Ketika Hasrat dalam Represi Sosial

0
40

Bila diingat, dalam sebuah dansa ala Romeo dan Juliet wajarnya pria yang memegang kendali atas gerakan si perempuan. Namun apa jadinya jika yang berdansa kedua manusianya adalah seorang pria?

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) belakangan ini sedang hangat diperbicangkan. Pro-kontra terhadap fenomena LGBT makin menyeruak ketika media massa membingkainya dengan meminjam mulut ulama, ormas (organisasi masyarakat) yang radikal dan tokoh masyarakat yang sepakat, LGBT merusak moral bangsa.

Sakti Actor Studio merangkum empat kisah LGBT dalam empat pentas singkat bertajuk “The Many Taboos of Being Gay”, di Teater Salihara Sabtu-Minggu (23-24/04).

Naskah pendek Sweet Hunk O’Trash, Twenty Dollar Drink, Frozen Dog (Erick Lane) dan Uncle Chick (Joe Pinatauro) dipilih sang sutradara, Eka Dimitri Sitorus tuk dipentaskan. Namun sebenarnya, Ia sudah sejak lama ingin pentaskan soal LGBT, tapi baru terkabul sekarang.

“Sudah sejak September saya ajukan ke pihak Salihara, tapi baru bisa dipentaskan sekarang. Sebelum fenomena LGBT ini marak, kami sudah punya rencana. Kalau sekarang jadi seperti terkesan mengikuti fenomena ini, padahal sebenarnya tidak,” ungkap Eka, usai pentas.

Dalam cerita Sweet Hunk O’Trash (Erick Lane), pemandangan amat mengejutkan ditampilkan. Dua orang pria, Gene dan Rob berdansa bak pasangan di lantai dansa sebuah diskotik. Hal ini tentu amat tak lazim, mengingat secara sosial dansa lumrahnya dilakukan perempuan dan pria.

Dari cemoohan karena orientasi yang berbeda, dituding kena penyakit menular sampai dituduh mendustakan kesucian agama. Semuanya harus ditelan bak pil pahit, harapannya agar tekanan itu membuat mereka sembuh.

Namun Gene dan Rob dalam adegan ini mendobrak norma sosial yang ada, mereka tetap berdansa dan membiarkan pekat malam meleburkan hasrat mereka.

Hidup tanpa konflik tentu takkan greget, Star dan Bete dalam naskah Twenty Dollar Drinks harus bergelut dalam konflik. Glamornya hidup sebagai pemenang piala citra ternyata tak membuatnya bahagia. “Ketenaran adalah pelacuran tanpa kontak tubuh,” ungkapnya penuh emosi.

Sementara Bete mencurahkan kegamangannya karena anaknya baru saja melubangi dompetnya, masuk Univeristas Pelita Harapan. Keduanya bertukar masalah di depan beer seharga dua puluh dollar.

Menariknya, dulu mereka adalah pasangan gay. Kini masih gay namun dengan pasangannya masing-masing. Bete bahkan sudah menikah dengan seorang lelaki juga dan mengadopsi seorang anak.

Pendobrakan etika sosial berdansa sesama pria dan konflik internal soal ketenaran dan finansial sudah dikuak, tentu tak lengkap tanpa represi agama terhadap LGBT.

Vinny dan Kevin, dua orang pria di lingkup seminar gereja Katolik. Sebagai calon pastur, keduanya hidup dalam kungkungan firman tuhan dan tentunya kerumunan pria, semuanya adalah pria muda.

Naskah ini menunjukan bahwa hasrat seksualitas seseorang tak bisa diredam bahkan dalam represi agama yang kuat. Vinny dan Kevin hidup satu kamar, berdoa bersama, mengamini firman tuhan bersama-sama juga sama-sama melakukan hubungan bak suami isteri.

“Dari ratusan pria di seminari, mengapa kamu memilih aku?” ungkap Vinny pada Kevin. “Karena matamu berbeda, kamu ngeliatin aku melulu,” sahut Kevin mengenang pertemuan pertama dengan Vinny.

Perdebatan semakin seru ketika Vinny ingin pergi dari Kevin. Kabarnya Vinny sedang jatuh cinta dengan pria lain di seminari dan ingin satu kamar dengan pria itu. Tentu saja membuat Kevin geram.

“Dengan status lo sebagai pastur bukan berati lo beda dengan gay di luar sana. Dasar pastur banci,” sungut Kevin pada Vinny.

Amat ironis, mereka hidup dalam dua persimpangan, satu untuk tetap teguh di jalur tuhan satu lagi memlilih diam-diam hidup mendustai tuhan. Namun Vinny memilih kedua, mendustai tuhannya dan meninggalkan Kevin untuk pria baru.

Sementara jerat gay tak luput dari hubungan darah. Paman chick dan anak baptisnya, Brian diam-diam bermain api. Keduanya ternyata saling mengetahui mereka punya kecenderungan suka sesama jenis. Sampai dinding pemisah antar keduanya, hubungan keluarga mampu mereka runtuhkan. Keduanya sepakat saling menyayangi.

“Keempat cerita tadi memperlihatkan betapa sulitnya hidup sebagai pasangan gay. Tapi semuanya punya kesamaan (Benang merah, Red), gay dengan konflik di lingkup sosialnya,” sambung Eka Sitorus mengkaji cerita.

Eka menambahkan, pesan dari pentas ini ingin menyuarakan. Kita yang heteroseksual janganlah mendiskriminasi orang-orang homoseksual. Mayoritas janganlah meniadakan yang minoritas. Karena menjadi LGBT adalah tabu, masihkah ingin menyulitkan mereka?

Jawabannya kembali pada diri kita, karena makna pesan ada pada komunikan. Mari renungkan bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here