Sudah Saatnya Kata-kata Istirahat

0
32

“Apa dia berani?” tanya Thomas Daliman kepada Martin Siregar di kedai kopi yang juga menjual tuak. Pertanyaan ragu itu keluar ketika mereka berdua membayangkan temannya setiap hari harus pergi dari rumah Martin ke tempat Romo, tanpa diantar oleh mereka berdua.

Dia yang dimaksud adalah Wiji “Thukul” Widodo, penyair cum aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang gemar melawan Orde Baru, dalam film Istirahatlah Kata-Kata. Bayangkan, manusia sekelas Thukul pun masih dipertanyakan keberaniannya. Lantas, apa kita berani?

Ketika itu, 1996, Thukul menjadi buronan negara. Tentara, polisi, intel, mencarinya ke mana-mana. Di Pontianak, ia bersembunyi sekitar tujuh bulan. Berpindah dari rumah ke rumah. Rumah Thomas, kemudian Martin, adalah dua tempat paling lama bagi Thukul menghabiskan waktu di Kalimantan Barat itu. Tahun 1996, di Pontianak, masa ketika pelarian Thukul adalah latar utama Istirahatlah Kata-Kata.

***

22 Juli 1996, PRD dideklarasikan. Lima hari setelah itu, 27 Juli, kerusuhan pecah (Kudatuli) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demkrasi Indonesia (PDI). Komnas HAM mencatat, lima orang tewas, 149 orang luka, 23 orang hilang, serta kerugian diperkirakan mencapai Rp 100 miliar akibat peristiwa Kudatuli.

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) –institusi yang membawahi Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Polisi, ketika Orde Baru- menuding PRD sebagai dalang kerusuhan. Ketua Umum PRD kala itu, Budiman Sujatmiko “disekolahkan” oleh ABRI. Pimpinan lainnya, termasuk juga Thukul yang merupakan Koordinator Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), underbouw PRD, menjadi buron.

Banyak memang seniman yang menyayangkan keputusan Thukul membawa Jaker –yang sebelumnya akronim untuk Jaringan Kesenian Rakyat- menjadi dan terlibat dalam pergulatan politik praktis. Moelyono dan Semsar Siahaan, dua seniman yang bersama Thukul membentuk Jaker, tidak merestuinya. Bahkan, guru Thukul di Teater Jagat, Cempe Lawu Warta pun tidak.

“Saya bilang, ‘Thukul, hati-hati memilih. Kalau sudah di politik praktis, ada kemungkinan kamu ditangkap, dibunuh, atau minimal dibuang’,” kata Lawu dalam Tempo edisi 13-18 Mei 2013 (Edisi Khusus: Tragedi Mei 1998-2013. Namun, Thukul telah mantap, merapat ke PRD.

***

Konflik-konflik di atas tak tayang dalam Istirahatlah Kata-Kata. Tak dipungkiri, banyak orang yang kecewa dengan Istirahatlah Kata-Kata yang diputar di bioskop jaringan kapitalis itu. Alih-alih digambarkan sebagai penyair garang yang menggerakan massa, Thukul justru ditampilkan layaknya sosok penakut, waspada, dan hanya bisa berontak lewat kata-kata. Bahkan, ketika adegan Thukul hendak nyukur rambut lantas diserobot oleh tentara, hanya berucap, “Dari Jawa,” saat ditanya asal-usulnya. Adalah Martin orang yang memperkenalkan Thukul kepada tentara itu, sebagai pedagang bakso di Singkawang yang habis dirampok.

Satu dari dua adegan yang bikin detak jantung berdebar hanyalah ketika Thukul dan Thomas berboncengan motor, sekonyong-konyong lelaki bercelana ABRI melompat dan menyetop mereka, meminta KTP Thukul. Gelagat ketakutan diperlihatkan Thukul dengan gesturnya yang terus menunduk. Tuak yang ditawarkannya tak dihiraukan. Si “aparat” tetap meminta KTP. Itu pun, kita sama-sama tahu bahwa lelaki itu tidak waras karena dilarang bapaknya jadi polisi (baca: alat negara).

