Bunga Perjalanan Sufi Cinta

0
48
Kredit foto: Dian Putri Ramadhani

Sabtu (12/7) siang, bertempat di sebuah pusat perbelanjaan kota Jakarta, digelar sebuah pertunjukan dengan judul BULAN SUCI (BUnga perjaLANan SUfi CInta). Acara itu menghadirkan seorang musisi yang bernafaskan sufisme, Candra Malik, salah seorang maestro seni Indonesia, Sujiwo Tejo, serta Minladunka Band dan Tari Sufi. Galeri Indonesia Kaya tahun ini menyuguhkan berbagai pertunjukan dalam rangka bulan suci Ramadhan 1435 H setiap akhir pekan selama bulan puasa.

Acara dimulai pukul 15.30 WIB dengan penampilan Candra Malik yang menyanyikan lagu puja-puji kepada Tuhan. Dengan iringan seruling bambu, petikan gitar, tabuhan kendang dan dentingan keyboard, lagu menjadi lebih hidup dan menyentuh. Empat orang penari sufi berputar-putar juga tak hentinya memanjakan mata. Harmonisasi antara kesyahduan lagu dan keelokan penari semuanya memanjakan diri hingga sejenak lapar dan dahaga puasa terlupakan.

Lewat lagu, Candra Malik lantunkan dakwah islami yang mengedepankan cinta kasih Tuhan tidak hanya dari sudut pandang islam, namun cinta ilahi yang universal. Baginya cinta dan mencintai Tuhan adalah satu-satunya yang tidak akan pupus oleh apapun. Tidak ada kesenjangan antar agama, ketika cinta kasih terhadap sesama dikedepankan semua mahkluk sama di mata Tuhan.

“Barang siapa mencintai diri, maka ia mencintai ilahi,” ucap Candra Malik di sela-sela lagu.

Lantunan puja-puji terus mengalun. Sujiwo Tejo naik ke atas panggung dengan saxophone kecil ia membawa warna lain. Seorang penari topeng ikut serta menerjemahkan lagu dengan gerakan.

“Saya setuju dengan Cak Nun, bahwa kesalahan kita itu di mengartikan fakultas itu seperti kamar-kamar kalau universitas itu dunia, universal. Yang betul fakultas itu bukan kamar tapi pintu ke manapun kau masuk kau pasti ketemu Tuhan. Jadi belajar kedokteran ketemu Tuhan karena belajar anatomi, belajar filsafat juga ketemu Tuhan, belajar matematika murni juga ketemu Tuhan. Ke manapun kita akan ketemu Tuhan,” papar Sujiwo Tejo.

Baginya, lagu yang religius itu bukan iriknya penuh dengan kata-kata ketuhanan atau simbol-simbol agama. Hal itu, bagi dalang yang satu ini, bukan kesenian melainkan dakwah. Menurutnya, kesenian yang bagus itu kita tanpa bicara nama Tuhan dan simbol tapi orang bisa merasa ada unsur Tuhan di dalamnya.

Tuhan menciptakan agama itu bukan untuk mengkotak-kotakan manusia, bukan bahan untuk melempar isu peperangan.

Tuhan adalah maha cinta dan kasih, misi perdamaian antar pemeluk agama adalah semangat dari lagu-lagu yang dilantunkan. Bahwa kita sesama umat beragama harusnya memilki cinta kasih untuk tidak meributkan perbedaan yang hanya akan memecah belah persaudaraan. Inilah perdamaian yang sesungguhnya, cinta kasih ditebarkan demi harmonisnya hubungan antar sesama manusia dalam bulan ramadhan yang penuh toleransi.

“Tuhan itu satu, kita saja yang bersekutu. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu,” pungkas Candra Malik dengan iringan lagu penutup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here