Hidup dengan Berteater

0
20

Matahari telah tenggelam di barat ketika saya sampai di sebuah rumah, dekat kali kecil di Lenteng Agung, Jakarta. Ribka Maulina Salibia, istri Harris Priadie Bah menyambut sambil merapikan rumah yang memang sedikit berantakan. Saya disuruh menunggu di ruang tamu.

“Mas Harrisnya lagi mandi, tunggu sebentar ya. Kalau mau minum, ambis sendiri aja,” katanya sambil tetap membersihkan rumah.

Di dinding ruang tamu, terjajar rapih foto-foto Harris dan keluarga, serta poster-poster pementasan Teater Kami sejak berdiri 25 tahun silam. Ada juga medali penghargaan juara dua dan piala juara satu olahraga wushu, yang pernah diraih Salto Genesis Salibia, anak kedua Harris dan Ribka.

Awalnya, saya ingin mewawancarai Harris Priadie Bah perihal tradisi Tionghoa mempengaruhi proses berteaternya. Namun, obrolan malah mengalir tanpa bisa saya kontrol.

Ketika Harris keluar dengan rambut yang masih basah, saya meminta izin untuk merekam seluruh pembicaraan. Dan saya mulai bertanya kepada pendiri Teater Kami ini.

Sebagai keturunan negeri Tirai Bambu, apakah ada kesenian Tionghoa yang mempengaruhi kegiatan Harris Priadie Bah berteater?

Aku sebetulnya banyak terpengaruh pada apapun. Lingkungan, agama, sosial politik dan sebagainya. Tetapi kalau konteksnya secara spesifik bagaimana kesenian Tionghoa mempengaruhi kerja teaterku, sepertinya tidak ada secara khusus.

Mungkin pernah sekali-dua kali ada tradisi yang aku pakai dalam beberapa pertunjukan yang aku buat. Salah satunya itu pertunjukan Telur Matahari pada tahun 2003 di Graha Bhakti Budaya. Adegan penutup itu dibuat seolah para pemain membanting buah semangka dengan menggantinya mejadi bola dunia.

Dalam tradisi Tionghoa, membanting semangka biasa dilakukan sebelum keluar dari rumah duka ketika mau menguburkan seseorang yang meninggal. Hal itu sebagai simbol bahwa ada sebuah kesegaran yang sudah hancur.

Mengapa tradisi Tionghoa tidak begitu berpengaruh?

Karena aku bukan seniman tradisi. Aku bukan seniman Tionghoa. Aku adalah seniman kontemporer yang membuat naskah senyamanku. Jadi aku tidak terikat pada idiom-idiom atau background tradisi. Tapi bukan berarti tidak akan pernah. Mungkin ke depan aku akan menggarap naskah tradisi.

Kalau kesenian tradisi Tionghoa sendiri itu yang seperti apa sih?

Salah satunya ada cokek, tehyan, wayang potehi, dan kalau teaternya itu ada cerita klasik Sie Jin Kwi, atau Sampek Engtai. Sampek Engtai itu semajam Romeo and Juliet versi Mandarin. Mungkin untuk konteks yang lebih familiar, kesenian Tiongkok selalu identik dengan beladiri, seperti barongsai.

Salah satu dialog dalam Trilogi Bahdisebutkan kalau Harris itu adalah Cina yang tidak punya toko. Apa yang menyebabkan lahirnya dialog itu?

Ini sebenarnya lebih ke identifikasi sederhana. Kalau orang Tionghoa maka ia harusnya berdagang. Kalau Padang, buka warung makan. Kalau Madura, jualan besi dan kayu. Aku memang tidak dipaksa oleh orang tua untuk berdagang. Tapi itu sebagai gimmick yang aku dekontruksi agar menjadi menarik.

Penyederhanaan seperti itu harus kita hilangkan. Tidak semua keturunan Tiongkok itu berdagang. Tidak semua orang Jawa jadi tukang becak. Di pedalaman Kalimantan sendiri banyak keturunan Tiongkok yang jadi tukang becak.

Anda sendiri melihat seberapa besar kesenian Tiongkok mempengaruhi kesenian di Indonesia saat ini?

Tidak terlalu banyak untuk kesenian kontemporer. Berbeda dengan Jepang dan Eropa, yang lebih masif. Kalaupun ada, itu merupakan asimilasi antara budaya Tiongkok dan Nusantara. Kehadirannya lebih kepada memperkaya warna kesenian kekinian.

Bicara tentang teater tradisi dan modern, apakah masih ada pertentangan seperti itu?

Dikotomi itu sudah lebih tipis, semakin kabur batasannya. Karena yang dulu dianggap modern, lalu menjadi polarisasi dan terus mengulang pola yang sama, hal itu sudah menjadi tradisi. Karena tradisi itu kan dipahami sebagai tindakan yang terus-menerus mengulang. Seperti tradisi Teater Kami selalu bermain tubuh dalam setiap pementasannya. Di lain sisi, yang tradisi juga bisa terlihat modern.

Namun masih ada orang-orang yang dengan tegas memisahkan tradisi dengan modern. Seperti Wayang Orang Bharata, Kelompok Mis Tjitjih, dan banyak lagi. Dalam pengertian, mereka tidak menggunakan naskah, hanya melakukan improvisasi. Dan hal ini pun tetap penting –kalau memakai jargon pemerintah- untuk dilestarikan. Karena memang kita tidak serta-merta tercerabut dari akar. Karena banyak nilai tradisi, tidak hanya dari kesenian juga permainannya, yang lebih merangsang sensor motorik pada tubuh kita ketimbang nilai-nilai modern.

