Sajak Tak Harus Dipahami, Cukup Dihayati

0
9

Bulan Februari rasanya begitu sendu. Awan yang selalu terlihat berwarna abu, ditemani hujan rintik dengan interval sedang. Tapi semua itu takkan indah tanpa cinta yang syahdu di tiap butiran hujan. Seperti novel Hujan Bulan Juni karya Maestro sastra Sapardi Djoko Damono.

Lampu sorot di atas panggung kini mulai padam. Langkah pria yang sudah ditunggu-tunggu penontonpun naik ke atas panggung. Ditemani tongkat kayu, ia berjalan perlahan. Sapardi, masih terlihat gagah di usianya yang menginjak kepala tujuh.

Di panggung Puisi dalam Nada, Galeri Indonesia Kaya, Sabtu (6/2) Sapardi tak hadir sendirian. Ada tiga penampil lain yang juga mantan mahasiswanya selagi mengajar untuk Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia. Bukan tanpa sebab Sapardi mengundang mereka. Sebagai dosen, ia bangga karyanya bisa dikenal masyarakat hingga kini karena tangan-tangan kreatif mereka. Karena bagi Sapardi, seperti lagu, sajak tak harus dipahami, cukup dihayati.

Di tahun 1987, musikalisasi puisi karyanya dimulai. “Saat itu diam-diam mahasiswa Saya mencuri sajak saya untuk dijadikan lagu. Kemudian dijual dalam bentuk kaset ke kampus-kampus,” kenang pria kelahiran Surakarta ini membuka memori awal karirnya.

Puisi dalam kaset tersebut di antaranya, Aku Ingin (Ags. Arya Dipayana) dan Hujan Bulan Juni (H. Umar Muslim). Menurut Sapardi, puisi begitu dekat dengan lagu. Meski Ia mengaku bukan pembaca puisi, Ia seringkali diminta untuk membacakan puisi.

“Ketika menulis puisi, maka kita tahu bahwa puisi itu juga harus bisa dibacakan. Dan jenis bunyi yang paling indah adalah lagu,” ungkap Sapardi.

Pencurian sajak karya Sapardi oleh para mahasiswanya belum berakhir. Di tahun 1990, duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu melahirkan album Hujan Bulan Juni yang kesemuanya berisi sajak-sajak Sapardi.

Kemudian, bak hujan yang menumbuhkan pepohonan. Permintaan musikalisasi puisi karya-karya Sapardi terus tumbuh. Di tahun 1996, album Hujan Dalam Komposisi dirilis. Tak berhenti sampai di sana, tahun 2006 memunculkan album Gadis Kecil oleh Duet Dua Ibu, Reda Gaudiamo dan Tatyana. Album becoming Dew di tahun 2007 serta konser Ars Amatoria.

Perkawinan puisi dengan lagu bagi Sapardi adalah harmoni yang indah. Keduanya melahirkan yang kini dikenal dengan sebutan musikalisasi puisi.

Sajak Harus Sederhana

Di awal karirnya, Sapardi hanya menulis cerita pendek. Kemudian ia mulai merajut bait-bait sajak sederhana. Bahkan sering kali inspirasinya kita anggap terlalu sepele. “Jika ada yang beranggapan sajak itu harus mampu mengubah bangsa, itu berlebihan. Sajak itu lahir sederhana saja, bisa dari pengalaman hidup dan kepekaan memperhatikan sekitar. Sajak itu untuk memperkaya sastra Indonesia,” sambung alumnus fakultas sastra, Universitas Gadjah Mada ini.

Kesederhanaan sajaknya bisa kita temui di karyanya berjudul, Layang-Layang, Gadis Kecil dan Sutradara itu Menghapus Dialog Kita, yang dilantunkan Tatyana, Michael dan Dymussaga Miravior.

Sejak lima puluh tahun berkarya, Sapardi tak kehilangan inspirasi. Dengan sajak yang sederhana, Sapardi terus hidup dan menghidupi sajaknya yang relevan hingga saat ini.  “Dari sekian banyak karya saya, mungkin hanya ini yang saya hafal. Tentang berjalan di pagi hari dari timur ke barat. Matahari tepat di belakang, saya berjalan mengikuti bayang-bayang yang menanjang di depan. Sederhana sekali,” ungkap Sapardi.

Berjalan ke barat waktu pagi hari
Matahari mengikutiku di belakang
Aku mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memenajang di depan
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa yang harus berjalan di depan

Suaranya lantang, membaca sajak sederhana itu. Namun berkat kesederhanaannya itu, karyanya dan Alm. Rendra adalah sajak orang Indonesia yang dicatat di buku sajak terbaik di Amerika Serikat. Karyanya, mewakili Indonesia.
Sebagai generasi muda, sosok Sapardi perlu kita teladani. Meski raganya kian rapuh dimakan waktu, tapi semangatnya menulis tidak pernah surut. Ia justru makin giat berkarya, mencurahkan pengalaman hidupnya di atas kertas.
Sajak-sajak sederhananya seperti lambang yang merekam kehidupan dari waktu ke waktu. Melalui karyanya, Sapardi mewarisi buah pemikiran. Kalam dalam sajak tak perlu dipahami, cukup dihayati.

SHARE
Selira Dian
Mulai berteater sejak 2009 di Festival Teater SLTA Se-Jabodetabek. Meminati kajian media dan seni pertunjukan teater.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here