Bekal untuk Generasi Bangsa

0
7
Ilustrasi: Renny Rumhil

Kuambil buluh sebatang…

Kupotong sama panjang…

Kuraut dan kuikat dengan benang…

Kujadikan layang-layang…

Kemana perginya lagu-lagu yang riang gembira dan menghibur anak-anak? Tiba-tiba seperti tergantikan oleh lagu-lagu hits orang dewasa. Agak aneh mendengar anak-anak SD begitu fasih menyanyikan lagu-lagu cinta termehek-mehek yang belum sesuai dengan usia mereka.

Dua belas tahun yang lalu, begitu gegap gempitanya lagu anak-anak mewarnai televisi kita. Acara lagu anak begitu ditunggu-tunggu untuk hiburan anak setelah pulang sekolah. Tapi sekarang coba tengok acara televisi, tak habis-habisnya menayangkan reality show yang ratingnya tinggi. Pada jam pulang sekolah, tidak ada satupun yang menayangkan acara lagu anak-anak. Mungkin anak-anak yang tumbuh di era sekarang kebingungan karena tidak ada lagi tayangan yang sesuai usianya. Maka tontonan yang untuk orang dewasa pun dilahap habis.

Fenomena muncul dengan jargon kontes menyanyi anak-anak. Namun, lagu-lagu yang dinyanyikan pesertanya kebanyakan adalah lagu-lagu orang dewasa. Malah, bila perlu lirik cinta-cintanya diganti dan disesuaikan untuk anak-anak. Apa sebenarnya sudah tidak ada lagi lagu-lagu yang cocok untuk dikonsumsi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa?

Lagu anak-anak yang liriknya ringan, mudah dicerna dan berirama riang sangat dekat dengan kehidupan keseharian anak-anak dan juga bisa menjadi salah satu media pembinaan akhlak sehari-hari.

Para pelaku dunia hiburan seperti tidak tertarik untuk menghadirkan hiburan bagi anak-anak, seperti beberapa waktu yang lalu. Mereka lebih tertarik dengan hiburan yang entah benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat atau tidak, yang penting ratingnya tinggi. Sudah matikah kreativitas untuk menciptakan hiburan bermutu bagi anak-anak?

Siapa yang seharusnya peduli akan hiburan anak-anak yang bermutu dan membekali anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dengan wawasan akan masyarakat, pergaulan, dan nilai-nilai bangsa? Pertanyaan ini sepertinya belum bisa dijawab oleh industri hiburan. Kita harus mencari sumber lain sebagai bekal pengetahuan adik-adik kita untuk melanjutkan perjuangan bangsa ini pada saatnya mereka terjun ke masyarakat nanti. Agar kreativitas bisa bangkit di negeri ini di tangan kita, generasi muda.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here