Petuah Tampah Teater Djarum

0
40
Dok. Galeri Indonesia Kaya

Teater Djarum mempersembahkan sebuah pertunjukan teater bertajuk Petuah Tampah yang diselenggarakan Minggu, (8/5) di auditorium Galeri Indonesia Kaya. Pertunjukan ini didukung oleh 13 pemain, yang menggabungkan unsur gerak dan dialog, serta perlambangan atas simbolisasi yang ditawarkan.

Gagasan Petuah Tampah ini dicetuskan oleh Teresa Rudiyanto. Kemudian penyusunan naskah dan penyutradaraan oleh Asa Jatmiko. Teater Djarum mengangkat tampah sebagai ekspresi seni pertunjukan, karena saratnya nilai-nilai penting tersebut. Kemajuan teknologi modern, terutama teknologi komunikasi, diakui maupun tidak merupakan arus besar yang menjadikan banyak nilai di dalam masyarakat kita terputus dan terkoyak.

Apalagi jika kita tidak mampu secara arif dan bijaksana menyikapinya. Oleh karenanya, tampah yang menawarkan banyak nilai diangkat dalam Petuah Tampah.

“Tampah” sendiri merupakan alat tradisional masyarakat Indonesia yang dipergunakan untuk memilah dan memilih padi bernas, juga untuk fungsi-fungsi lain, seperti tempat nasi tumpeng untuk syukuran, tempat bumbu-bumbu dapur.

Dalam tradisi Jawa, tampah juga memiliki arti filosofi nampa atau menerima. Pada beberapa peristiwa anak hilang di senjakala, menurut mitosnya karena diajak bermain makhluk halus (sebagai digondhol wewe). Tampah kemudian dijadikan alat tetabuhan oleh para tetangga sambil keliling kampung.

Ditemukanlah si anak hilang tadi, tengah kebingungan terduduk di batang sebuah pohon besar. Terlepas percaya atau tidak, nyatanya tampah telah menjadi alat magi yang berguna bagi masyarakat.

Tampah memiliki nosi “ke dalam” dan “ke luar” bagi masyarakat Indonesia. Pada pemaknaan ke dalam, Teater Djarum menawarkan kembali perenungan tumbuh kembang kepribadian anak manusia di dalam kehidupan, yang bagaikan siklus atau cakra manggilingan (roda yang berputar). Berdenyut, berkesinambungan dan terus hidup.

Sementara Tampah dalam pemaknaan “ke luar” bagi masyarakat merupakan media bersosialisasi, bertegur-sapa, serta terjalinnya upaya saling membutuhkan dan saling menopang. Tampah menjadi alat yang mempertemukan secara langsung pribadi dengan banyak pribadi.

“Melalui lakon ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa jangan sampai kita kehilangan jati diri kita di jaman modern yang penuh dengan kemajuan teknologi ini. Kemajuan teknologi memang tak terbantahkan, namun bukan berarti kita melupakan nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman kita dalam menjalani kehidupan,” ujar Asa Jatmiko, Sutradara dalam lakon Petuah Tampah.

Eksplorasi Tampah berlangsung selama tiga bulan penuh. Dan naga-naganya, tidak akan pernah berakhir, karena setiap latihan dan pemanggungan, Teater Djarum selalu menemukan hal-hal baru. Seperti ketika tiba-tiba menemukan kata wos (bahasa Jawa yang berarti beras), yang juga berarti “inti” kehidupan.

Kemudian ketika Teater Djarum menemukan tampah yang disusun dari anyam-anyaman bambu, tiba-tiba tersadarakan bahwa bangunan dari seluruh proses para pemain dan pendukung teater tidak lain merupakan “anyam-anyaman” dari pribadi-pribadi yang mewujud tampah sebagai pentas besarnya.

Begitu seterusnya, yang menyadarkan kepada kami bahwa eksplorasi tampah ini semakin membuat kami mengerti bahwa kami banyak tidak mengerti.

Setelah tampil di Galeri Indonesia Kaya, Teater Djarum masih akan membawa lakon Petuah Tampah ini ke beberapa kota seperti Kudus yang akan dilaksanakan di Balai Budaya Redjosari, 25 Mei 2016 mendatang. Kemudian Teater Djarum juga akan menyambangi Yogyakarta di Omah Petroek Karang Klethak pada 27 Agustus 2016. Dan terakhir, Teater Djarum akan berada di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, pada 24 September 2016.

SHARE
Cikal Kinasih
Unit Kegiatan Mahasiswa IISIP Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here