Subsidi Tepat Guna untuk Semua

0
22

Bangun tidur aku disambut berita dari kawan-kawan bahwa di kampusku ricuh, demo penolakan kenaikan BBM dini hari itu. Aku bingung dong, ngapain demo malem-malem? Oh, ternyata tepat pukul 00:00 hari itu, BBM bersubsidi resmi naik harganya. Premium dan Solar masing-masing menjadi Rp 8.500 dan Rp 7.500. Jelas aku ketinggalan berita. Soal pengumuman BBM ini sudah diangkat sejak pukul 9.00 malam. Semalam aku tidur dari jam delapan malam. Hehe..

Aku keluar kamar menuju dapur untuk membuat kopi. Lalu keluar rumah untuk ngopi di teras. Ternyata sudah ada mbahku, Mbah Jarwo, yang sedang asik merokok ditemani secangkir kopi.

Wis tangi, nduk? Sini sarapan dulu. Ada gorengan,” kata Mbah Jarwo sambil menunjuk sepiring gorengan di meja sebelahnya.

Inggih, mbah. Aku mau ngudut dulu,” kataku sambil mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya.

“Semalam kamu ndak ikut ngantri di pom bensin?” tanya si mbah.

“Enggak, mbah. Aku aja baru tahu BBM naik barusan pas bangun,” kataku sambil meniup kopiku.

Soal BBM yang akan naik ini kabarnya memang sudah tersebar sejak sekitar sebulan yang lalu. Tanggapanku masih sama seperti ketika BBM akan dinaikan tahun lalu. Aku masih setuju dengan kebijakan pengurangan subsidi ini. Ya sudah naikkan saja. Memang terasa tidak sensitif terhadap ‘penderitaan rakyat’ apabila didengar oleh kawan-kawan di kampusku. Tapi tetap saja, kupikir pengurangan subsidi BBM merupakan keputusan yang bagus. Setidaknya untuk saat ini.

“Mbah, sampeyan setuju ndak sama kebijakan pengurangan subsidi BBM? “

“Aku sih  dari dulu sih setuju. Asal subsidi yang dicabut jelas larinya. Ke sektor transportasi, misalnya. Tapi bukan BLT ya. Soalnya memang dari dulu subsidi ndak pernah tepat sasaran,” kata si mbah sebelum menghisap rokok kreteknya.

Ah, iya ya. Daripada untuk subsidi BBM yang tidak pernah tepat sasaran penggunaannya, lebih baik dialokasikan ke sektor lain. Sektor transportasi seperti yang dibilang Mbah Jarwo, misalnya.

Kalau menurutku, lebih baik dana subsidi itu dialokasikan buat menyokong pendidikan dan kesehatan. Daripada BBM disubsidi, output-nya hanya asap kendaraan yang mengganggu pernafasan, akan lebih bagus jika output-nya adalah rakyat yang pintar dan sehat. Kudengar, presiden kita yang sekarang sudah menyiapkan kartu-kartu ajaib yang menjamin kesehatan dan pendidikan rakyat.

“Iya, mbah. Aku juga setuju sejak tahun lalu. Kan daripada hanya terbuang jadi asap kendaraan, lebih baik dialokasikan ke sektor kesehatan dan pendidikan.”

“Transportasi juga mestinya. Sampeyan mikir ndak kenapa orang lebih banyak naik motor? Karena sistem tranpostasi kita kacau. Orang yang naik angkutan umum itu ya kalo ndak bisa naik motor, ya karena tempat kerjanya dekat stasiun.”

Aku pun tercenung. Iya juga ya. Transportasi juga termasuk sektor yang harus menjadi sasaran pengalokasian dana subsidi. Sistem transportasi kita kacau. Aku pun malas betul naik kendaraan umum untuk beraktivitas sehari-hari setelah aku bisa mengendarai motor.

Hmm, sepertinya pemerintahan kita memiliki banyak hal yang harus dirapikan setelah memutuskan untuk mengurangi subsidi BBM. Kita lihat saja selanjutnya akan bagaimana perkembangan sektor-sektor yang aku dan Mbah Jarwo sebutkan tadi. Semoga terjadi perkembangan menuju ke arah yang lebih baik setelah ini. Ya, semoga saja.

SHARE
Sherly Febrina
Part-time journalist, part-time theatrical prostitute, full-time human being. Loves kretek like loving her life. Sounds paradox eh? ;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here