Glodok: Suara Pancuran yang Menjadi Pusat Elektronik

0
54
Kawasan Glodok di Masa Lalu

Penduduk Jakarta dipastikan sudah tidak asing lagi dengan daerah bernama Glodok yang berada di Kotamadya Jakarta Barat. Sejak Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda, daerah ini sudah dikenal sebagai Kawasan Pecinan karena mayoritas warganya adalah keturunan Tionghoa. Meski begitu, tidak banyak yang tahu dari mana nama daerah yang sekarang dikenal sebagai pusat elektronik ini berasal.

Terdapat 2 versi asal muasal nama daerah ini. Pertama, Glodok diketahui berasal dari kata dalam Bahasa Sunda “golodog” yang berarti pintu masuk rumah. Nama ini diberikan karena saat itu Sunda Kalapa (Jakarta) merupakan pintu masuk Kerajaan Sunda. Sebelum dikuasai Belanda yang membawa pekerja dari berbagai daerah dan kemudian menjadi Batavia, wilayah Sunda Kalapa dihuni oleh orang Sunda. Perubahan ‘G’ menjadi ‘K’ pada akhir kata sering terdapat pada kata-kata Sunda yang dieja oleh orang non-Sunda, terutama orang Jawa dan Melayu yang kemudian banyak menjadi penghuni Jakarta.

Versi kedua mengatakan kalau nama Glodok berasal dari suara air pancuran dari sebuah bangunan kecil berbentuk persegi delapan yang berada di tengah alun-alun Balai Kota (Stadhuis) pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Air bersih yang mengalir dari bangunan persegi delapan ini dimanfaatkan oleh para serdadu untuk keperluan sehari-hari serta kebutuhan minum bagi kuda-kuda serdadu seusai melakukan perjalanan yang jauh. Air pancuran tersebut mengeluarkan bunyi “Grojok… Grojok… Grojok…”. Dari sanalah nantinya bunyi aliran air dari bangunan kecil tersebut dieja oleh penduduk pribumi sebagai Glodok.

Selain itu, kata “pancuran” juga dijadikan nama sebuah daerah yang hingga kini dikenal sebagai Pancoran. Sementara penduduk di kawasan Jakarta Kota biasa menyebutnya “Glodok Pancoran”. Tak hanya itu, nama-nama jalan di wilayah ini juga diketahui memiliki nilai yang positif. Sebut saja jalan Kemenangan, jalan Kesehatan, jalan Kemurnian, jalan Kebahagiaan, dan sebagainya. Orang Tionghoa percaya bahwa pemberian nama yang bagus akan memberikan kehidupan yang baik pula.

Kawasan Glodok memiliki sejarah yang panjang. Sebelum dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik di Jakarta, daerah ini tadinya adalah bekas tempat isolasi kaum Tionghoa. Semua berawal dari para warga etnis Tionghoa yang melawan Belanda dengan melakukan pemberontakan yang dikenal sebagai Geger Pacinan. Sedikitnya 20 ribu warga Tionghoa menjadi korban dalam peristiwa yang membuat aliran sungai yang berada tak jauh dari kawasan Glodok berubah warna menjadi merah darah. Sejak saat itu, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan bernama Wijkenstelsel di mana para warga etnis Tionghoa hanya boleh mendiami kawasan Glodok dan dilarang tinggal di dalam tembok kota.

Sebagai Pecinan, dapat dipastikan kalau mayoritas penghuni kawasan Glodok adalah warga keturunan Tionghoa. Kebanyakan dari mereka memiliki bangunan yang dimanfaatkan sebagai ruang usaha di lantai dasar sekaligus tempat tinggal di lantai atasnya. Kini, beberapa rumah toko (ruko) dari masa tersebut masih bisa dijumpai di seantero wilayah Glodok. Ada yang sudah direnovasi atau dibuat menjadi lebih modern dan ada juga yang dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Sejak zaman kolonial, kawasan Glodok memang sudah populer sebagai pusat perdagangan. Beberapa bangunan tua yang hingga kini masih berdiri di kawasan ini, baik yang terawat maupun yang sudah terbengkalai, masih dapat memberikan aura kemegahan dan keramaian transaksi perdagangan di Glodok. Saking ramainya, saat itu kawasan Glodok sempat menjadi tempat hiburan malam yang cukup populer namun terselubung dan ilegal. Bahkan keramaian Glodok sudah dimulai sebelum kehadiran pemerintah kolonial di tanah Sunda Kalapa. Kawasan Glodok pun tumbuh bersama dengan kampung tua lainnya yang berada di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

Pasar Glodok

Menjelajahi kawasan Glodok sama saja seperti melakukan napak tilas dan refleksi pada segala hal yang telah dilakukan oleh berbagai etnis baik Tionghoa maupun pribumi untuk bangsa ini. Saat itu, etnis Tionghoa tidak hanya melakukan aktivitas perdagangan saja tapi juga ikut berjuang bersama para pribumi untuk mengusir penjajah. Hal tersebut sebaiknya diingat agar kita sebagai bangsa Indonesia dapat saling bergandeng tangan terlepas apapun etnisnya untuk membangun tanah air tempat kita memijakkan kaki saat ini.

SHARE
Sherly Febrina
Part-time journalist, part-time theatrical prostitute, full-time human being. Loves kretek like loving her life. Sounds paradox eh? ;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here