Satu adegan mendebarkan lainnya ialah ketika Thukul berjumpa dengan tentara di tukang cukur. Namun, adegan ini saya kira lebih kepada menunjukan ketakutan, sekaligus kebenciannya kepada aparat. Tak lebih mendebarkan dari adegan Thukul bertemu ABRI gadungan yang sampai kebawa mimpinya.

Padahal, banyak orang yang berhasrat melihat adegan Thukul berkoar membacaka puisinya yang melawan rezim Soeharto, menggerakan 14 ribu buruh PT Sritex di Solo, atau agedan menegangkan seperti kabur dari intel dengan mengaku sebagai Joko, temanya dari Yogyakarta. Atau mungkin adegan yang lebih lebih mendebarkan seperti kala aktivis prodemokrasi menyembunyikannya dengan sandi “kulkas” dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan, bukankah Arief Budiman pernah mengajarkan Thukul “ilmu” menyamar, yang ketika ditampilkan dalam film dapat menambah pengetahuan tentang gerakan bawah tanah kepada penonton? Namun itu tidak ditemukan.

Kita tak akan menemukan sosok Thukul yang berani layaknya Soe Hok Gie dalam film Gie, yang berhasil membius ratusan pelajar SMA dan mahasiswa untuk kembali turun ke jalan. Saya sendiri mengenal Soe Hok Gie melalui film inspirasional karya Riri Riza itu. Berkat Gie, saya yang anak STM ini mulai mau belajar sejarah. Mengenal sosok aktivis yang “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan” dan akhirnya mati muda itu.

Bahkan, saya sempat merasakan kepala bocor dihajar polisi ketika ikut berdemonstrasi di depan kampus hingga pukul 03.00 pagi. Mendekam di sel tahanan, dinterogasi, dan dipaksa menandatangani BAP yang tak sesuai kejadian yang saya alami. Semua itu terinspirasi oleh betapa kerennya Nicholas Saputra memerankan sosok pemuda yang pertama mengkritik Soeharto akibat pembunuhan massal yang dilakukan kepada para PKI itu.

Lalu, di mana letak Yosep Anggi Noen, sang sutradara, menempatkan Thukul sebagai penyair yang berani menentang Orde Baru? Apakah Istirahatlah Kata-Kata akan dapat membuat orang yang menonton menyadari bahwa puisi adalah sebuah kekuatan untuk melawan ketidakadilan? Jawabannya tidak, saya rasa. Film ini hanya mengajarkan kita ketakutan, kesunyian, kerinduan, dari orang yang dikejar-kejar. Thukul dalam film ini bukanlah orang yang sekeren Soe Hok Gie yang juga saya kenal lewat film. Dalam film ini, kita tak akan menemukan sosok Thukul yang pemberani atau membacakan puisinya dengan semangat menyala-nyala. Sebaliknya, film itu ingin menyuruh penonton untuk beristirahat.

16142204_1189139121140037_600565173408579799_n

Saya ingin mengamini kata-kata Yosep dalam wawancaranya di Tirto, “Kalau Istirahatlah Kata-Kata, ya karena menurut saya, ini paling kontekstual, lah. Terlalu banyak cuap-cuap hari ini. Banyak omong-kosong kita itu. Makanya dipilih Istirahatlah Kata-Kata. Simpan sesuatu, rasakan sesuatu, nanti kita bangun lagi, lah. Beristirahat itu bukan diam, lho. Beristirahat itu sedang merenung supaya kamu punya kekuatan lagi untuk menyatakan yang sebenar-benarnya.”

Sebab, saat ini sudah terlalu banyak kata-kata berani mengatasnamakan kemerdekaan beredar di mana-mana. Sudah terlalu banyak kata-kata, hingga kita muak membacanya. Bukankah Thukul, yang juga dalam film ini kembali mengajarkan kita melalui puisi yang bibacakannya setelah terkencing meminum tuak?

Kemerdekaan adalah nasi

Dimakan jadi tai

Puisi “Kemerdekaan”, Agustus 1982

SHARE

Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here