Mengenang Makna Tawa Sang Maestro Tembikar Indonesia

0
55
Suasana pameran keramik University of Rest and Relax di Galeri Salihara, Jakarta, Sabtu (14/3). Pameran tersebut untuk mengenang setahun berpulangnya seniman keramik Keng Sien dengan menghadirkan kembali studio tempat Keng Sien berkarya dalam nuansa pameran. ANTARAFOTO/Rosa Panggabean/mes/15.

Suasana hening. Lampu teduh kekuningan menyinari ruangan kosong yang disulap menjadi galeri pameran. Meski pencahayaan teduh, karya rupa sang pameris tak kehilangan pesonanya. Guratan ekspresi tawa menyapa pengunjung, memberi kesan ramah namun penuh makna. Kumpulan karya Keng Sieng ditampilkan dalam pameran University of Rest and Relax, Kamis (19/03) di Galeri Salihara, Jakarta Selatan.

Puluhan seni keramik ragam bentuk ditampilkan dalam pameran ini. Nuansa Indonesia muncul dari olahan tanah liat, lumbung, kayu dan  pasir, yang terinspirasi dari kekayaan alam nusantara. Karyanya mencerminkan semangat mawas negeri yang kuat.

Sesuai tema pamerannya yang bertajuk rest and relax, tawa lebar dan corat-coret spontanitas sang pameris membuat siapapun yang melihat merasa santai. Selera humor Keng Sieng juga dapat dilihat dari coret-coretannya seperti  “Tugas manusia itu Cuma olahraga dan berdoa, selebihnya urusan Tuhan” dan “Keramik itu adalah kriya bukan seni murni. Hehehe”.

Selain humoris, seniman jebolan Akademi Seni Rupa di Belgia ini juga penuh dengan spontanitas. Apapun yang ingin ia ungkapkan mengalir saja bak celoteh tanpa batasan kaidah bahasa. “Panca indera, merekam, mengingat, memancarkan, menimbang, merasa.” Dari kalimat itu tersirat jelas, Keng Sieng adalah seniman yang mengandalkan kepekaan panca inderanya dalam berkarya.

Patung-patung hasil bentukan jemari terampilnya tak hanya diam. Jika lebih jauh diperhatikan, hasil olahan tanah liat itu menwakili gagasannya. Yang menarik adalah ekspresi tawa yang mendominasi tiap karyanya.

Rupanya tertawa adalah cara ia menanggapi segala hal. Menertawai nasib seni keramik Indonesia yang termarjinalkan, kondisi alam Indonesia hingga menertawai badut-badut politik tanah air. Tawa adalah cara Keng Sieng untuk menyampaikan pikiran, kegelisahan dan keperihatinannya tak hanya soal seni keramik yang menjadi kecintaannya.

Keng Sien juga seorang pemikir yang peka terhadap negaranya. Ia melihat alam Indonesia yang kaya namun manusianya tak mengenal kekayaannya sendiri, rasa itu ia ungkapkan dalam karyanya “Ayam Mati di Lumbung”.

Lahir dengan nama Liem Keng Sien, sosoknya menjelma menjadi maestro keramik andal beraliran naturalistik. Karyanya begitu alami, hasil harmonisasi keterampilan dan peristiwa empirik yang menggambarkan segenap kegelisahannya.

Tawa bahagia, tawa ngeledek dan tawa pasrah terangkai dalam seri tertawa (2000-2014). Tawa yang dalam topeng-topeng keramik dan patungnya seperti mengajak pengunjung untuk ikut tertawa. Ikut menertawai ketidak beresan negeri ini, tertawa dan tertawa lagi, sungguh cerminan seorang seniman yang begitu humoris.

Pameran ini digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Keng Sieng yang sudah meninggal setahun silam. “Misi dari pameran ini adalah menunjukan eksistensi karya seni keramik, meski banyak yang berpendapat keramik sebagai karya pinggiran karena sudah tergerus seni modern yang mengandalkan digitalisasi,” ujar Didi, staf Galeri Salihara.

Keramikus kelahiran 20 Desember ini telah berpulang setahun lalu, namun ukiran karyanya dan kekehan tawa yang membeku di tiap karyanya seperti mewakili kehadirannya dalam pameran itu. Meski sosoknya telah tiada, namun ia tetap hidup dalam karyanya.

Ia tetap tertawa, namun entah tawa macam apa yang akan ia ekspresikan pada nasib keramik Indonesia dan kesadaran akan merawat alam saat ini. Tertawa adalah objek terakhir yang diwariskan Keng Sien pada dunia keramik Indonesia masa kini.

Gajah mati meninggalkan gading, seniman mati meninggalkan karya. Dan tawa adalah salah satu warisan yang ditinggalkan Keng Sieng kepada kita.

SHARE
Selira Dian
Jurnalis paruh waktu. Pembaca purna waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here