Mempertanyakan Kembali Nasionalisme

1
47
Ilustrasi: http://emeraldfist.blogspot.com/

Nasionalisme? Apakah itu nasionalisme? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasionalisme diartikan sebagai kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu.

Di tengah terpaan globalisasi yang semakin menggila, banyak yang menganggap rasa nasionalisme memudar, khususnya di kalangan muda-mudi yang digadang-gadang sebagai penerus bangsa. Namun nyatanya, rasa nasionalisme tidak pernah memudar tetapi telah mengalami pergeseran makna.

Jika pada zaman Orde Baru generasi muda menyuarakan satu tujuan, besinergi dan terlihat berapi-api dalam menjaga dan mempertahankan ke-Indonesia-annya. Hal itu Orba mendidik kita untuk menjadi seragam. Seperti yang sama-sama diketahui bahwa pada zaman Orde Baru, informasi sangat terbatas dan keterkekangan yang dibuat oleh pemerintah seolah sangat mengikat kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan begitu, banyak generasi muda yang memiliki satu pemahaman dalam menyikapi satu persoalan.

Namun Indonesia bukanlah bangsa yang seragam. Indonesia adalah negara yang beragam. Tak bisa dan tak pernah akan menjadi seragam. Orba mencoba menyeragamkannya, membuat kita terlihat rapi dalam keseragaman. Perlahan mental kita menjadi mental yang tak bisa menerima perbedaan. Setiap perbedaan dijadikan musuh.

Konsep nasionalisme seperti itu yang diajarkan Orba kepada kita. Nasionalisme yang sempit. Nasionalisme yang tak bisa menerima perbedaan.

Kita bukan lagi hidup di zaman Orba, yang mengategorikan tingkat nasionalisme lewat ucapara bendera, dijemur di tengah lapangan yang entah para pesertanya mengerti maknanya atau tidak. Kita bukan lagi hidup di zaman yang hanya menilai nasionalisme dalam bentuk seremonial. Kita ada di zaman di mana nasionalisme telah menjadi klise. Klise setelah Orba berhasil membuat konsep nasionalisme adalah seremonial belaka.

Saat ini adalah zaman ketika informasi telah menyebar dengan begitu derasnya. Hal ini menciptakan keberagaman antar muda-mudi yang dipengaruhi oleh banyaknya pilihan informasi dan ketertarikan isu yang berbeda-beda. Sehingga setiap individu memiliki kegelisahannya masing-masing. Nasionalisme adalah prioritas ke sekian, setelah urusan perut dan liburan terpenuhi, misalnya.

Kita tidak bisa menyalahkan individu secara perorangan, menganggapnya tidak nasionalis dan sebagainya. Mereka tetap nasionalis, namun dengan cara dan pengertian yang berbeda. Kita nasionalis dengan belajar dengan tekun di bangku pendidikan. Kita nasionalis dengan bekerja. Kita nasionalis dengan membayar pajak. Namun perlahan, kita lupa untuk siapa kita lakukan semua itu.

Konsep nasionalisme harus kita jabarkan ulang bersama-sama. Identitas yang mana? Integritas yang mana? Kemakmuran seperti apa? Kekuatan untuk apa?

Jangan-jangan, mengutip lirik lagu ‘Kenyataan dalam Dunia Fantasi’ milik Koil, nasionalisme itu hanyalah kepentingan yang kita bela?

SHARE
Nanda Fitri Supriani
Lulusan jurnalistik yang lulus dengan indeks prestasi di atas tiga. Mencoba bahagia dengan cara tersendiri.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here