Gegap Gempita Ulang Tahun yang Tidak Direstui

0
7

Hari itu adalah Jumat perdana di bulan Desember. Kampus IISIP Jakarta tengah disibukan dengan beberapa kegiatan seperti seminar dan diskusi publik, kompetisi bola basket, kegiatan belajar-mengajar yang membosankan, serta obrolan bebas yang dipastikan selalu hadir di setiap sudut tongkrongan.

Jumat ini terasa spesial karena Kampus Tercinta kami berulang tahun yang ke 61. Namun sepanjang mata memandang, tak ada acara potong kue ataupun tumpeng yang dipublikasikan para petinggi kampus kepada mahasiswa. Apakah ulang tahun almamater kami terasa membosankan tanpa adanya selebrasi di kampus dan acara potong kue –pun di sekretariat rektorat, diam-diam para petinggi kampus memotong kue tanpa kehadiran mahasiswa? Tentu saja tidak. Karena ada acara tahunan yang diselenggarakan mahasiswa –tanpa sepeser pun dana dari kampus- Disini Kita Berjumpa edisi enam.

Disini Kita Berjumpa adalah sebuah acara musik yang diselenggarakan menjelang tutup tahun. Pada edisi kali ini, terjadi perubahan jadwal semula akan dihelat pada 22 November. Entah akibat pertimbangan apa, acara digelar pada 5 Desember. Di edisi ke-enamnya ini, anda bisa melihat 13 kelompok musik lintas generasi dangenre berbagi panggung di Maitrin Cafe, 30 kilometer dari Lenteng Agung, tempat bertenggernya Kampus Tercinta. Yang patut diapresiasi lebih dari acara ini adalah konsep “Do It Yourself” yang ditawarkan para penggiatnya, yang akan menjadi subyek utama untuk dibicarakan di sini, pun pada akhir acara terjadi kecemasan lantaran dana masih kurang.

Seperti yang kita tahu, jika mahasiswa ingin membuat sebuah gelaran acara di dalam lingkungan kampus, haruslah melewati batas birokrasi terlebih dahulu kepada para petinggi di kampus, yang tentunya akan memakan waktu dan pertimbangan yang rumit. Hal itulah yang sepertinya ingin dihndari penggiat acara ini. Pilihan mengadakan di luar kampus adalah pilihan terbaik guna menghindari repotnya birokrasi yang diterapkan Kampus Tercinta. Sesederhana itu.

Dengan mengumpulkan dana melalui cara menjual sticker, kaos, dan lain sebagainya, acara ini berhasil dilaksanakan bertepatan dengan ulang tahun kampus. Bahkan di dalam lokasi pementasan pun, masih ada kotak partisipasi bagi penonton yang ingin menyumbangkan uangnya demi menutupi kekurangan dana acara nan sakral ini.

Persetan dengan meminta sposor demi mewahnya pagelaran, jika kita bisa melakukan semuanya sendiri, kenapa tidak? Bahkan untuk membeli minuman beralkohol pun, haruslah berkolektif ria. Viva DIY.

Beberapa grup mulai tampil saat saya tiba di lokasi. Senandung Skandal Romantika sedang menyelesaikanset-nya di panggung. Band beraliran ska ini mencoba menghibur penonton dengan suntikan nada-nada yang aduhay. Dua buah cover lagu disematkan sebagai penutup aksi. ‘Galih dan Ratna’ milik Guruh Soekarno Putra dan ‘Selamat Jalan Kekasih’ yang dipopulerkan oleh Chrisye dieksekusi dengan baik. Terlepas dari penampilan vokalis yang membosankan, grup ini patut diacungi jempol atas energi yang mereka hasilkan.

Nation Ska selanjutnya membajak panggung. Grup yang masih beraliran ska ini membawakan beberapa lagu Rancid sebagai bumbu untuk menghangatkan suasana. Pogo dan moshing mulai dilaksanakan. Sang vokalispun disematkan syal Persija Jakarta di lehernya, he’s tiger bois. Support yer local club, dude.

Namun headline hajatan ini tentu saja Lemon Yellow Sun, yang dengan apik membawakan ‘Killing in the Name’ dari Rage Against the Machine. Penonton tumpah ruah di bibir panggung. Beberapa mengambil micuntuk mendaulat diri sebagai Zack de la Rocha dengan kepalan tangan di udara. Suasana pecah seketika. Bahkan beberapa kali Arimami (basis) diangkat ke udara oleh penonton.

Acara ditutup oleh performa DJ. Cukup menyebalkan memang. Ini acara kami dan tampilnya DJ sebagai penutup hanya merusak suasana.

Pulang adalah jalan terbaik daripada tenggelam ke dalam riuh rendah musik yang sudah direkam olehturntable. Hari ini berakhir sudah. Mendengarkan ‘Day is Done’ milik Nick Drake via handphone adalah pilihan cermat daripada mendengarkan musik yang dihasilkan DJ tersebut sebagai penutup.

SHARE
Heri Susanto
Amateur Writter. Six String and Horriable Voice. Coffee Addict. Half Hipsters.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here