Konstruksi Perempuan dalam Represi Tradisi

0
18

Sosok perempuan dikonstruksi sedemikian rupa. Diikat etiket, dibelenggu waktu jua diakuisisi tradisi. Dogma agama, nilai famili baur jadi satu. Haus udara untuk bersuara, perempuan harus bicara. Sekarang.

Pentas The Rite of Spring oleh She She Pop and Their Mothers asal Jerman, membawa gagasan menarik menyoal perempuan dan budaya. Di pentas ini kita hadapkan pada realita perempuan-perempuan yang mengorbankan idealismenya dan tertunduk pada budaya.

She She Pop and Their Mothers menerjemahkannya ke atas pentas, Sabtu (1/10/) di Teater Salihara, pada pagelaran Salihara International Performing – Art Festival (SIP Fest) 2016.

SIP Fest 2016 yang digelar 1 Oktober hingga 6 November 2016 ini merupakan ajang dua tahunan yang menghadirkan berbagai kelompok seni, baik dari Indonesia atau luar negeri. Performing art yang disajikan merupakan seni pertunjukan langsung seperti tari, teater, dan musik. Tak lupa, lokakarya bersama seniman-seniman yang ada juga menyelingi pagelaran SIP Fest 2016.

Di hari pertama, festival yang bekerjasama dengan Goethe Institute, BeKraf, The Japan Foundation, Embassy of Austrian, Embassy of America dan Embassy of Denmark ini dibuka oleh She She Pop. Pentas yang dituturkan dalam bahasa Jerman ini mengisahkan hubungan antara anak-anak dan ibu-ibu mereka. Empat orang anak berdialog batin dengan ucapan doktrin ibu mereka.

Keempat anak itu dibelenggu oleh tradisi yang mengikat mereka, tanpa banyak penjelasan. Adat menjadi rutinitas yang sarat akan nilai suka tak suka mesti diamini. Dalam tradisinya, perempuan dijadikan objek yang tak banyak kata. Di sinilah perdebatan batin itu lahir, memberontak, menentang hingga meledak-ledak. Namun karena sudah mendarah daging, tradisi itu tanpa sadar tetap mereka jalani selagi berperang melawan represi tradisi.

Masalah tradisi itu jua meliputi pengorbanan perempuan yang harus menyampingkan cita dan hasratnya, demi membesarkan anak. Perempuan dianggap sebagai objek pasif yang harus menyerap begitu saja tradisi, diterapkan kemudian dilestarikan kepada anak-anak mereka.

Tanpa disadari bahwa anak-anak mereka memiliki pemikiran yang kritis akan tradisi yang dijalaninya. Jeratan tradisi yang tak lagi dianggap relevan. Alhasil, mereka, anak-anak itu, berusaha meninggalkannya. Namun kuatnya doktrin sang ibu, membuat si anak gamang.

Keempat anak ini sebenarnya ingin menegaskan diri, akan pentingnya pemberdayaan dan kebebasan perempuan sebagai individu yang memiliki kebebasan akan dirinya. Apa pun yang ia lakukan, sepatutnya atas keinginannya.

Layar Virtual Interaktif

Adegan demi adegan dilakukan dalam pentas berdurasi 120 menit ini dilakukan secara interaktif dengan bantuan layar virtual yang menampilkan fisik ibu-ibu mereka. Sebuah sajian yang tak biasa, mendobrak keterbatasan panggung yang biasanya disajikan mati, dengan mengandalkan imaji penontonnya.

She She Pop sendiri didirikan oleh sekelompok lulusan Studi Teater Terapan di Giessen, Jerman, pada akhir 1991. Mereka beranggapan, panggung merupakan ruang tempat menguji pelbagai bentuk dialog yang menguji gagasan mereka terhadap permasalahan di lingkup sosial.

She She Pop tercatat pernah meraih sejumlah penghargaan, termasuk pada Festival Favorite (2010) dan Festival Teater Impulse (2011). Sebelumnya, versi baru The Rite of Spring ini telah dipentaskan di Swiss, Jepang, Prancis, Ceko, Austria, Italia, Meksiko, hingga negara yang identik dengan Che Guevara, bukan Argentina, melainkan Kuba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here