Seribu Asa Mengantre Visa

0
33
Foto: Witjak Widhi Cahya

Negeri Paman Sam memang menjadi magnet tersendiri bagi khalayak luas. Siapapun rela mengadu nasib meski harus menggadaikan nasionalisme, melupakan kampung halaman jua orang-orang terkasih.

Antrean panjang tuk mendapatkan visa di Konsulat Amerika Serikat dipotret jenaka namun ironis oleh Irswandi Pratama, sutradara dalam pentas Visa, di Komunitas Salihara, Jum’at (29/07).

Pentas yang dihelat Teater Satu Lampung dan Kelas Akting Salihara, 29-30 Juli ini  bercerita tentang kegelisahan, kecemasan, kegamangan orang-orang yang sedang mengantre di sebuah kota imajiner yang diandaikan sebagai Konsulat Amerika Serikat.

Berbagai profesi mulai dari pengusaha, businessman, karyawati sampai pesulap, berebut tempat tuk mendapatkan visa. Rasa senasib setujuan membuat mereka membuka diri, mengenali satu sama lain, berkelakar, bernyanyi sampai merenung bersama, menanti kepastian visa.

Di tengah penantian, satu persatu tokoh, Budi Laksana, Sha Ine Febryanti, Sita Nur Santi, Syakib Sungkar, Sugi Jayen, Ema Luthfiani dkk memaparkan kisahnya. Aktris Sha Ine yang mewakili Kelas Akting Salihara misalnya, ia berperan sebagai Emile, seorang gadis blasteran Prancis yang gamang, “Persoalannya adalah pergi atau tak pergi?” langkahnya terasa berat meninggalkan ibunya, seorang diri. Lain lagi dengan Deri Efwanto, seorang pria keturunan tionghoa yang ditugaskan ke Amerika untuk studi banding dari perusahaannya. Namun, ia gamang, sejak kecil ia tak beragama.Kolom agama di formulir visa membuatnya ragu tuk mengisinya.

Mimpi sering kali tak jadi kenyataan, seribu persyaratan menjadi rintangan bagi pemohon visa. Amerika bukanlah negera yang ramah soal adminstrasi. “Di sini kita memperlihatkan kecemasan Amerika yang jadi paranoid setelah kejadian Menara Kembar,” sambung Irswandi, mendadah jalan cerita.

Trump dan Pesan Simbolik

Pemilihan umum Presiden Amerika Serikat 2016 yang akan diadakan pada hari Selasa, 8 November 2016 rupanya menjadi salah satu inspirasi dalam pentas visa kali ini. Amerika sebagai negara adidaya memiliki isu sentral yang mempengaruhi negara-negara lain melalui kebijakannya.

Pernyataan Donald Trump  soal islam belakangan ini menjadi kontroversi, ia dengan keras mengkritik islam dengan ancaman. Melalui karya, Iswandi menyampaikan tanggapannya lewat Ema Luthfiani, satu-satunya tokoh berhijab dalam pentas ini.

Selama pentas, tak satupun dialog Ema lontarkan. Ema hanya diam, terbawa arus tokoh lain, diam tanpa ekspresi yang menegaskan eksistensi dirinya dalam pentas itu. “Ema sengaja tak diberi dialog, di sini kita menggunakan simbol-simbol. Ada kaitannya dengan isu Donald Trump, Ema dengan hijabnya mewakili posisi Islam di Amerika yang saat ini terpojok oleh Trump,” ungkap Iswandi.

Diamnya Ema adalah diamnya islam atas propaganda Trump, namun semestinya ketika mulut dibungkam ada gesture yang dimainkan, tak hanya terbawa arus dan ditimpa tokoh lain. Pesan menjadi sedikit bias.

Sebelumnya, naskah visa karya Goenawan Mohamad ini dipentaskan Teater Lungid (Solo) tahun 2009 dan Teater Satu (Lampung) di tahun 2012. Perbedaan dengan visa 2016 kali ini. Menurut Iswadi, pentas kali ini dibuat lebih halus, tak banyak menggunakan komunikasi verbal melainkan simbol-simbol yang dikedepankan.

Irswadi menambahkan, Amerika bukanlah persoalan utama melainkan alasan untuk berkumpul “Ya, saya mencoba melayani teks (naskah, Red), Amerika bukan yang penting tapi hanya alasan untuk semua tokoh berkumpul dan mengangkat semua permasalahan,” tutupnya mengakhiri perbincangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here