira Dian
Jurnalis paruh waktu. Pembaca purna waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here