Bahagia Harus Mahal?

0
19

Konsumerisme merupakan suatu paham yang melukiskan keadaan atau pola pikir pada masyarakat, banyak orang merumuskan tujuan hidup mereka dengan mengonsumsi barang-barang, termasuk jasa, yang jelas-jelas tidak mereka butuhkan, atau hanya untuk pamer. Demikian menurut Peter N. Stearns, penulis buku Consumerism in World History. Dewasa ini, konsumerisme telah menjadi gaya hidup hampir semua orang, baik tua, muda, laki-laki maupun perempuan.

Konsumerisme dapat dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pasar bebas seperti saat ini. Banyak sekali produk terutama barang yang diproduksi secara massal. Hal ini tentunya membawa dampak pada persaingan bisnis yang tajam. Para produsen berlomba-lomba menciptakan produk bermutu dengan harga yang miring. Sehingga ongkos pekerja murah menjadi salah satu alternatif demi menekan biaya produksi.

Selain itu, peran media dan public figure yang diekspos juga banyak memengaruhi gaya hidup konsumerisme. Media secara sengaja atau dengan kecenderungan tertentu, lewat iklan maupun build up product pada program non iklan, mempromosikan sebuah produk dengan menunjukan seorang pengusaha muda yang sukses menggunakan smartphone atau dalam sebuah acara televisi yang menampilkan sesosok idola menggunakan barang-barang merk tertentu sebagai sesuatu yang keren.

Promosi ini jika dilakukan secara terus menerus akan membentuk persepsi akan ukuran kebahagiaan dan kesuksesan adalah kepemilikan barang-barang tersebut. Sebut saja “kaftan Syahrini” atau “Blackberry sinetron”. Seperti yang telah dijelaskan oleh Zeng & Viswanath, 2001 bahwa iklan tidak hanya mempromosikan sebuah produk, namun iklan juga merupakan promosi pandangan ideologis dengan maksud untuk memengaruhi individu yang mengkonsumsinya.

Dengan demikian, fungsi barang akan beralih dari kebutuhan menjadi sebuah pencitraan atau standar hidup bagi seseorang agar diterima dalam sebuah lingkungan. Banyak yang tidak menyadari telah menjadi korban konsumerisme dengan dalih tuntutan hidup. Skala prioritas cukup mengambil andil dalam mencegah tindakan konsumerisme. Dengan membuat daftar prioritas beserta plus minus dari barang tersebut, kita akan tahu apakan barang tersebut memang layak dibeli atau hanya sekedar pajangan agar tak kalah terlihat trendi.

Pada dasarnya, kebahagiaan tidak dapat diukur dari seberapa banyak barang yang kita miliki atau seberapa mewah koleksi yang ada di rumah, tetapi kebahagiaan dapat diukur dari bagaimana kita berperilaku sehingga mendatangkan feedback yang baik dari orang-orang sekitar.

SHARE
Nanda Fitri Supriani
Lulusan jurnalistik yang lulus dengan indeks prestasi di atas tiga. Mencoba bahagia dengan cara tersendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here