Antara Minggu Tenang, Boxing Day dan Heterogenerasi

0
20
Dok. Kremmasi IISIP
Dok. Kremmasi IISIP

Kampus IISIP Jakarta dalam seminggu belakangan tengah mengalami rehat minggu tenang menjelang Ujian Akhir Semester. Tujuan diadakannya minggu tenang ini mungkin untuk rileksasi pikiran mahasiswa dari tekanan jelang ujian. Atau bisa juga memberi tambahan waktu untuk belajar di rumah. Namun bagi saya dan beberapa teman, minggu tenang adalah minggu terakhir di mana kita harus menyelesaikan cicilan administrasi kampus yang belum selesai demi mengikuti ujian. Jika belum lunas, bisa dipastikan anda tak bisa ikut ujian.

IISIP bak warung pinggir jalan yang kerap menuliskan tagline dilarang ngutang. Jikapun terpaksa ngutang, mahasiswa akan diolok-olok secara langsung oleh Badan Adminisrasi Keuangan (BAK) dan dosen walinya. Beberapa teman saya pernah mengalami hal pahit itu. Ia diteriaki agar segera melunasi keuangan secepatnya. Menyebalkan.

Sialnya lagi, saya belum mendapat kepastian dari ayah kapan uang kuliah hendak dibayarkan. Orang tua memang selalu membuat anaknya ketar-ketir. Sungguh. Di tengah kekhawatiran tidak bisa ikut ujian dan dipermalukan orang-orang penting di kampus suasana Natal datang untuk sedikit menghibur saya. Di mana ada natal, di situlah ada kesenangan. Pesta berhamburan di mana-mana. Sayapun turut ambil bagian dalam kegembiraan itu.

Sehari sesudah Natal, ada dua gelaran penting yang hadir di jadwal saya. Yang pertama, tentu saja “Boxing Day” yang rutin dilaksanakan Liga Inggris tiap tahunnya. “Boxing Day” sendiri adalah kado Natal paling istimewa bagi pecinta sepakbola. Di saat mayoritas liga-liga Eropa meliburkan diri jelang musim dingin, Liga Inggris justu memanaskan suasana dengan menggelar pertandingan pasca Natal.

Yang kedua, acara musik Heterogenerasi yang diadakan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di IISIP Jakarta yang menamai diri sebagai Kreasi Musik Mahasiswa IISIP atau lebih familiar dengan sebutan Kremmasi.

Saya dihadapkan pada pilihan sulit. Satu sisi, saya ingin menyaksikan tim kebanggaan saya bermain di laga penting demi stabilnya posisi di papan klasmen liga. Di sisi lain, saya juga ingin menyaksikan acara musik tersebut. Apalagi seorang kawan sudah menitipkan amanah kepada saya untuk membuat tulisan. Walaupun tempat saya nonton bareng sepak bola dan acara Kremmasi itu hanya berjarak seperlemparan batu, tetap saja membuat dilematis.

Akhirnya saya putuskan untuk tetap menonton sepakbola terlebih dahulu.

Empat puluh lima menit pertama pertandingan sudah ditiupkan. Tim yang saya dukung sudah unggul 0-3. Di tengah break jelang babak kedua, saya menyempatkan diri untuk mampir ke acara musik itu. Suasana terlihat amat lengang. Young de Brock sedang menyelesaikan setlist-nya. Band yang mengusung jenis musik rock and roll ini mampu memikat beberapa orang yang hadir. Pogo dan sing a long menjadi menu yang harus ada di bibir panggung. Permainan kelompok musik ini cukup menarik. Frontman dari band ini tentu saja sang vokalis berlogat Jawa dan sang gitaris yang bergitar Epiphone. Gitar yang sangat indah untuk dipandangi. Hanya gitarnya, bukan yang sang pemain gitar.

Selepas Young de Brock pentas, saya kembali menyaksikan laga sepakbola tim kesayangan saya. Salju turun begitu deras di tengah pertandingan sehingga menggangu pandangan mata. Menyebalkan. Pada akhirnya, tim kesayangan saya berhasil menuntaskan laga dengan skor 1-3. Hasil yang cukup memuaskan. Selesai pertandingan sepakbola, saya kembali ke arena di mana alkohol, asap dan musik, bersahutan satu sama lain.

Di tengah kerumunan orang-orang yang memadati ruangan, Semoga Berkah tengah tampil dengan lantunan musik garage yang genit. Band ini mengingatkan saya akan band garage asal Yogyakarta, Festivalist. Di tengah kehanyutan menyaksikan penampilan mereka, teman saya mengiimi pesan ajakan untuk sekedar minum-minum. Ajakan ini tentu semakin membuat dilema.

Pada akhirnya, kuasa alkohol tak bisa membuat saya menolak. Saya terpaksa meninggalkan gelaran musik ini. Pun saya memaksakan untuk tinggal dan menonton hingga acara selesai, hanya dahaga yang akan saya rasakan di sana. Hal ini dikarenakan tempat yang dipilih oleh teman-teman dari Kremmasi terbilang cukup memberatkan dompet para mahasiswa yang ingin sekedar jajan.

Untuk bir botol dihargai sekitar lima puluh ribu rupiah, itu sudah temasuk pajak dan uang jasa membuka botol dan menyajikannya kepada pengunjung. Ya, membuka botol dikenai biaya. Beer house memang bagus untuk acara menggelar acara musik, namun tidak untuk disinggahi minum-minum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here