Aku termasuk generasi yang masih beruntung karena masih mengalami permainan-permainan tradisi itu.

Kita kembali ke teater. Kalau di Indonesia, teater sebagai profesi apakah bisa dilakukan?

Ini adalah hal yang paling mendasar sekaligus paling melangit. Karena seseorang memang menginginkan hidup yang ideal, namun di satu sisi harus ada kenyamanan untuk memenuhi dasar-dasar itu. Bukan hanya teater, seni pertunjukan memang belum bisa memberikan garansi hidup ideal bagi para pegiatnya. Dari zaman WS Rendra pun, ia tidak hidup dari teater tapi dari royalti kepenyairannya. Nano Riantiarno pun tidak hidup semata-mata dari teater.

Kalau aku pribadi, aku mengatakan teater itu bisa menghidupi aku dan keluarga. Aku tak memilik pekerjaan lain selain berteater, tentu dengan banyak variannya. Sebagai pengajar,sebagai juri, atau penulis, misalnya. Namun itu semua dasarnya dari teater. Aku sudah membuktikan dengan keluarga, di mana anakku sekarang telah kuliah di salah satu kampus bergengsi di Jakarta, juga melalui teater.

Namun penghasilan ideal yang didapatkan dari teater itu pun sangat relatif. Namun apapun profesi yang dilakukan secara sungguh-sungguh itu pasti menghasilkan sesuatu yang positif. Selalu beresiko memang. Namun kesetiaan terhadap teater itulah yang bisa membuat aku bertahan hidup sampai saat ini.

Aku menyayangkan bahwa teater itu hanya dianggap sebagai pelarian. Kita harus tahu dulu ngapain sih kita berteater? Tujuan utama itu yang banyak dilupakan oleh para pegiat teater. Karena itu yang namanya perselingkuhan terhadap teater itu sangat tak bisa ditolerir.

Batasan-batasan seperti apa yang membuat seseorang dibilang selingkuh dalam konteks teater?

Dulu, tahun 90an itu sangat tren apa yang disebut dengan dubbing atau sulih suara. Di televisi itu banyak telenovela Amerika Latin. Orang-orang teater, kalau pada waktu itu kamu datang ke Taman Ismail Marzuki, tidak ada yang bisa kamu jumpai di sana. Semua menyebrang ke dunia dubbing itu.Tidak ada yang latihan. Namun setelah dubbing sepi, mereka balik lagi berteater.

Nah, hal itu yang aku maksud dengan selingkuh, ketika mereka dengan enaknya meninggalkan teater dan balik lagi ketika mengganggur. Mungkin masih bisa aku tolerir kalau dia tetap melakukan latihan, di sela-sela dubbingnya. Setidaknya jalan dua-duanya. Dan, aku juga tak mau mereka belindung di balik kesenimannanya untuk tidak menafkahi keluarganya.

Aku sendiri tidak kuliah, namun aku bisa menjadi dosen di kampus bergengsi. Itu semua merupakan hasil komitmen aku dengan teater dan aku tidak berselingkuh.

Kalau teater sebagai industri sendiri, apakah bisa dilakukan?

Kalau industri yang bisa melayani hasrat-hasrat artistik dan hiburan dari penonton, itu bisa dilakukan. Teater Koma sudah melakukan itu, dan bisa.

Tapi Kalau untuk industri dalam pengertian kuantitatif itu agak berat. Infrastruktur di sini pun belum memnungkinkan kita untuk melakukan itu. Barangkali itu pula yang menjadi kelemahan teater modern yang selalu terpaku pada ruang tradisional pertunjukkan. Berbeda dengan teater tradisi yang bisa bermain di mana pun.

Aku kira, tidak relevan kita membuat teater sebagai industri yang masif. Dan tidak ada kepentingan juga untuk menjadi industri.

Mengapa teater tidak harus menjadi industri yang masif?

Kita sebenarnya tidak melayani kemassalan seperti itu. Masing-masing kesenian itu punya habitatnya sendiri, punya hukumnya sendiri dan mestinya hidup seperti itu. Dalam Manifesto Kami, juga disebutkan kalau filem boleh mengambil apapun yang dimiliki oleh seni, namun ia tidak bisa mengambil apapun dari keringat, bau dalam teater.

Jadi bukan teater yang membatasi dirinya, namun memang teater sendiri itu terbatas. Ia adalah pertunjukan yang intim. Bayangkan bila kita menonton teater dari jarak 100 meter. Atau memonton teater dengan layar lebar. Itu berbeda. Dan aku tidak melihat itu sebagai sebuah kebutuhan dalam teater. Karena mahalnya teater itu kini dan di sini. Itu yang membuat aku berpendapat bahwa tidak perlu untuk membuat teater sebagai industri yang massal.

Di Jepang, di kampung-kampung, ada sebuah bangunan rumah sekitar 200 meter yang dibuat sebagai gedung pertunjukan yang sangat reprensetatif. Aku awalnya menduga tempat seperti ini akan sepi, karena saat saya datang masih sepi. Namun ternyata penuh. Itu menandakan bahwa seni pertunjukan merupakan hal yang berbeda, bukan semata-mata bisa dibuat massal.

Dan bagiku sendiri, penonton itu penting namun bukan segalanya. Yang paling penting adalah kualitas. Kalaupun ternyata penontonku bisa dihadiri oleh 1000 orang, itu adalah keberhasilan publikasi. Tapi itu bukan targetku. Targetku itu, penonton merasa intim dan dapat menerima sari-sari yang aku sampaikan. Bukan dengan bantuan teknologi yang berlebihan. Karena teater itu tubuh, suara, rasa. Itu yang mahal dengan teater.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here