Bunga itu Masih Harum dan Tembok pun Sangat Kokoh

0
10

26 Agustus 1963 kampung Sorogenen, Solo, menjadi saksi lahirnya seorang aktivis dan sastrawan besar, Widji Thukul.  Lahir dengan nama Widji Widodo, anak dari seorang tukang becak ini mulai gemar menulis puisi sejak sekolah dasar dan berkenalan dengan dunia teater di bangku sekolah menengah pertama. Selain belajar di kelas, Thukul berkelana keliling keluar masuk kampung bersama kelompok Teater Jagad untuk ngamen sastra.

Kerasnya kehidupan membuat Thukul harus banting tulang menyambung hidup. Langkah apa saja ia geluti seperti berjualan koran, calo karcis bioskop hingga tukang pelitur. Segala kepahitan hidup telah ia kecap, meski raganya lelah menelusuri tembok-tembok kehidupan namun semangatnya tetap ada, jiwanya tetap bergelora hingga terus berkarya.

Di sela kegiatannya yang penuh dengan urusan duniawi, ia menyisihkan waktunya untuk membagi kesenangan rohaniah yakni dengan mengajari anak-anak kampung untuk melukis. Sosok nyata seniman yang ikhlas, mengabdikan diri bagi sesama seperti halnya dengan rekam jejaknya membela buruh dan rakyat kecil dengan dahsyatnya pemikirannya melalui sastra.

Thukul memang telah tiada, rezim Orde Baru telah menghilangkan sosoknya hingga saat ini. Namun di mata masyarakat, di mata keluarganya, ia tetap hidup dalam puisinya. Thukul adalah orang yang vokal menyuarakan suara rakyat kecil di saat pemerintah yang subversif berkuasa. Lewat puisi ia berteriak, ia potong telinga-telinga pejabat. Segala aktivitasnya adalah demi tegaknya keadilan, runtuhnya rezim yang telah memotong lidah-lidah orang yang vokal sepertinya.

Ia adalah salah satu dari sekian banyak aktivis yang hilang di zaman Orde Baru. Sosoknya tidak ditemukan hingga kabar burung pun tidak pernah berkicau. Tidak ada yang tahu di mana keberadaannya hingga kini. Apakah masih hidup atau sudah berpulang kepangkuan pencipta, tidak ada satu orang pun yang tahu kemana perginya pemberontak kecil itu.

Sosoknya telah hilang, tapi tidak dengan karyanya karena seniman tidak akan pernah mati meskipun ia benar-benar sudah mati. Karyanya akan terus hidup, semangatnya masih terasa dan menyatu dengan udara.

Sebuah kisah pilu ia tuangkan dalam sajak pemberontakan, Thukul menganalogikan bunga adalah rakyat dan tembok adalah pemerintah.

Bunga dan Tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Sajaknya adalah simbol perlawanan rakyat kecil terhadap pemerintah. Dengan metafora yang sederhana, Thukul membuat siapapun yang membaca akan merasakan perjuangannya melalui kata-kata, untuk menolak tirani dengan lantang. Kesenian yang telah ia geluti sedari kecil telah membentuk semangatnya menjadi sekeras tembok dan namanya menjadi seharum bunga.

Saat ini, tembok yang telah sedikit berbunga mulai kembali dipenuhi hama. Bersama hama, tembok semakin angkuh melucuti bunga dari tubuhnya. Namun, sajak-sajak Thukul akan terus berlipat ganda. Harumnya seperti udara, ia akan selalu menembus celah-celah kecil pada tembok yang sudah menjadi sarang hama.

SHARE
Selira Dian
Mulai berteater sejak 2009 di Festival Teater SLTA Se-Jabodetabek. Meminati kajian media dan seni pertunjukan teater.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here