Perkawinan Intelektual Fotografi dan Sastra

0
93

“Saya iri dengan sastra. Seorang penulis hanya butuh pensil dan kertas bekas untuk berkarya, sementara fotografi butuh serangkaian piranti digital untuk menghasilkan gambar,” ujar Erik Prasetya.

“Namun fotografi membuat imaji menjadi konkrit, hal tersebut yang tidak bisa sastra berikan,” tanggap Ayu Utami.

Begitulah sepenggal dialog kolaborasi antara novelis, Ayu Utami, dan fotografer, Erik Prasetya, dalam Dialog Fotografi dan Sastra: Estetika Banal dan Spiritualisme Kritis, Sabtu (31/01) di Galeri Salihara, Jakarta Selatan.

Acara tersebut sekaligus membahas tiga buku, On Street Photography dan Street dan Rain & Style karya Erik Prasetya dan Simple Miracle serial Spiritualisme Kritis karya Ayu Utami. Sebagai pasangan hidup, Erik dan Ayu tentunya saling memengaruhi dan menemukan titik temu dalam bidang masing-masing. Hal tersebut membuahkan karya, hasil perkawinan intelektual keduanya dalam dialog interaktif sastra dan fotografi.

Dialog antar sepasang suami-istri itu adalah acara pamungkas dari pameran fotografi karya Erik Prasetya, seorang Fotografer paling berpengaruh di Asia menurut survei 20 Most Influential Asian Photographers 2012. Pameran yang dibuka sejak 18-31 Januari tersebut menampilkan 40 lukisan cahaya yang dihimpun Erik sejak 25 tahun silam. Estetika banal adalah konsep yang angkat Erik sebagai benang merah yang menghubungkan semua foto karyanya.

Menurut Erik, hasil karyanya adalah catatan fotografis kota Jakarta sejak 25 tahun silam (1989-2014). Semua foto punya ceritanya tersendiri, napak tilas tata kota Jakarta dan kehidupan masyarakat di waktu itu. “Sebagian foto ditampilkan hitam putih fokusnya pada landscape foto tersebut dan sisanya warna digital fokusnya pada manusia yang ada dalam situasi tersebut,” tutur Erik.

Kebanalan imaji sang fotografer dalam menangkap setiap momen dari serangkaian karyanya, dapat disimpulkan macet dan polusi sudah akrab dengan kota Jakarta sejak dahulu. Sesak penumpang dalam angkutan umum, lalu lalang karyawan kantor di kawasan Sudirman hingga yang terunik keramaian diskotek yang tetap berpesta seolah tak peduli saat pada peringatan tragedi 1998.

Warna hitam putih pada foto-foto tersebut semakin membawa pengujung seolah masuk dan merasakan keadaan kota Jakarta pada waktu itu. Salah satu karya Erik lainnya dengan warna digital adalah ia menangkap fenomena selfie dan wefie yang sedang digandrungi masyarakat Indonesia.

Erik mengatakan dunia fotografi tidak selugu dahulu, kala dengan mudahnya memotret suku Asmat atau wanita Bali yang bertelanjang dada tanpa ada tuntutan dari objek yang foto. Saat ini manusia sudah sadar kalau dirinya dimanfaatkan oleh fotografer untuk kepentingan pribadinya.

“Seorang fotografer mempunyai hutang pada objek yang ia foto, dan hutang itu tidak akan pernah terbayar. Itulah beban sebagai seorang fotografer, banyak hutang sana sini,” ungkap Erik memaparkan kelemahan fotografi.

Jika fotografi bercerita dengan visual, lain halnya dengan sastra yang bersenjata bahasa dalam serangkaian kata-kata. Memahami karya sastra membutuhkan penalaran ekstra dan kelihaian dalam berimaji, karena lain orang lain pemikiran yang menghasilkan imaji yang berbeda dalam menangkap maksud dari kata-kata tersebut.

“Itulah kelemahan sastra yang tidak konkret, tapi sastra tidak punya hutang pada orang yang ia ambil sebagai inspirasi,” ujar Ayu Utami.

Spiritualisme kritis adalah tema yang dibuat Ayu untuk menawarkan cara bersikap terbuka melalui seni. “Inspirasinya dari novel terdahulu saya, Bilangan Fu (2008) dan akan saya kembangkan terus dalam karya saya selanjutnya,” kata Ayu.

Dalam dialognya, Ayu melontarkan kalimat-kalimat yang membuat penonton berpikir tentang spiritualisme ketuhanan dalam Al-Kitab. Kisah Adam dan Hawa telanjang di tengah hutan menjadi sorotannya, kisah lelaki dan perempuan yang memakan buah ilmu pengetahuan kemudian menjadi sadar kalau mereka telanjang, sejak itu mereka tidak lugu lagi.

Wanita lulusan sastra Rusia tersebut mengatakan, mengetahui adalah kesalahan pertama bagi manusia, karena dari situlah manusia lepas dari kenyamanannya, karena setelah tahu mereka tidak mungkin sebahagia sebelumnya. Kalimat-kalimat yang diutarakan Ayu dapat memancing kegelisahan penonton yang hadir, betapa sebenarnya manusia hidup dalam ketidaknyamanan karena terlalu banyak mengetahui sesuatu.

Serbuan foto dan serangan kata-kata melebur dalam harmoni yang selaras, disadari atau tidak keduanya bak hutan dan hujan yang saling membutuhkan. Sekonkrit apapun foto tetap membutuhkan kata-kata dalam caption sebagai penjelas foto. Dan sastra juga membutuhkan foto sebagai pembentuk imaji agar tidak mengawang terlalu jauh. Kedua karya seni tersebut menciptakan harmoni yang tentunya menjadi bahan perenungan bagi masyarakat bahwa sebuah karya tidak dapat angkuh berdiri sendiri.

SHARE
Selira Dian
Jurnalis paruh waktu. Pembaca purna waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here