Zera, Oase di Tengah Manusia Metropolis

0
10
Foto: Sherly Febrina

Konflik dalam sebuah keluarga sepertinya bukan hal baru. Menyatukan beberapa kepala dalam satu pemahaman tentu takkan mudah. Tapi apa jadinya jika hal rumit, menyamakan persepsi antar manusia misalnya, justru dimenangkan oleh seekor kucing persia?

Pak Roko, seorang pria bertubuh tambun, berambisi jadi pejabat kaya. Tak bosan-bosannya ia melatih retorikanya. Rupanya Pak Roko sadar betul, menjadi pejabat saat ini hanya perlu retorika, janji-janji manis yang bisa buat rakyat diabetes.

Pak Roko tak sendirian. Ia punya seorang isteri, satu putri kandung dan satu putra tiri. Mereka hidup dalam keanehan. Bu Roko mentalnya sedikit terganggu, hobinya saban hari hanya berkhayal soal ketakutan, soal perselingkuhan suaminya dan banyak ucapannya yang melantur sana-sini tanpa fakta.

Sementara itu, di lain kubu ada sebuah keluarga sederhana. Keluarga seorang perempuan yang menjabat sebagai ketua Rukun Tetangga (RT) dan suaminya. Mereka hidup apa adanya. Sebisa mungkin, mereka akan membantu warganya yang kesusahan. Meski sebenarnya hidup mereka tak bisa disebut berkecukupan.

Sebuah pemandangan kontras sedang ditunjukan keluarga Pak Roko dan Bu RT. Hidup berlimpah harta seperti keluarga Pak Roko ternyata tak seindah yang dibayangkan. Di sana tak ada ketenangan, hanya haus akan harta jua kekuasaan. Sementara itu, keluarga bu RT justru hidup damai, berbagi meski sedikit.

Di pertengahan cerita, misteri siapa yang dimaksud Zera akhirnya terkuak. Ternyata Zera adalah seekor kucing persia. Bu RT mendapatkannya dari saudaranya yang alergi kucing. Dengan niat baik, Ia membawa Zera pulang tuk dipelihara.

Namun ibarat gajah di depan mata tak terlihat, semut di kejauhan justru nampak. Bu RT lupa betul, suaminya sendiri juga alergi bulu. Bukan bulu yang lainnya, hanya bulu kucing.

“Lagian Bu, miara kucing kayak gini kan mahal. Belum biaya ke salon, kesehatan, makanannya aja Whiskas. Kucing persia itu kan propertinya orang kaya Bu. Lagian kucing kan gak masuk BPJS (Badan Penjamin Kesehatan, Red),” ujar Pak RT misuh-misuh.

Ucapan suaminya itu membuat Bu RT berniat untuk memberikan Zera kepada Pak Roko. “Keluarga mereka pasti mampu mengadopsi Zera,” pikir Bu RT.

Pak Roko dan keluarga akhirnya menerima Zera. Tak disangka, kerumitan yang sedang terjadi di keluarganya justru terbantu oleh kehadiran Zera. Isteri, anak-anak dan Pak Roko sendiri memperlakukan Zera bak bayi.

Rupanya keluarga ini hanya butuh mainan baru sebagai ice breaking. Berkat Zera, keluarga Pak Roko kembali harmonis, tak ada lagi perang urat semua berkat kucing persia bernama Zera.

Seperti negara ini, yang sebenarnya hanya butuh solusi sederhana tuk menyatukan segala perbedaan, yakni toleransi di berbagai dimensi. Zera bak oase di tengah manusia metropolis.

(Realis)me Khas Putu Wijaya

Teater Mandiri membawakan lakon berjudul Zera, Kamis-Jum’at (14-15/04) di Bentara Budaya Jakarta. Lakon komedi berdurasi 90 menit ini ditulis dan disutradarai oleh maestro, Putu Wijaya.

Lakon Zera ini terasa khas sekali gaya Putu Wijaya, di mana kepekaannya akan fenomena sosial yang sedang in saat ini disisipkan sebagai dialog-dialognya. Dan Putu acapkali memainkan realisme, kritik sosial, refleksi dari cara manusia menghadapi jaman.

Kemahiran Putu dalam menulis naskah tentu sudah tak diragukan lagi. Jemarinya begitu lincah menangkap peristiwa, memberikan alternatif dalam menafsir sebuah peristiwa.

Putu Wijaya menunjukan idealismenya, di mana Ia tak hanya berlaku sebagai sutradara, tapi juga sebagai penulis naskah. Karya tulis pria kelahiran Puri Anom Tabanan, Bali ini sering kali mengisi kolom cerita pendek (cerpen) di surat kabar nasional tiap minggunya.

Tak kalah menariknya, kemapanan akting para aktor, Bambang Ismantoro, Dwi Hastuti, Laila Uliel eL na’ma, Denpis Cahaya, Ari Sumitro, Rokayah dan Taksu Wijaya pun amat terlihat dalam pentas ini. Artikulasi, stakato, gesture yang luwes juga pendalaman karakternya yang begitu baik, membuktikan eksistensi kelompok teater yang dibentuk sejak 1971 ini begitu memukau.

Emosi yang tak putus dari adegan ke adegan selanjutnya, membuat penonton merasakan betul karakter tiap tokoh yang dihadirkan. Kesombongan Pak Roko, kegilaan Bu Roko, ketulusan Bu RT, jenakanya Pak RT dan satpam percobaan, semua memiliki karakter yang jelas dan tegas.

Kritik dalam pentas Zera menyoal aktor politik, kebijakan politik dibalut sentuhan komedi, mengajak penonton tuk berfikir dalam tawa. Alangkah lucunya negeri ini, kita hidup dalam kelucuan sekaligus kengerian akan kondisi mental manusia-manusianya saat ini. Tak ada kasih, yang ada hanya manusia-manusia kapitalis yang berjiwa matrealistis. Tak ada kasih tulus seperti Zera, oase di tengah manusia metropolis.

SHARE
Selira Dian
Mulai berteater sejak 2009 di Festival Teater SLTA Se-Jabodetabek. Meminati kajian media dan seni pertunjukan teater.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here